Tampilkan postingan dengan label Daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Seriously?!

Sejak pindah tim, saya hanya punya sedikit waktu untuk cuap-cuap di socmed. Blog mati suri, twitter kadang-kadang (karena masih bisa disambil di stasiun atau kereta), sedangkan Fb tamat. Meski begitu, saya masih (dan selalu maksain untuk) update berita nasional, dari yang berat sampai yang ecek-ecek. Kesimpulan saya dari semua berita yang seliweran itu : Seriously???!!

Dari masalah narkoba Raffi ahmad yang akhirnya ikut-ikutan dibahas juga tentang hubungannya dengan tante Wanda..

Kisruh intenal Partai Nasdem..

Berita di Jakarta Post tentang kasus Pajak keluarga istana..

Penurunan popularitas Partai Demokrat..

dsb,dsb..

dan yang terbaru tentang kasus suap daging sapi yang menyeret presiden PKS.

Sungguh semuanya drama. Seriously??!!

Sebagai pembaca/pemirsa dari media, saya ga tau mana yang benar, wong carut marut kek kaya sinetron gini. Apalagi drama yang terakhir disebut, wah ratingnya paling tinggi deh kayanya. Saya sendiri dari dulu ga pernah percaya parpol yang sukanya bawa-bawa agama, entah ngaku sebagai afiliasi dari ormas islam atau terang-terangan mengklaim sebagai partai dakwah. Hehe, engga deh. Makasih.

Bukan apatis apalagi liberal, saya muslim juga kok. Tapi kalo agama dipolitisasi, ya males juga. Dan, ketika beneran kejadian juga seperti kasus suap daging sapi, aduh sebagai seorang muslim jadi malu banget. Tuh kaan. Emang sih ga ada yang suci, namanya juga manusia ya, tapi tetap aja..

Ah kenapa jadi berat banget nih tulisan sore-sore. Tumben. Tumben juga bisa nulis. Hehe. 


Rabu, 24 Oktober 2012

Hela Nafas

Sore ini saya menghela nafas panjang. Dalam sekali. Seolah ada beban emosi yang ingin saya lepaskan. Iya, tentu saja ada. Sejak kapan manusia hidup tanpa masalah? Saya rasa, mereka yang kelihatan tidak bermasalah itu dua kemungkinannya. Satu, dia pandai menyembunyikan masalah. Dua, dia pandai lari dari masalah. Saya ada dimana? Bukan dua-duanya. Saya tidak suka dramatisasi. Saya juga tidak pandai bersembunyi. Masalah bagi saya adalah sesuatu yang harus dihadapi sewajarnya.

One day, somebody told me that my life is too good to be true? Oh kidding. But thank you for seeing me that way. It means I'm good in hiding my flaws. Just like others, I do have flaws. Tapi apakah harus dibicarakan dan diumbar di social media? Tentu tidak. Menurut saya, kita tidak perlu bertelanjang di dunia maya. Apa urusan orang lain untuk tahu luar dalam diri kita.

Ketika suatu masalah terblow-up di social media, dalam penalaran saya, orang-orang yang tidak mengenal kita hanya akan menghakimi, mem-bully, atau menyudutkan kita di posisi yang tidak kita inginkan. Salah? Belum tentu. Menurut saya itu sah-sah saja. Toh setiap orang bebas berpendapat dan memproses informasi sebatas input yang mereka terima. Apalagi di Indonesia ini variabel tambahannya banyak : perbedaan value, pandangan agama, pandangan politik, de-es-be. Lalu kita harus marah kan menyikapinya? Tergantung, sejauh mana penyimpangan informasi yang salah proses tadi beredar. Kalau kelewatan sih, itu bukan salah proses lagi, tapi fitnah. Misalnya yang dilihat A, yang disimpulkan bukan A++, tapi malah jadi B, C. Bahkan F. Kalau sudah begitu, ya wajar lah marah. Kita juga manusia kan. Tapi kalau orang lain sekedar mengartikan informasi berdasarkan apa yang dilihat dan didengar langsung, ya jangan langsung marah. Manusia kan bukan Tuhan yang Maha Tau segalanya. Maklumin ajalah kalau kejadiannya A, diartiinnya A++. si ++ itu anggap aja variabel tambahan yang bikin versinya aslinya jadi beda. Bisa lebih drama, bisa juga sebaliknya. 

Misalnya gini, ada orang pakai baju seksi banget. Nah, persepsi orang yang melihat kan lain-lain. Ada yang biasa aja, ada yang malu melihat aurat diumbar, ada yang menganggap keren dan sebagainya. Si mbak yang pakai baju seksi tadi ga berhak membatasi pikiran orang lain saat mereka melihat dia. Ya memang sih pakai baju seksi kek, pakai gamis kek, itu urusan yang memakai. Tapi urusan orang yang melihat juga dong punya pendapat tentang apa yang dilihatnya. Dalam benak si Mbak, mungkin kejadiannya A. Tapi untuk orang bisa jadi A++, atau A--. Ya biarin ajalah. Konsekuensi adanya perbedaan.

Jadi, jangan gampang marah atau gampang merasa dihakimi. Ga usah juga sedikit-sedikit defense dengan  kalimat, "itu urusan saya", atau " itu urusan saya, pacar saya, dan Tuhan". Oh right, jadi urusan kita yang melihat bagaimana? Harus seiya sekata meskipun ga sesuai nurani, gitu? Bukankah kita punya hak yang sama dalam berpendapat. Dan bukankah kita punya hak yang sama untuk berbeda? Jalan tengahnya, tau sama tau ajalah.

Saya tidak menghakimi anda, saya hanya berpendapat. Maaf jika saya tahu rahasia terdalam hidup anda. Jika anda bertanya, bagaimana bisa? tanyalah pada Tuhan. Sayapun tidak tau jawabannya karena saya tidak pernah merencanakannya. Hidup saya cukup damai, dan jika bisa memilih, tentu lebih baik saya tidak tau. Jika anda merasa dihakimi, berarti suara nurani andalah yang sedang menyapa :)

Jumat, 19 Oktober 2012

Bala Bantuan Datang

Hari ini saya bisa absen lebih pagi dari biasanya. Kenapa? Karena bala bantuan telah datang. Mamah tersayang, disela-sela kegiatan mengurus persiapan pernikahan adik saya 2 minggu lagi, masih bisa menyempatkan diri untuk mencarikan asisten rumah tangga untuk saya dan kakak saya. Benar ya, kasih ibu sepanjang masa :)

Makasih ya mah, makasih juga @putriangrela, adik saya yang paling cantik, yang sudah mau repot-repot mengantar art ke Depok. Kiss hug dua-duanya :*

Semoga drama-drama art ini segera berakhir yah. Amin.

Jumat, 05 Oktober 2012

Cooking award

Engga, saya ga menang Masterchef. Boro-boro, daftar aja engga. Saya lebih suka nonton atau ngomentarin Masterchef, hehe..

Cooking award buat saya simple aja. It is when my husband and especially my son love my cook. Taunya darimana? Saya juga ga tau, karena so far masakan sold out selalu. Entah karena cocok di lidah atau karena ga ada pilihan lain.  Hehe. Saya juga ga berusaha cari tau sih, takut kecewa ah, sampai suatu hari Atha's teacher told me that he is refusing food that is served by the school. Atha always said like this in the school:

"Atha mau sayur mama", or

"Atha mau tahu bikinan mama", or

" Atha mau makanan mama", or

"Atha mau makan di rumah aja", or

"Mama cepet sembuh ya, kalau mama sembuh nanti mama masakin Atha ya", or yang paling hits adalah..

"Mama Atha hebat, masakan mama Atha enak"

Itu yah hati saya seneng banget diceritain begitu. GR berat nih. Tolong bantu tangkepin hidung saya dong..

Rasaya terbayar deh capeknya masak. Ga usah menang masterchef deh, asalkan Atha habiskan makanannya, buat saya itu udah cukup banget.

Pasca tumbang kemarin husband minta saya untuk menurunkan standar saya. Ga usah ideal-ideal amat lah. Oke, saya setuju, but not in cooking. Saya mau memastikan asupan gizi anak saya terpenuhi dengan baik, meskipun itu berarti lebih melelahkan. But I tell you, when Atha said so, I feel like.. "hey, I made it!".

-sorry narsis-

Selasa, 02 Oktober 2012

Harga rumah naik, so....??

Mulai bulan Oktober ini, Jalan Raya Kartini di Pancoran Mas-Depok, which is jalan raya di depan rumah saya mengalami pelebaran. They said waktu pengerjaannya sampai akhir Desember nanti. Bisa kebayang beberapa bulan ini bakal painful macetnya. Untungnya, jalan raya bukan satu-satunya alternatif. Jarak rumah saya ke stasiun kereta hanya 100m. Sangat possible untuk jalan kaki. Don't worry be happy sih. Tapi tetap saja, proses pelebaran jalan itu akan jadi sesuatu..

Infrastruktur yang lebih baik, apalagi jalan raya, akan mendorong peningkatan pembangunan (entah itu pemukiman atau public place) di daerah sekitarnya. Efeknya, harga tanah/rumah melesat naik. People said that I supposed to be happy.

I do happy...

Tapi.. ini kan rumah untuk saya tinggali. Bukan rumah untuk investasi. Sejak saya beli tahun 2010 lalu, sekarang harganya sudah hampir dua kali lipatnya. Dengan pelebaran jalan raya ini, mungkin harganya naik lagi. Tapi, once again, ini kan rumah untuk saya tinggali. Kenaikan tadi ga pengaruh juga, selain.. rasa prestige tinggal di rumah mahal. Kata orang itu juga. Bukan saya banget lah merasa naik derajat karena tinggal di rumah mahal. Saya ya saya. Dari dulu sampai sekarang ya begini aja. Apalagi ini rumah baru satu, ditinggali pula, mau naik gila-gilaan bagi saya ga ada pengaruhnya. Luasnya tetap segitu-gitu juga. Kecuali, kalau sertifikatnya mau digadai. Kenaikan harga pasti menguntungkan. Saya sendiri belum kepikiran sih untuk top-up plafon KPR.

Mungkin ceritanya bakal beda kalo saya punya rumah investasi. Kalau ada kenaikan harga gila-gilaan, saya pasti jingkrak-jingkrak. Koar-koar. Abis itu jual rumahnya, beli lagi rumah yang lain, lalu mulai beternak rumah. Ya kan namanya juga investasi ya, pas kebagian untung, efeknya bukan cuma di mulut, tapi ada wujud nyatanya. Kucuran dana segar bisa langsung ke mengalir ke cashflow. Yihaa..

Sementara ini sih saya bersyukur banget infrastruktrur di sekitar rumah ditingkatkan. Alhamdulillah. Akses kemana-mana yang sebelumnya terhitung mudah, sekarang jadi tambah mudah. Kalau masalah kenaikan harga sih, biasa-biasa aja. Beda kriteria lah rumah tinggal sama rumah investasi :)


Senin, 23 April 2012

A story close to mine..

I've just finished reading this book ..


Antalogi Rasa by Ika Natassa


Ya, rencana 'menu' buku mingguan kami memang sudah mulai jalan. Those book is one of our books-to-read this week selain : Notes from Qatar (Muhammad Assad), Negeri 5 Menara (A.Fuadi), Mendidik Anak cara Rasulullah (.. lupa).


Menghabiskan wiken yang suntuk, saya memilih buku Ika Natassa sebagai buku pertama yang saya baca dengan harapan buku tersebut ringan, lucu dan meghibur. Apa yang saya dapatkan ternyata lebih dari itu. Ada bagian dari diri saya yang merasa sedang membaca kisah hidup saya sendiri. Well, tidak terlalu mirip sih, tapi ada bagian-bagian yang saya merasa 'saya banget', from Keara's side ya. Not the guys.


Oh yeah, saya sedikit banyak tau perasaan Keara tentang bagaimana mencintai orang -cenderung sahabat sendiri- secara diam-diam, while ada orang lain -cenderung sahabat juga- yang justu selalu ada disaat saya butuh dan rela jadi sangsak keluh kesah cinta sepihak saya.


Saya juga tau, bagaimana rasanya jatuh cinta dengan orang yang tipenya bukan-gue-banget but at the same times I feel so much alike with him. Saya tau gimana rasanya jatuh cinta tanpa tau alasannya kenapa sama dia. Kenapa ga sama orang lain yang jelas-jelas will do anything for me. 

Sampai disitu, saya merasa mirip. Apalagi si Keara ini juga diceritakan sebagai bankers which is also profesi saya sekarang. Tapi gaya hidup saya tentu beda seratus delapan puluh derajat dengan Keara. Saya bukan lulusan Stern, meski GPA kami sama. And I hate night-life. I don't drunk and I don't adopt free sex.


Cerita saya tidak sedramatis itu but, I married my Ruly. Hehe. For those who want to know how's Keara feels if she finally got him, you can ask me. Hehe. And I my self would answer that..  it's biasa-biasa saja. Yes, I win him, then what? my life just run as it used to. At first when he proposed me on bended knee, yes i cried. I cried remembering how long I've been waiting for this. But, that's it. At the end, I encounter my marriage life as any other couples do. Do I happy? Of course, though ternyata.. dia ga segitu perfectnya. Hahaha.


Life must go on. Apapun yang terjadi di hidup kita, we have to pick our own happiness. Saya tidak tahu mana ending yang lebih happy, Keara atau saya. Karena pada akhirnya kebahagiaan itu bukan tentang orang lain, tapi tentang kita dan bagaimana kita menyikapi hidup ini. It's in within.


For now, saya hanya ingin mensyukuri apa yang saya miliki sekarang dan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi setiap harinya. I mean it..

Bukunya menghibur, Thanks mba Ika Natassa..

Jumat, 20 April 2012

Hits banget

Yap, minggu ini adalah minggu yang hits banget buat saya.

Setelah selasa kemarin kena smash  atasan gara-gara miskom, hari ini jadi combo double karena dimarahin lagi, sama orang yang beda, cuma karena doski ga mau kalah.  Hiks.

Nasib jadi asisten manajer *garuk-garuk meja*

Bonus lagi, suasana di rumah lagi ga enak gara-gara event sialan yang selalu bisa jadi topik perang dingin antara saya dan husband.

Sebel.

Semoga weekend ini bisa jadi pelipur lara. Amiin.

Kamis, 19 April 2012

Kerja dimana?

Pertanyaan ini sering saya jumpai, ehm.. sering banget malahan. Pas ketemu orang baru di arisan, pas reuni, pas kumpul keluarga, di kereta, di toko jam, toko baju.. ehmm.. kayaknya di hampir semua event yang percakapannya dimulai dengan pertanyaan basa-basi. Standar banget kan pertanyaannya.

Jawaban saya sendiri macam-macam. No, no, bukan bohong. Cuma, saya biasanya menyesuaikan jawaban saya dengan lawan bicara saya. Kalau perlu jawaban yang detail, ya dijawab detail. Kalo perlu kartu nama sekalian. Tapi kalo sama orang yang bener-bener asing, saya cuma jawab "di Thamrin". Standar banget, secara di sepanjang Jl.Thamrin yang namanya perkantoran ada berapa coba? hahaha..

Bukan ga ada sebab saya pilih-pilih jawaban. Saya suka agak risih sama komentar atau reaksi orang kalo saya bilang saya kerja di instansi saya sekarang. Reaksi yang pernah saya jumpai diantaranya :

1.Nyeletuk, 'wah enak ya, banyak uang'.

Gubrak. Ya emang sih, kewenangan pengelolaan dan pengedaran uang rupiah masih diamanatkan ke instansi saya, Tapi itu kan uang negara pak, bu, mas, mbak. Gara-gara ini pula kalo saya bilang kerja dimana, ekspektasi dan persepsi orang langsung beda. Paling pengaruh tuh kalo saya lagi tawar menawar di tanah abang. Begitu tau saya kerja dimana, harga susah turunnya. Ah sebel. Saya kan mau diskon juga. Oiya, sama kalo lagi menghadapi pengemis/pengamen waktu naik metromini. Ga segan-segan mereka menuduh saya pelit atau dengan kerasnya ngucapin 'astagfirullah' di telinga kalo saya ngasih uang sedikit apalagi ga ngasih sama sekali. Kesannya jadi gimana gitu. Padahal, kadang-kadang saya ga mau ngasih itu karena ga suka sama cara-caranya. Ya peralat anak lah, ya ancam-ancam lah. Teorinya, kalo dikasih kan sama aja dukung mreka pake cara-cara itu.  Errr. Serba salah ya. Just let it be..


2. Mikir, 'keren banget, gimana cara lolosnya sih?'.

Bukan GR, tapi bukan sekali dua kali saya dimintain sharing tentang pengalaman saya masuk sini. Kalo personal sih gapapa. Lewat email gitu. Lah, kalo di kereta tiba-tiba ditanyain gitu kan jadinya kuliah umum. Malu. Soalnya saya sendiri merasanya biasa-biasa aja. Kan rejeki semuanya Allah yang ngatur.

3. Komentar, 'Oh kamu anak Bapak X yang kerja di instansi itu ya?', atau " menantunya bu Y yang di  instansi itu?'
Ehmm, risih ga sih kalo yang diinget orang itu adalah instansi dimana kita kerja daripada kita sendiri? Saya sih risih.

4. Tiba-tiba nanya tentang kebijakan perbankan atau moneter plus numpahin uneg-uneg kenapa KPR mahal banget.

Kalo dikasih pertanyaan tembakan ini sih saya sebisa mungkin menjelaskan sebatas pengetahuan saya. Kalo memang ga tau, saya bilang ga tau. Daripada ngarang, trus salah dan yang tercoreng malah instansi saya. Meski begitu, saya kadang sebel juga kalo diceletukin, 'masa kamu ga tau?'. Rasanya pengen bilang, "asal lo tau ya,  di kantor gw itu satuan kerjanya kan banyak dan kita masing-masing udah ada spesialisasinya!". Tapi tentu bunuh diri namanya kalo saya sampai benar-benar mengumpat. Akhirnya sih yang keluar adalah cuma senyum kecut dan kata maaf yang sopan. Habis gimana lagi coba, nyerah deh saya kalo sampe diminta urusin masalah KPR yang spread rate-nya udah kebangetan dibanding BI-rate. Bukan cuma bapak aja yang punya KPR pak, saya juga. Sama pak, uneg-uneg kita. *sigh*

5. Komentar, " kerja di instansi itu kok masih naik kereta/bus?"

Believe me, masih ada loh yang iseng komentar gitu. Ini mungkin terkait sama alasan No.1 di atas ya. Biasanya, saking malesnya nanggepin, saya kalo dikomentarin begini akan acuh ga acuh. Bodo amat. No reply. Ih ga tau apa ya, di New York, Paris, Tokyo dan semua negara maju, orang naik public transportation itu biasa banget.

So, karena alasan-alasan yang tadi itu, sekarang saya lebih suka memperkenalkan diri saya sama orang yang masih asing sebagai Icha, Saya istrinya Yosi Tapjani, mamanya Atha, anaknya Pak dede, menantunya Pak sukiryo. Kerjanya di Jakarta. Jakartanya mana? Thamrin. Thamrinnya mana? Jakarta. Pusing deh. Hahaha..

Selasa, 17 April 2012

Buku, jendela dunia

Waktu seminar parenting long wiken lalu pembicaranya berkata bahwa salah satu ciri-ciri keluarga muslim sejati adalah banyaknya buku di rumah itu. Kenapa? karena buku adalah jendela ilmu, jendela dunia.  

Plak, rasanya seperti ditampar. Iya, meskipun saya gemar membaca, tapi saya jarang sekali mengoleksi buku. Biasanya cuma pinjam.  Lagipula, kadar hobi membaca saya ini dibandingkan seluruh anggota keluarga saya, bisa dibilang paling minim. Abal-abal.

Maka, ketika ditanya ada berapakah koleksi buku di rumah saya? seratus, dua ratus? Saya hanya bisa diam. Lalu saya berpikir, ada benarnya juga pembicara ini. Bagaimanapun, agama dan ilmu pengetahuan adalah hal yang saling berkaitan. Bagaimana mau mendidik seorang muslim yang tangguh jika tidak berbekal dua hal tadi. Untuk membekali anak-anak saya dengan ilmu, sekolah saja tidak cukup. Ilmu juga berkaitan dengan wawasan, dan ini bisa diusahakan salah satunya dengan menyediakan media membaca yang cukup. Syukur jika anak-anak memiliki minat baca seperti keluarga saya.

Then, saya berdikusi dengan suami saya. Husband setuju untuk mulai menumbukan minat baca di keluarga kami sejak dini. Sebagai pilot project, kami  membeli banyak buku-buku bagus untuk 'menu' mingguan. Hasilnya? Alhamdulillah! Selain menambah wawasan, buku juga bisa menjadi sarana terapi untuk mengurangi ketegangan-ketegangan kecil saya dan husband yang umumnya disebabkan kondisi emosi yang tidak stabil. In short, ada pelampiasan lah. Saya tidak menyangka suami saya juga hobi membaca.

Dengan keterbatasan waktu yang ada, kapankah waktu yang tepat untuk membaca? Pagi, saya sudah sibuk memasak, siang bekerja, dan malam memasak serta mendongeng. Lalu tiba-tiba muncul ide, bagaimana jika di KRL? waktu yang selama ini saya habiskan untuk browsing, chatting dan blogwalking dialihkan sedikit untuk membaca. It works.  Jadi sejak minggu lalu, ritual kami sekarang setiap hari adalah naik KRL yang jadwalnya lebih pagi (otomatis lebih renggang sedikit jejalan manusianya) supaya bisa membaca buku sambil berdiri. Lumayan. Selain menghibur dan menambah wawasan, membaca buku juga mengurangi rasa jengkel karena lamanya perjalanan.

Jadi apa saja 'menu' buku kami minggu ini? Ini dia..

Author : Hanum Salsabilla Rais&Rangga Almahendra


Author : BJ Habibie
(kami memilih yang english version untuk latihan bahasa inggris)


Author : sita karina


Author : Rei Kimura

Author : Dahlan Iskan

Sementara itu dulu buku yang kami miliki sebagai permulaan. Buku-buku yang ringan karena minat membaca kami juga tidak segitunya. Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan 4 dari 5 (kecuali buku Habibie dan Ainun), husband juga sama (saya memang tidak merekomendasikannya untuk membaca buku sita karina,hehe).

Ke depan, mudah-mudahan resolusi 'menu' buku mingguan kami bisa bertambah dan teralisasi secara konsisten. Bagaimanapun kami ingin Atha bisa mencintai buku, lebih dari orangtuanya.

Membacalah nak, karena buku adalah jendela dunia..
Membacalah nak, dan taklukan dunia dengan wawasanmu..

Oya, mungkin kapan-kapan saya akan tulis resensi dari buku-buku yang menarik yang saya baca disini..

Senin, 16 April 2012

Back to Habitat

Ihiy, Jum'at minggu lalu saya karaokean di Inul Vista bareng temen-temen kantor. I was very happy. Rasanya, seperti kembali ke habitat..

Yes, I love to sing :)

Kapan lagi yaa..

*foto menyusul*

Kamis, 12 April 2012

Katun Satin

Sejak lama, saya adalah pecinta comfy and cozy room. Ketika saya mendesain dan membeli perlengkapan kamar, saya cenderung menjadi perfeksionis, dalam artian harga tidak lagi menjadi masalah asalkan saya suka dan barang tersebut nyaman. Dan.. saya jatuh cinta dengan sprei katun satin. Menyiasati cuaca yang semakin lama semakin tidak terkendali, saya memilih sprei yang berbahan halus, dingin, dan mudah kering jika dijemur. Pilihan bahan yang paling memungkinkan menurut saya yaitu jaquard dan katun satin. Tapi karena Jaquard mahal, pilihan yang lebih efisien adalah katun satin. Meski sedikit lebih mahal dari katun biasa, it's worth to try..


House Of Windsor (Jaquard)


Ada motif gradasinya..


Katun Satin - Picasso/Town and Country


Katun biasa motif bunga dari Thamcit


Motif bunga, dari dekat

Ah, jadi ingin pulang dan bobo siang..

Senin, 09 April 2012

Car-less weekend (Part II)

Hehe, geli sendiri baca judul postingan saya. Udah lah  bukan orang enggres, pake istilah car-less yang saya sendiri ga tau masuk di vocabulary kamus oxford atau engga.

Eniwei, my last long weekend was just superfun! Yah, meski si mobil semata wayang masih betah di bengkelnya, itu semua ga mengurangi esensi dari family time kita. Alhamdulillah lokasi rumah deket banget sama stasiun kereta, jadi meski ga ada mobil, kita masih bisa kemana-mana.

Jadi, hari pertama long wiken saya habiskan dengan mengikuti seminar parenting dengan tema "menanamkan tauhid kepada anak sejak dini" di Rumah Pelangi, daycare kompleks rumah. Pembicaranya dari Tim bunda Neno warisman. Keren. Habis itu lanjut ke rumah enin, nginep sampai hari kedua. Seru banget bawa gembolan banyak terus naik KRL, dan sampe stasiun di jemput sama Aki. Ya Alloh, rasanya kayak Mudik! Atha was so excited.

Hari kedua di rumah enin aja, ngobrol ngalor ngidul sama enin. Dari rencana nikahannya yoga-rani, gosip infotainment, sampe issue politik. Pokonya kalo ngobrol sama enin aki ga terasa tenggorokan saya tau-tau haus banget. Kebanyakan ngobrol kayaknya. Husband banyakan tidur sih, jadi mereka ga ada tandem untuk ngobrol selain saya. But, talking with them is alwasy fun anyway..

Oya, tadinya hari kedua itu kita mau berenang, tapi cuaca ga mendukung. Kita akhirnya pulang siang harinya. Athazka setiap Sabtu sore juga ada jadwal les musik di Yamaha, jadi nginep di enin ga bisa lama deh. Siang kita dianter aki ke stasiun, sejam kemudian udah leyeh-leyeh di rumah.

Oya, di hari kedua ini juga for the first time, Athazka naik motor keliling Depok. Tadinya kita mau cari makan malem aja yang deket-deket, tapi kok ke Pempek Pak Raden seru juga ya. Akhirnya kesana momotoran bertiga. Husband di depan, Atha ditengah, saya dibelakang. Thanks God, motornya muat. Hahaha. Ah seru! Jadi inget zaman pacaran. Apalagi liat reaksi amazed-nya Atha.. hihi.. namanya juga pertama kali ya. First Experience is always memorable..

Hari ketiga. Saya dan husband mengajak Atha ke Gramedia depok, terus lanjut Margocity untuk beli bahan-bahan masakan. Kali ini kita naik angkot! And it was also Athazka's first experience of using this kind of transportation. Wajah amazed-nya anak ini.. lucuuuu. Atha sangat-sangat waspada. Tau aja di angkot rawan kejahatan. But it's okay, ada mama papa. Turun dari angkot,  kita naik jembatan penyebrangan dan Atha begitu terpukau sama traktor yang lagi beroperasi di bangunan depan margocity. Dari depan kan dikasih penutup jalan, tapi kalo dari atas kelihatan jelas. Ya ampun susahnya ajak Atha turun dari jembatan penyebrangan. He was so so so happy!

Sampai di Gramedia, saya borong beberapa buku bagus yang belum sempat dibaca, beli DVD edukatif untuk Atha, mainan, dan ahhh.. I love bookstore.. I love books.. I love read. So, sisa waktu di hari ketiga sudah ketebak ya saya habiskan untuk apa. Yes, reading. And I feel so much relax after I read some of them..

Alhamdulillah, car-less memberi warna baru dalam hari-hari saya, dan bahkan memberikan pengalaman-pengalaman seru bagi saya sekeluarga. Ternyata, sesuatu yang terlihat buruk di awal, malah memberikan kebaikan pada akhirnya. Dan, terutama, selama saya menjalani hari saya bersama keluarga kecil saya, Insya Alloh every little things will mean a lot..

Rabu, 04 April 2012

Apapun, Alhamdulillah

Minggu lalu saya mengajukan diri untuk ikut seminar mengenai governance in a central bank di Frankfurt, Jerman. I'm so excited and could not stop gigling up until now. Seminarnya off course akan menambah wawasan saya sebagai orang bank sentral, tapi sebetulnya yang membuat lebih bersemangat tentunya adalah perkiraan itenerary yang akan saya jalani kalau usulan saya tadi diapprove. Hihi, eropa lagi. Kalau kesampaian, mungkin saya akan mengunjungi negara yang kemarin belum sempat dikunjungi. Mungkin Swiss, Austria, Spanyol dan Inggris. Ah senang..

Tapi itu baru usulan, Belum tentu diapprove. Tapi, in case ga diapprove pun, saya masih punya rencana cadangan. Temanya tetap going abroad, tapi kali ini bertiga (saya, husband dan Atha). Ehmm.. kebetulan saya sudah selesai mengurus paspor Athazka kemarin. Jadi, Insya Alloh we are ready to travel.

Whatever the decision, bagi saya semuanya Alhamdulillah..

Oh iya, ngomong-ngomong tentang luar negeri saya sampai kelupaan bilang makasih sama Mba Santi untuk oleh-oleh dompet Kate Spade sama Foundie+bedak MAC dari New York. Makasih ya mba, you're rock! Muach..

Senin, 02 April 2012

Car-less weekend

Weekend kali ini car-less. Mobil saya akhirnya kena baret parah gara-gara sepupu saya salah parkir di Garut. Baret perdana tuh ceritanya. Meski dicover asuransi, tetep aja pas lihat dan denger bunyi.. brraaakk.. ssrroook.. trus mendapati mobil saya nempel di pilar beton depan rumah, rasanya.. hiks..

Jadi, begitu pulang ke Depok, si mobil langsung dibawa ke dealer untuk diurus asuransinya. Resmi, untuk sementara saya car-less. Belum tau sampai kapan, hopefully minggu ini kelar. Amin.

Humm, karena car-less, maka weekend kemarin saya habiskan dengan membereskan semua pekerjaan domestik yang sebelumnya ga sempet kepegang. Ada hikmahnya juga sih, saya jadi tau spot-spot rumah saya yang kelewat kalau disapu, bisa coba-coba resep baru, dan bisa menyelesaikan setrikaan segunung imbas dari pulkam kemarin. Sungguh melelahkan jiwa raga. Tapi selalu ada pembelajaran sih. I think I have such a  progression in handling domestic things :)

Voila!


Selasa, 27 Maret 2012

when husband is so annoying.

.. then call your memories to the moments when he did many many great and (maybe) romantic things. Soon, your anger will dissapear :)


Ahay, sudah bukan rahasia umum lagi kalau di dalam pernikahan, seorang suami ataupun istri bisa jadi the greatest enemy for each other. Yah, namanya juga dua kepala kan? Adek kakak yang jelas-jelas satu darah satu rahim aja bisa berantem, apalagi suami istri yang masa-masa perkenalannya ga seintens saudara kandung. Lagipula, lamanya pacaran ga menjamin juga kita kenal dalem-dalemnya pasangan. Ada kok yang pacarannya sampe 9 tahun, tapi begitu nikah setahun langsung cerai. Alasannya? ketidakcocokan. Hellow, 9 tahun ngapain aja jadinya ya?


Saya sendiri pacaran sama husband sekitar 2 tahun, walaupun temenannya sih udah dari 8 tahun yang lalu. Kalo ditotal, dari awal kenal lalu pacaran lalu nikah dan akhirnya sekarang punya anak umur 3 tahun, kira-kira umur perkenalan saya sama husband 12 tahun lah. Hoho, lama banget ya. Tapi ternyata ga menjamin kalau saya dan dia akan rukun damai sentosa setiap hari. Of course ada kalanya hujan datang.


When i feel worse about him, biasanya saya berusaha semampu saya untuk ga tenggelam dalam perasaan kesal yang akhirnya jadi mengungkit semua kekurangan dan kesalahan dia (yang cuma akan membuat masalah yang tadinya remeh jadi gawat darurat). Jujur, ini susah buat saya. Tapi, yah, katanya kalau kita kesal sama seseorang, ingatlah kebaikan-kebaikannya supaya rasa kesalnya berkurang. Jadi, kalau lagi bete tingkat dewa sama husband, saya berusaha mengingat bahwa :


He proposed me, on bended knee..
Kejadiannya sekitar akhir tahun 2007, di tangga pelataran parkir Cibubur junction yang waktu itu background-nya langit bertaburan bintang, dengan sebuah cincin berlian felice yang cantik. Iya, saya mengalami proses lamaran pribadi yang sangat romantis seperti di film-film. Of course saya beruntung ya. 


Talking about on bended knee ini, saya jadi ingat waktu marahan di Eiffel (nanti saya posting kenapa sampe marahan segala), husband merayu saya dan tiba-tiba dia berlutut lagi. Perasaan saya? antara GR dan malu (karena diliatin orang-orang sambil senyum-senyum. Hey, he was not proposing! It's just.. apa yah.. aaarrgghh). Btw, beginikah rasanya jadi Katie holmes waktu dilamar Tom cruise?


He often surprises me!
Bukan husband namanya kalo ga iseng dan penuh kejutan. Yah, meskipun ga semua kejutannya berhasil (karena saya mulai hapal gerak gerik dia yang mencurigakan), tapi tetep aja niat untuk bikin kejutannya itu so sweet. Saya inget waktu pertama kali husband mau dinas luar negeri  lagi setelah Atha lahir, saya kan mellow banget tuh. Pokonya manyun dot kom deh. Sehari sebelum hari H, husband izin pulang agak telat. Makin bete dong. Pas dia pulang, dia akting kayak badut sambil perut dibuncit-buncitin, saya ga ketawa. Sebel malah. Eh tau-tau, dia ngeluarin sesuatu dari balik sweaternya yang bikin dia buncit. Ternyata.. it's a netbook. Katanya, kalo selama dia dinas kita kangen jadi bisa webcam-an. So sweet.. 


Surprise lain yang masih saya inget yaitu waktu tangan saya ga sengaja kejepit pintu mobil sama mamah. Masya Alloh sakitnya. Jari kelingking saya sampe bengkak segede jempol terus biru menghitam, dan kuku hampir lepas. Wooh, pada masa itu setelan saya bener-bener senggol bacok deh. Dan yang pasti jadi sangsak ya husband (waktu itu masih pacar). Meski si tangan nyut-nyutan minta ampun, tapi waktu itu saya masih pendidikan di Kemang. Jadilah saya sebisa mungkin beraktivitas seperti biasa. Dengan tangan bengkak, saya belanja bulanan di Hero Kemang. Nah, pas pulangnya itu husband izin mau keluar sebentar tapi nanti balik lagi. Saya males nanggepinnya. Orang lagi sakit tangannya kok malah ditinggal, bagaimana ini bawa belanjaannya. Huh. Eh ternyata dia beneran cuma sebentar, pas saya ke kasir dia udah sampe lagi aja. Saya tetep manyun, antara gengsi dan masih bete. Tapi dia dengan sabarnya cuma cengar cengir, dan pas saya masuk mobil.. tarraa.. di jok bagian belakang mobil udah penuh sama bunga lily putih. Haaa? Jadi tadi dia izin keluar karena mau mampir ke florist di deket Hero Kemang? so sweet.. 


He loves my family
Nah, ini nih bagian yang paling saya suka dari husband. Siapa juga yang ga mau punya suami yang bisa mingle dan sayang sama keluarga kita seperti dia sayang sama keluarganya. Saya ga tau sih di dalam hati suami saya seperti apa, yang jelas kalo dari sikapnya selama ini sama keluarga saya, semuanya baik. Satu kalipun husband ga pernah keberatan kalo saya mau ngadoin ortu saya sesuatu. Ya kan penghasilan saya itu sepenuhnya hak saya. Husband juga ga pernah nanya-nanya gaji saya berapa and the bla and the blu. Dia taunya setiap bulan semua penghasilannya ditransfer ke saya, terus saya distribusiin sesuai kebutuhan rumahtangga kami. That's simple. Alhasil, sejak nikah sampe sekarang hubungan saya dan keluarga saya ga semakin menjauh, malah semakin deket. Alhamdulillah banget..


Tuh baru ditulis tiga macam kebaikan husband aja jadi berkaca sama diri sendiri. Masih penting ga ya saya marah-marah ga jelas sama dia. Padahal masih banyak good things yang dia udah lakukan untuk saya dan Atha. Mungkin bener ya, kalo kita list hal-hal yang bikin kita kesel, lalu kita list juga hal-hal yang bikin kita bersyukur, pasti hasilnya akan lebih banyak hal-hal yang bikin kita bersyukur..


..and my anger slowly dissapear..

Senin, 26 Maret 2012

Weekend Report

Untuk orang kantoran seperti saya, libur 3 hari itu sesuatu banget. Recharging. Bukan karena saya ga suka kerjaan saya, cuma ga bisa dipungkiri juga kalo aktivitas kantoran dan traffic perjalanan itu kadang sungguh melelahkan jiwa raga. Not to mention if you are also a mom, and (masih) maid-less..

Bohong kalo saya bilang saya ga capek. Tapi katanya, we have to push our self to the limit kan? Bisa kok, asal kepepet niat. Saya bukan ibu-ibu rumahan. Believe me, I'm really poor at domestic things. Tapi ajaibnya, ternyata tangan saya ini bukan cuma bisa ngetik-ngetik keyboard sama karaokean di happypuppy sama belanja belanji ga jelas di grand indonesia tapi bisa masak juga. Alhamdulillah. Mama saya yang jadi tempat curhat juga malah ketawa-ketiwi dan bilang :

"Alhamdulillah yah sekarang jadi bisa bikin makan suami dan anak"

Yah mama, bukan solusi itu mah. Cariin new maid dong maa.. atau, daku akan kembali mengurus tanpa diet..

Eniwei, dengan prolog yang ga nyambung di atas tadi, sebetulnya saya cuma mau bilang bahwa dengan kondisi seperti itu,  rasanya I deserve a vacation in this long weekend. Ternyata husband setuju. Dan karena ini dadakan dan cuma 3 hari maka kita putuskan untuk pulang kampung ke Garut dan Tasik. Kebetulan banget my in law lagi pulkam ke Tasik juga. Jadi setelah sowan ke rumah ortu saya di Garut, kita ketemuan di Tasik sama hampir semua keluarga besar in law. 

Hasilnya : seneng banget! Ketemu orangtua saya dan keluarga di Tasik itu stress healer. Kayaknya kalo lagi galau tingkat dewa kudu deh sering-sering main kesini biar ketularan energi positif dan belajar jadi orang yang classy dalam menghadapi masalah.

Tanggal 6 April nanti long wiken lagi. Apa saya kesana lagi ya? Tapi bagaimana dengan rencana toefl dan ielts? ehmm.. ehmm.. masih ada dua minggu lagi untuk memutuskan. Yang jelas, selama saya masih sehat dan ada rejeki, mengunjungi orangtua/mertua so pasti ada di top list things to do saya.

Melihat mereka tersenyum itu.. sesuatu banget. Semuanya jadi worth to fight :)

Kamis, 22 Maret 2012

Libur telah tiba!

Jam penanda berakhirnya kegiatan di kantor sudah berbunyi. Horee, it's officially long weekend..

Asiknya, long wiken kali ini jatuh berbarengan dengan cairnya insentif tahunan. Ah senang!

Happy long weekend everyone :)

Kamis, 15 Maret 2012

Planning for Our Annual Vacation

Setelah bersedih-sedih karena Direktur kesayangan saya pindah satker.. (hiks, beneran loh tadi saya hampir aja nangis), mari melanjutkan hunting tempat liburan tahuhan keluarga. Baru planning aja sudah berbunga-bunga kalo ngomongin yang namanya liburan keluarga. Ih.. senaaannngg..

Hmm, karena sekarang Atha sudah besar (next month dia 3 tahun), maka si kasep akan diikutsertakan dalam planning liburan tahunan kali ini. Talking about vacation planning, saya sebetulnya orang yang spontan. Tapi pengalaman liburan ke eropa tahun lalu yang sungguh di luar rencana bikin saya kapok. Gimana engga, tabungan terkuras abis. Meskipun judulnya sekalian dinas, tetap aja nomboknya lumayan. Waktu di Paris sih happy-happy aja ya, gesek sana sini. Pas pulang itu loh.. hadeuh mau pingsan deh lihat billing tagihan kartu kredit..

So, kali ini liburannya harus terencana.

Setelah mereview kondisi keuangan dan menyelamatkan pos-pos penting rumahtangga saya, maka nominasi tempat liburan tahun ini adalah : Singapura, Bali, Hongkong, atau Sydney/Jepang. Hoho, keren ya cita-citanya. Yah, mumpung Garuda Indonesia lagi promo juga sih, makanya masuk budget. Coba aja, masak tiket Jkt-Amsterdam cuma 739 USD pp. Bandingin waktu saya naik Singapore Airline  (SQ) tahun lalu yang sampe 1560 USD pp. Lumayan banget kan. Apalagi kali ini mau bawa Atha segala. Kebetulan, saya sendiri cinta mati sama Garuda. Kata orang SQ keren, tapi buat saya tetap Garuda di dadaku. Hospitality value-nya ga di buat-buat. It's our value. It's in the blood. Loh ini kok malah review Garuda sih? (ngomong-ngomong, seragam pramugari Garuda yang baru lucu yaa. Encim gitu. Indonesia banget. Tapi roknya ga oke ah, ga suka ada belahannya, Jadi ga Indonesia lagi)

Cukup review Garudanya. Mari sekarang susun itenerarynya. Ah senang. Vacation, here we come!!

Selasa, 13 Maret 2012

When my heart is melting..

Saya bukan tipe orang yang menye-menye, ehm.. kadang-kadang aja ding (toh setiap pms saya juga mengalami semacam turbulensi emosi), tapi laki-laki ini selalu aja bisa membuat hati saya meleleh. Misalnya kemarin, saat kami main petak umpet dibalik selimut. Disaat sedang seru-serunya, kami berdua terkurung dalam kemah selimut tebal di kamar, tiba-tiba dia berkata begini :

"Mama, Atha kangen sama mama. Mama jangan ke Jogja lagi yah?"

and he hug me so tight..

Yak, adegan selanjutnya bisa ditebak. Ada airmata yang hampir tumpah karena.. entah.. haru atau sedih, yang jelas rasanya saya ingin menghentikan waktu sebentar saja, supaya saya bisa memeluk bocah ini lebih lama..

I wish the world could tell you how much i love you son..

Senin, 12 Maret 2012

Jogja : never ending love

Saya masih dalam pengaruh sindrom pulang dari Jogja, jadi masih kebayang kota yang selalu bikin saya kangen. Slogan Jogja sendiri adalah "Never Ending Asia". It's true. Ciri khas kota ini masih ada, dan tetap sama seperti 11 tahun yang lalu saya pertama kali menginjakkan kaki saya disini : Hospitality.

Buat saya, Jogja is more than never ending asia. It's never ending love. Ya, saya selalu dan selalu jatuh cinta dengan kota ini, bahkan pada saat saya berpikir it's no more Jogja without my friends. Saya masih ingat betapa berat hati ini untuk dinas ke sana minggu lalu. Rasanya ingin skip cepat-cepat. Pertama, mayoritas teman-teman kerja di Jakarta (saya sudah tanya temen-temen di grup bbm FE UGM dan B5, mereka mayoritas kerja di jakarta dan sedang tidak ada tugas ke Jogja). Kedua, acara dinas kemarin itu sesungguhnya ditujukan kepada pegawai yang jabatannya 3 level di atas saya, dengan kata lain selisih usia saya dengan peserta lain kira-kira 20 tahun. Kira-kira, ngobrol apa ya saya dengan bapak/ibu pejabat itu? kalau saya salah ngomong atau tidak bisa jaga sikap gimana ya?

Tapi, ternyata kejadiannya sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan. Bapak/Ibu pejabat itu baik-baik semua. Alhamdulillah saya tidak menemui kesulitan komunikasi yang berarti. Materinya cukup bisa saya ikuti. Dan, - ini yang paling matter- saya masih punya teman lama yang sebetulnya sudah jarang berkomunikasi, tapi dia antusias untuk menemani saya kemana-mana. Namanya mba Nisa. Kami 'hanya' kenal sebulan waktu sama-sama kursus toefl di LIA Jogja tahun 2006. Tapi berkat Fb saya punya bbm contactnya dan kami pun janjian ketemuan. Saya awalnya ragu, karena sudah lama sekali tidak bertemu, tapi mba Nisa malah seru, langsung meng-iyakan dan datang sore itu juga. So nice..

Berkat Mba Nisa, saya jadi bisa bernostalgia ke nasi goreng sapi kotabaru, Parsley Jalan kaliurang, Ayam Bakar Pak Thok, Gudeg Bu Hj.Achmad, dan Jalan-jalan ke FE UGM (termasuk ke Magister Sains-nya), dan Mesjid Kampus. Bisa dibilang semua wish list saya terpenuhi kemarin itu (kecuali rencana ketemu dosen untuk minta surat rekomendasi untuk apply scholarship. Tidak sempat karena jadwal kursus yang padat,  baru selesai jam 1/2 6 sore).

Ah senang. Word of thanks is never enough for her. Saya bahkan sampai menginap semalam di rumahnya pada hari terakhir. Makasih ya Mba.

Dan, seperti biasa, menjelang pulang ada terbesit rasa 'kehilangan' di hati saya. Iya, saya sepertinya jatuh cinta betul dengan Jogja sehingga rasanya ingin pensiun disini suatu hari nanti.  I mean it. Dari dulu sampai sekarang, bagi saya hanya ada 2 kota di Indonesia yang saya sangat pertimbangkan untuk saya tinggali : Bogor dan Jogja. Bogor adalah kota kelahiran saya, sedangkan Jogja adalah kota dimana my very important milestone is been made.

So Jogja,  when will I see you again?