Tampilkan postingan dengan label must read. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label must read. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2012

Diary of a working moms (Part III)

Hola, akhirnya tema working mom sampai juga ke Part III. Cerita tentang working mom memang tidak ada habisnya. Ini semua karena tantangan yang dihadapinya pun beda-beda. It's a never ending process.

Kali ini tantangan saya adalah menghadapi kepintaran anak berusia hampir 3 tahun. Sudah satu minggu ini Athazka mogok sekolah. Tiba-tiba. Jika mengingat usia Atha yang bahkan belum masuk usia pre-school, harusnya saya tidak khawatir. Mungkin saja dia bosan atau sedang ingin bermain.

Tapi sisi lain dari saya tetap ingin mengobservasi sebab akibat mogoknya Atha tersebut. Saya kurang setuju jika penekanan terus menerus diarahkan hanya kepada Atha, tanpa mencari tahu sebab mengapa dia tidak mau sekolah. Kekhawatiran pertama, mengenai perilaku bullying temannya. Kekhawatiran kedua, jika saya bersikap terlalu permisif, lama-kelamaan sikap mogok sekolah ini menjadi kebiasaan. Saya memang kerap berkomunikasi dengan guru Atha via bbm, tapi tentu tidak afdol jika saya tidak mencoba menggali informasi dari sudut pandang Atha. Satu-satunya cara adalah observasi langsung ke TKP.

Namun apa daya, jadwal rapat di kantor yang padat tidak memungkinkan saya untuk melakukan obseravsi tersebut. Syukur alhamdulillah Papa Atha bersedia menggantikan peran saya. Ya, suami saya akhirnya mengajukan cuti setengah hari hanya untuk mengantar Atha ke sekolah dan bercakap-cakap dengan gurunya. It went good. Problem solved. Atha akhirnya mau kembali ke sekolah. Sebenarnya masih dalam kategori percobaan, karena baru hari ini berhasil. Semoga hari-hari selanjutnya begitu juga.

Tapi bagaimanapun, saya senang dengan hasil observasi hari ini. Meski begitu, tetap saja ada sebagian diri saya yang merasa egois tidak dapat memprioritaskan Atha. Harusnya saya yang ke sekolahnya. Tapi inilah tantangan working mom. Tarik-tarikan hati terus saja terjadi. Untuk itu saya bersyukur suami saya sekarang mau sedikit-sedikit berbagi peran. Tapi yang sedikit-sedikit itu justru bagi saya merupakan kontribusi yang luar biasa. Thanks husband.

Jumat, 30 Desember 2011

Menuju 2012

Beberapa jam lagi kita kan akan memasuki 2012. Well, seperti halnya orang lain dalam menyambut tahun baru, saya pun mulai mereview apa saja yang sudah saya lewati di tahun 2011. Kenapa perlu direview? supaya ketika membuat resolusi tahun 2012 saya tidak salah langkah.

2011 as a surprising year

Saya memberi tema tahun 2011 secara keseluruhan yaitu 'surprising'. Tahun 2011 memang penuh kejutan bagi saya. Resolusi saya sendiri di tahun 2011 lalu tidak lagi penuh target-target yang sophisticated. Kebanyakan malahan merupakan proyek 'beres-beres' dari apa yang telah tercapai di tahun 2010. Alhamdulillah, the ultimate goal as little family, which is owning a house and car is been accomplished in 2010. Tapi, konsekuensinya pasti masih berlanjut di tahun 2011. Punya rumah berarti juga mulai memikirkan untuk membeli perabotan dan segala printilannya kan? Dan ternyata, perintilannya itu banyak sekali bahkan never ending kalau tidak dibatasi dengan kesadaran akan kondisi keuangan. Tapi saya senang, sekarang rumah saya sekarang sudah mulai menyerupai 'rumah'. Ruang tamu kami tidak lagi beralaskan tikar lampit, tapi sofa sederhana yang nyaman. Ruang makan kami tidak lagi bernuansa lesehan, tapi sudah dilengkapi dengan meja makan. Taman di depan dan samping rumah saya tidak lagi ditumbuhi rumput liar yang tidak beraturan, tapi sudah mulai ditata dan ditanami tanaman hias yang lebih baik. Insya Alloh, kami sekarang sudah bisa menjamu tamu dengan lebih layak. Alhamdulillah. 

Oya, di tahun 2011 STNK mobil pertama atas nama saya keluar. Senang dan terharu. Meskipun ini bukan mobil pertama yang saya beli, tapi melihat nama saya yang tertera di stnk rasanya luar biasa (I used to see my mom and dad's name on it). Beruntungkah? Not really. Saya membeli mobil itu dengan cicilan 3 tahun. so, it's still 2 years to go. Semangaaattt...

Hal yang tidak disangka-sangka terjadi di tahun 2011 adalah 'hadiah' kursus dan liburan ke Eropa di bulan Oktober. Ketika saya bekerja, saya tidak pernah menghitung-hitung reward yang saya peroleh lalu dibanding-bandingkan dengan usaha saya. Bukan sok idealis, tetapi dapat menjadi seorang central banker bagi saya sudah melebihi daripada apa yang saya inginkan. I'm trying to do my best for this. Setelah 4 tahun bekerja, kantor saya menugaskan saya kursus ke eropa, tepat di kota impian saya, Paris.The best thing is,  suami saya bisa ikut menemani, dan akhirnya kami pun keliling eropa. The next best thing is tema kursusnya merupakan major kuliah saya, jadi selama kursus saya tidak merasa terbebani. The second best thing adalah support yang luar biasa dari orangtua dan mertua, fisik dan mental. Alhamdulillah..

Bagi saya, kejutan tadi sudah lebih dari cukup, Tapi Alloh masih punya kejutan lain untuk saya. Hari ini, on the last day on 2011, saya diusulkan untuk memperoleh the highest point on performance appraisal(setidaknya di satuan kerja saya). Terharu? sudah pasti. If you are a working mom, then you will understand what it mean to me. Saya bekerja dengan separuh baterai, karena separuhnya lagi saya optimalkan untuk keluarga saya. Saya tidak pernah berharap muluk karena toh bagi saya keluarga saya adalah stakeholder saya yang utama. Bayangkan tenaga separuh baterai itulah yang akhirnya dihargai dengan the highest point.  I don't mind if I finally got it 2 years later than my peer, it's just Finally! Sekarang grafik performance appraisal saya dan suami bisa linear dan positif. Kebetulan, suami saya tahun ini juga direkomendasikan untuk memperoleh point tertinggi dalam penilaian kinerja di kantornya. Bahagia ya. Mudah-mudahan bisa terus dipertahankan. Amin.

Athazka's milestone
2011 merupakan tahun dimana perkembangan Athazka mengalami peningkatan yang signifikan. It was when he celebrated his 2th Birthday with his family and friends. It's was when he entered his first step to school. It was when he won his first championship. It's definetely his year. Here are the hight light

Dari segi kognitif, Athazka sudah bisa :
-  Menghitung 1 s.d 10
- Mengenal warna : merah, kuning, hijau, biru, putih, hitam, pink, ungu, cokelat. Sudah tau fungsi lampu merah di jalan (merah tandanya berhenti, hijau jalan, kuning hati-hati).
- Mengenal orang-orang di sekelilingnya.
- Mengenal huruf-huruf hijaiyah
- Membaca doa sebelum makan dan sebelum tidur dengan fasih, dan do'a sesudah makan dan bangun tidur dengan terbata-bata.
- Bernyanyi, hampir semua lagu anak-anak. tapi favoritnya adalah lagu thomas and friends.
- Mengenal semua tokoh-tokoh dalam film kartun dan cerita dongeng. Film yang Atha tonton antara lain : Shaun the Sheep, Timmy Time, Dora the Explorer, Pororo, Si Bolang, Baby Einstein, Bobby Bola, Belajar bersama Diva (seri membaca huruf hijaiyah dan  berdo'a), dan tentu saja Thomas and Friends.
- Mengenal konsep apa dan mengapa. Disinilah yang paling menantang karena saya dan suami harus menggunakan standar yang sama dengan standar nilai-nilai yang diterapkan pada Atha karena Atha belum bisa mengenal konsep eksepsi.
- - Mengenal konsep kiri dan kanan

Dari sisi kemampuan adaptasi dan sosialisasi :
- Atha sudah bisa membaur dengan teman-temannya, di rumah, di sekolah, maupun di rumah saudara.
- Alhamdulillah tidak pernah melempar dan memukul temannya, tetapi jika dipukul balik membalas dengan lebih galak.
- Jika disapa 'asslamu'alaikum?' akan menjawab 'wa'alaikum salam' (dengan kemampuan verbal yang belum sempurna).
- Jika hendak menyuruh mengucapkan 'tolong' terlebih dahulu (meskipun sering lupa juga). Jika dimintakan tolong, akan menuruti perintah.
- Jika membuat kesalahan seperti menginjak kaki, menabrak, memecahkan gelas, akan mengucapkan "maaf ya" secara spontan.
- Jika diberi hadiah/oleh-oleh akan mengucapkan 'terima kasih' secara spontan. Jika memberi hadiah lalu diucapkan terima kasih, akan menjawab 'sama-sama' secara spontan.
- Saya baru saja mengganti pengasuhnya, dan tidak ada kesulitan yang berarti dalam adaptasi dengan pengasuh pengganti. He's fine.

Dari sisi perkembangan fisik/motorik :
- Berat badan hampir 16 kg
- Sudah bisa menggunakan sepeda roda dua (dengan bantuan ban kecil-kecil di roda belakang).
- Sudah bisa berjalan dan berlari dengan seimbang
- Sudah bisa makan sendiri
- Sudah bisa menggosok gigi sendiri (meskipun bagian atasnya terlewat)
- Sedang belajar mandi sendiri
- Sedang belajar buang air kecil dan membersihkannya sendiri
- Sudah bisa menempel kertas di buku warna
- Sedang belajar main puzzle dan lego
- dsb


Alhamdulillah, Athazka perkembangannya on track. Tapi bukan berarti sempurna ya. Tentu Athazka pun memiliki kelemahan, tetapi sebagai ibu yang positif, mengapa saya tidak memulai dari apa yang sudah Atha capai daripada yang belum? PR saya sebagai seorang Ibu tentu tidak akan pernah berhenti. And I'm looking forward to see his another milestone, and of course, its challange..

2011 akan segera berakhir. Tiba saatnya saya menapaki lembaran baru. Resolusi baru, tantangan baru, dan harapan baru. Saya tidak akan berhenti bermimpi. Tema besar hidup saya adalah bersyukur dan bersabar. Syukur bukan berarti menerima begitu saja apa yang sudah diberikan Alloh kepada saya, tetapi berusaha memahami tujuan Alloh memberikan karunia-Nya kepada saya. Syukur, adalah mengoptimalkan anugerah Alloh untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk menjadi manusia yang terbaik, sukses saja tidak cukup, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bagaimana caranya? Mari kita konsepkan sebagai proposal resolusi di tahun 2012. Yang jelas saya ingin menggeser  pencapaian-pencapaian pribadi saya menjadi kontribusi yang lebih bernilai.

Sedangkan sabar, bukan berarti mengalah. Sabar adalah tekun, cermat dan berhati-hati dalam menghadapi permasalahan hidup. Saya harus bisa memilah-milah masalah mana yang perlu ditanggapi mana yang cukup mengetahui. Saya harus lebih bijaksana dalam memecahkan persoalan dan menjadi lebih toleran tanpa perlu mengorbankan value yang saya yakini. Bagaimana caranya? mari kita konsepkan lagi di proposal resolusi 2012.

Anyway, di penghujung tulisan ini, saya ingin mengucapkan Alhamdulillah for the surprising 2011, and welcome to 2012. Bismillahirrohmanirrohiim.

Rabu, 28 Desember 2011

My love journey

Hm.. saya tiba-tiba mood untuk nulis dengan tema cinta-cintaan setelah baca tulisannya teman saya, Anggi. Jadi merefleksi sama cerita saya sendiri. Tapi saya setuju, kalau cinta itu penuh drama, meski ga segitunya kayak sinetron itu tuh yang ada mata mendelik-delik segala. Yang jelas, cinta itu.. seperti sebuah petualangan. Seru, dan kalau finally ketemu sama "the one", Insya Alloh happy ending..

Sebelum pacaran sama a yosi, saya pernah pacaran dengan beberapa orang tapi ga pernah secomplicated ini. Dulu tuh, kalo putus gampang banget. Ga ada deh cerita saya nangis bombay gara-gara cowok. Kalau ga cocok, ya udah jalanin masing-masing. Kalau si cowok ga terima, itu urusan dia. Saya bisa dengan mudahnya masuk ke dalam kost trus nonton TV dengan perasaan datar sementara si cowok masih termenung sedih di halaman depan kost *tepok jidat*.

Nah, karma saya akhirnya kejadian juga pas pacaran sama a yosi. Dikit-dikit mellow. Putus-sambung, tapi dramatis banget. Air mata dimana-mana. Hadeuh. Capek banget. Kalau dipikir-pikir, kok mau-maunya ya saya mempertahankan hubungan yang penuh drama ini, padahal a yosi ini bukan superstar atau Pangeran William. He's just an ordinary man. Bahkan kalau mau jujur, masih banyak admirer yang lebih dari dia. Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau chemistry antara saya dan a yosi itu 'klik' banget, meski kalau ditanya disebelah mananya? saya ga bisa jawab. We are totally different. Yang satu self centered, yang satu people person. Yang satu logis, yang satunya perasa. Yang satu hobi IT, yang satu gaptek berat. *ga usah dimention ya saya yang mana, udah ketauan sendiri deh pastinya*

Tapi bener deh, rasanya nyaman banget setiap di deket a yosi. I can see future in his eyes.  *yak, ini bagian pas soundtrack lagu the way you look at me Christian Baustista berkumandang* 

Then.. this complicated relation finally turn to marriage.  Kebayang ya, kalau berdua aja siklus up and down-nya sering, ini ditambah variabel lainnya. Horor. Months before marriage is nightmare. Bukan complicated lagi deh namanya, tapi benang kusut. Kita bahkan hanya punya waktu 1-2 bulan untuk mempersiapkan pernikahan gara-gara miskom. Rasanya kayak mission impossible. Orang lain tuh nyiapin pernikahan berbulan-bulan, bahkan years. Tapi saya ga patah semangat. At that time saya berdo'a jika memang a yosi jodoh saya, mohon dimudahkan. And the impossible thing become possible :

1. Keluarga setuju akad nikah dan resepsi dipisah dengan time lag satu bulan.
Akadnya sendiri lokasinya di Garut, which is kalau keukeuh tetap di Bogor sudah jelas kita ga bakal dapet gedung, (yak, jarak lamaran and akad cuma sebulan aja dong). Alhamdulillah di Garut banyak keluarga, jadi urusan administrasi KUA, dekor sama catering ada yang support. Kalau perias, saya satu paketkan dengan perias resepsi di Bogor. Fotografer juga saya paketkan dengan resepsi, impor dari Jakarta.  Cihuy kan.

Sementara keluarga ngurus persiapan, saya tunggang langgang cari seserahan. Seru banget kejar-kejaran sama waktu. Kalo dipikir-pikir kok kayak married by accident yang semuanya serba terburu-buru. Hahaha. Demi Alloh dan Alhamdulillah engga. Ini bener-bener pure 100% miskom. Kalo ga percaya, tanya deh sama perias saya (katanya kalo udah ga suci periasnya suka kesulitan pas dandanin karena ada aja yang salah/kurang pas) atau tamu/undangan yang datang waktu akad (kalo saya masih suci katanya riasan saya akan keliatan soft, shinning (tapi bukan mengilap) trus auranya keluar). Masih ga percaya juga? Hitung aja tanggal nikah saya (28 Juni 2008) sama lahirnya Athazka (24 April 2009). Bedanya berapa bulan tuh. Loh ini kok jadi ngomongin married by accident. Hahahaha..

Anyway, dengan persiapan sebulan itu ternyata hasilnya adalah : 9 dari skala 10!
Bahagia banget semuanya lancar pas saya dan a yosi resmi jadi suami istri.

Cerita di balik layar :
- Keluarga saya dan a yosi masih percaya tanggal-tanggalan. Jadi, tanggal pernikahan kita pun dihitung-hitung berdasarkan latar belakang saya dan a yosi oleh neneknya. Keluarlah dua tanggal. Satu tanggal 28 juni, satunya lagi kapan gitu, tapi yang jelas udah masuk tahun depannya (jauh bedanya). Ya kita milih tanggal 28 Juni lah, lebih cepat lebih baik kan.

- Dua minggu sebelum hari H, bapak saya masuk RS karena sakit, dan saya jadi bolak balik bogor-garut untuk ngecek kesehatan beliau. Tokoh utama gitu loh..

- Baru-baru ini saya baru tau kalau perias saya waktu akad itu bukan perias beneran, not even asisten perias (sebelumnya saya selalu mikir dia asisten perias). Ternyata teh Dessy itu penari, dan saya adalah pengantin pertama yang dia rias alias proyek uji coba. OMG! Untung hasilnya ga mengecewakan (kalau saya bilang bagus nanti saya dikira narsis muji-muji diri sendiri). Everybody loves it, include me. Sampe sekarang mertua saya selalu rekomendasiin sanggar rias saya setiap ada sodara/kerabat/tetangga yang butuh info perias *nah kalo ini saya GR beneran*

- Mempertimbangkan efisiensi waktu, saya memutuskan untuk tidak membuat gaun/kebaya pengantin saya sendiri. Waktu itu saya ga ribet mikir gimana-gimana. Saya ga keberatan sama sekali kalau kebaya akad saya itu sewaan yang udah pernah dipakai banyak orang. Ya kan bukan kebaya yang jadi syarat sahnya nikah. Tapi, ternyata sanggar rias saya baru selesai membuat baju akad baru untuk menambah koleksinya. Model, bahan, dan kombinasi warnanya kok 'saya banget'. Kebaya asimetris warna putih dengan aksen bunga kecil warna soft pink. Pas dicoba.. ukurannya sama persis ukuran saya. Sama sekali ga ada bagian yang dipermak. Si teteh yang bantuin saya pake baju aja sampe bingung, kok bisa pas banget. Seolah-olah itu dibuat untuk saya. Satu kata aja : Alhamdulillah..

2. Keluarga setuju acara resepsi di Gedung Bupati Bogor, Komplek Pemda Cibinong.
Secara keluarga saya terlanjur membangun kerajaan di Depok dan keluarga a yosi bermarkas di Bogor, akhirnya kita pilih jalan tengahnya, yaitu di Cibinong. Yay, jadi deket rumah deh. Hoiya, urusan catering, perias, dekor, souvenir, undangan, and the bla and the blu-nya 100% by me. Serius lo? off course darling. Kan zaman sekarang udah ada banyak web yang isinya rekomendasi serba serbi pernikahan. Repot ga? Bohong banget kalo bilang engga. Pastinya jumpalitan lah. Tapi seneng, pas resepsi semuanya lancar (kecuali tamu yang membludak yang bikin saya ga sempat lap keringat, padahal kayaknya udah turun deras kayak air terjun saking kepanasan). Ratenya : 8 dari 10 lah. Worth enaugh.

Cerita di balik layar :
-   1,5 bulan sebelum resepsi, saya dikabari bahwa gedung untuk resepsi double booked. Pengelola gedung, Si capeng dan ortunya datang ke rumah saya sambil nangis-nangis minta saya mau mundurin tanggal. Bapak sih terserah saya. Ya Alloh betenya ga bisa digambarin lagi deh. Saya kan udah booked perias, catering, dekor, fotografer dan upacara adat untuk tanggal itu. Tapi ngeliat si capeng itu saya lebih kasian. Saya kan cuma resepsi, sedangkan dia akad dan resepsi. Jadi ya udah lah, saya ngalah. Yap ngalah, dengan konsekuensi saya harus kembali menghungungi percetakan untuk hold undangan saya naik cetak hari itu juga dan buru-buru ke tebet untuk merevisi tanggal undangan (ini yang paling deg-degan karena deadline cetak beberapa jam lagi), terus menghubungi semua vendor untuk ganti tanggal. Pasrah deh kalo kena pinalty atau ga dapet vendor seperti yang direncanain semula. Tapi Alloh Maha Baik, pas saya mundurin tanggal, semua vendor saya bisa dan rela ga kenain pinalti! Bahkan perias saya yang super sibuk itu pun ditanggal yang saya mundurin pas banget masih kosong. Kakak saya dulu pesan perias ini 6 bulan sebelum pernikahan and ga dapet dong. Emang ya, rejeki ga kemana..

- Meskipun kondang, perias saya ngaretnya juara. Acara mulai jam 12 siang, jam 11 siang dia baru datang. Padahal yang dirias bukan cuma pengantin, tapi keluarga dan pagar ayu juga. Bete to the max pokonya. Udah gitu tante Rina pas ngerias kayaknya salah melulu, ada aja yang ga pas. Ya eye shadownya lah, ya alisnya lah, dan terakhir bulu mata. Hadeuh Ketauan deh udah ga 100% seperti waktu akad lagi. Yah kan udah sebulan nikah ya. Tapi saya belum honeymoon loh tante, jadi masih kinclong clong deh hasil riasannya.

- Gara-gara tante Rina telat, acara jadi ngaret. Dan tamu-tamu udah membludak banget. Pas jam makan siang pula. Bener-bener terteror deh pas masuk ruangan, sekelilingnya tamu-tamu yang udah pada laper, dan masih ada upaara adat pulak. Ih rasanya pengen saya forward deh rangkaiannya itu. Alhasil, pas udah tiba giliran salaman, pagar ayu dan pagar bagus bubar jalan. Ga bisa lagi nahan lajunya orang-orang.  Kabayang kan bagaimana kabar kami yang dipanggung?

Kalau mau lengkap lihat foto-foto nikahan ada di facebook saya atau husband, atau mampir ke wedding web kami.


Ga terasa, 3,5 tahun sudah semuanya berlalu. How our marriage now? Alhamdulillah happy. Happy disini bukan berarti senang-senang-dan senang. Of course not. To see the rainbow you must enjoy the rain. Iya, pernikahan itu seperti pelangi. Indah dan warna warni. Tapi semuanya ga bisa dinikmati kalau kita ga pernah menitikkan air mata, entah itu air mata sedih, kecewa, bahagia, atau haru. Apalagi kalau udah punya anak. Saya sendiri, semenjak Athazka lahir, rasanya pelangi saya bukan lagi mejikuhibiniu. He's more that that. He makes our life start to makes sense. Semuanya jadi jelas tujuannya.

Looking back to our journey, kesan saya setelah menikah ini cuma satu : tambah dewasa. Kalo keingetan drama-drama waktu pacaran dulu rasanya malu banget. Feel dumb. Kok bisa sih mikirnya begitu. Ternyata orangtua itu bener ya. Oh kalo dinasehatin begini maksudnya itu toh, oh kalo begini nanti begitu ya. Wah, bener-bener deh, semua harus dialamin sendiri. Apalagi pas punya Atha, I know how's my mom and my mom in law feels now.

Demikian secuplik cerita cinta saya. Sekedar sharing aja. Maaf kalo agak dangdut yaa..

PS : husband, I love you more than yesterday, but less than tomorrow.

Rabu, 14 September 2011

Dengki dan Dendam

Wahai diriku..

Rosulmu pernah berkata:
"Bahwasanya dendam dan dengki itu bisa menghanguskan amal ibadahmu"

Berarti sayang sekali rukukmu, sujudmu, dzikirmu, sedekahmu dan semua ibadah-ibadahmu yang selama ini engkau lakukan jika dibarengi dengan dendam dan dengki yang sengaja engkau pelihara selama ini..

Masih lebih baik jika engkau memelihatra binatang buas daripada memelihara dendam dan dengki dalam dirimu..

Wahai diriku..

Hanya sebentar saja dirimu tinggal di dunia ini. Dunia hanyalah sebuah alam perlintasan ruh saja. Sungguh takkan ada ketentraman dalam pedihnya sakaratul maut bagi dirimu yang masih menyimpan dendam dan dengki..

"Tidak ada masa depan bagi para pendendam dan pendengki.."

Ampuni hamba ya Rabb atas tidakmampuan mendidik diri.. Amin ya Robbal alamiin..

*taken from my bb messenger broadcasted by Mr.Juliadi Vidyatama (again). Semoga mencerahkan kita semua*

Jumat, 19 Agustus 2011

Ketika Rumput Tetangga Terlihat Lebih Hijau..

.. Then be thankful and positive!

Manusia itu lucu. Suka sekali membandingkan kehidupannya sendiri dengan orang lain. Pada tahap tertentu pengen jadi orang lain yang kita pikir lebih sukses dan happy. Padahal, it's on your mind aja. Beneran. Kita ga pernah tau loh apa yang sebenarnya dialami oleh orang lain. Bisa aja diluar keliatan happy, di dalamnya siapa yang tau?

Jadi inget iklan A-Mild yang slogannya 'rumput gue lebih asik dari rumput tetangga'. Menurut saya, itu iklan 'kena' banget. Pas menggambarkan peribahasan yang sedang saya bahas ini. Segerombolan kambing yang asik memamah rumput tergiur untuk pindah ke rumput tetangga yang kelihatannya hijau ranum, namun ketika mereka sudah melompat, barulah ketahuan bahwa rumput ranum itu cuma plastik belaka. Ada singanya lagi. Hahahaha..

So, mari kita bersyukur deh, apapun kondisinya, bagaimanapun tantangannya, jalanin aja dengan ikhlas. Yang namanya hidup pasti ada lah cobaan. Jujur sama diri sendiri, ga usah kebanyakan teori untuk menunjukkan sama dunia kalo saya ini begini dan begitu. Bukan apa-apa sih, takut kemakan omongan aja. People do change. Bisa aja hari ini kita begini, besok malah ada di posisi opposite. Malu dong udah koar-koar kesana kesini, gaya sok iye, sok asik, teori sana sini, eh prakteknya malah terjun bebas.

Love your self and let it flows..

Dan pastinya.. rumput gue lebih asik dari rumput tetangga! Ya kan?

Senin, 27 Juni 2011

Happiness are all about..

... Health and Family..

Seperti yang dikatakan oleh sahabat saya, rezeki janganlah dihitung, tetapi disyukuri karena sedikit atau banyak, itu hanya masalah sudut pandang..

It's just so true..

Beberapa hari yang lalu, saya senang luar biasa mendapati sejumlah nominal masuk ke rekening saya. Langsung merasa kaya mendadak. Pikiran untuk berpartisipasi dalam Jakarta Great Sale tentu hinggap. Sebagai pemanasan, saya sudah survey ke Grand Indonesia, Pondok Indah Mall, Plaza Senayan, dan tentu saja Margocity Mall (andalan saya tiap minggu). Itu belum termasuk icip-icip jualannya sahabat-sahabat saya. Biasa lah, kalau lagi tajir suka lupa saat-saat bangkrut. And, yes, I'm impulsive buyer. Sale is very dangerous for me.

Tapi.. dua hari belakangan ini mendadak saya radang tenggorokan. Gosh, it kills all the favor. Rasanya betul-betul tidak nyaman. Jika sekiranya ada hal yang paling berharga yang terkadang terlupakan untuk disyukuri, itu adalah kesehatan..

Saya terlalu senang menghitung-hitung yang dapat dihitung, tetapi lupa untuk menghitung yang justru tidak terhitung..

Pada saat yang bersamaan saya menderita radang, bibi izin pulang kampung. Ya, it's just the three of us in home. Saya, Athazka dan papanya. Karena saya radang, alhasil kami tidak kemana-mana. Hmm.. ke PIM sih, tapi itu pun karena ingin menukar sepatu Atha yang ternyata beda nomor kiri dan kanan di Mothercare. Saya melewatkan moment sale begitu saja. Tidak tertarik. Rasanya bermain bersama anak saya menjadi jauh lebih penting. Ya benar, saya menikmati sekali peran saya sebagai ibu rumah tangga. Ada kebanggaan dan kebahagiaan yang tidak ternilai saat saya bersama keluarga kecil saya..

Ini lucu, tapi saya merasa seperti diingatkan untuk lebih bersyukur..

Jadi, semua bukan tentang uang.. no no.. never depends your happiness on money. It's about health and family..

Meski begitu, bukan berarti uang tidak penting ya. So klise jika mengingat biaya hidup zaman sekarang. Sometimes, quality is subject to price. Oleh karena itu, berpikir untuk save and invest itu tetap perlu. Dengan perencanaan finansial yang baik, mudah-mudahan apa yang dihasilkan hari ini bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar, tidak hanya untuk diri sendiri saja tetapi untuk orang lain.

In short, money is important, but it's not everything. Jangan pernah merasa kekurangan selama masih memiliki keluarga serta dilimpahi kesehatan..

Kamis, 16 Juni 2011

Kepompong

Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
 
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagi kepompong

Lirik lagu sindentosca di atas lagi terngiang-ngiang nih. Jadi kangen sahabat-sahabat saya, termasuk kakak dan adik-adik saya. Times when I'm around them are always healing. Setuju deh, yang namanya persahabatan itu seperti kepompong. Kalau berkualitas, akan menghasilkan kupu-kupu yang indah. Ga harus selalu seiya sekata sih coz difference is beauty in its way. Yang jelas everybody needs to be understood, bener ga?

In relationship, apapun bentuknya, kita ga boleh dong pake sudut pandang diri sendiri terus. Sekali-kali harus belajar menempatkan diri kita pada posisi orang lain. Ga boleh juga membentuk opini berdasarkan perasaan sendiri, tanpa mencari tahu latar belakang permasalahannya. Kalau memang salah, ya konsekuen, jangan balik nyerang karena pengen keliatannya bener melulu. Kenyataannya, setiap manusia bikin salah kok. Tapi juga bukan rahasia lagi kalau ego manusia itu gede. Kalau dikasih masukan, naturally akan defense duluan. "Emangnya situ orang suci?" atau "daelah kayak situ sempurna aja". Hehe, it often comes to me also..

Takes times emang untuk nerima masukan dari orang lain dengan legowo. Apalagi untuk meralat pendapat defensif kita sebelumnya.Yah, kecuali kalau tingkat keimanan udah kayak sufi ya. Tapi it's okay kok. Normal. Saya aja pernah ga bicara sama kakak saya selama 3 bulan gara-gara berantem (you know kan, when sisters get chaos, it will touch untill the depeest heart). Tapi by the time going, saya bisa memahami kakak saya dan begitu pun dia. Cerita berakhir dengan happy ending. Kata kuncinya sih satu : harus mau mengakui kesalahan kalau memang kita salah dan ga mentang-mentang punya posisi superior (misalnya kakak = orang yang lebih tua = adik harus hormat), terus ga mau keliatan salah karena gengsi. Tapi itu aja ga cukup kalau pihak yang satunya lagi masih take everything too personal alias sampai matipun masih keinget-inget kesalahan orang lain. Ya ampun, Tuhan aja Maha Pemaaf. Kalau memang bener-bener forgiven, ya harusnya forgoten lah. Ngeberat-beratin hati aja inget-inget kesalahan orang (sambil bawa kaca segede gaban ke depan muka saya sendiri).

Pada kenyataannya, kebanyakan yang menang adalah ego. Kalau menurut saya, mungkin itu mekanisme alami untuk menyeleksi persahabatan yah. Karena ketika kita sayang sama orang, bagaimanapun kesalahan yang pernah dia buat, pasti deh rasa sayangnya tetep lebih besar. Menuju perdamaian, hanya masalah siapa yang mau memulai duluan. Sebaliknya, kl rasa sayangnya ga tulus, sekecil apapun kesalahan orang itu, akan tampak bak dosa besar yang ga terampuni. Mau siapapun yang memulai, yang ada malah tambah kisruh. Yah, berarti emang ga cocok kali ya. Untuk kasus ini, memaksakan harmoni malah akan jadi boomerang. Mending jaga jarak. Bukan berarti tak sayang loh..

Senin, 13 Juni 2011

Ibu yang berhasil adalah..

.. bukan yang memiliki pendidikan yang tinggi,
Bukan yang memiliki karier gemilang,
Bukan yang memiliki tempat di lingkungan sosialnya
Bukan yang terafiliasi dengan banyak komunitas,
Bukan yang rajin datang ke pengajian,
Bukan pula yang punya banyak waktu di rumah..

Ibu yang berhasil adalah..
Mereka yang berhasil menjauhkan putera-puterinya dari pergaulan bebas dan narkoba!

Lalu bagaimanakah caranya? Saya juga tidak tau. Saya belum bisa berpendapat apapun tentang ini karena saya masih menjalani prosesnya.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa pola pengasuhan yang konservatif adalah yang terbaik. Ibu turun tangan langsung mengasuh anaknya sampai mengurusi ke detail-detailnya, ayah fokus pada karier sebagai pencari nafkah. Bukankah kodrat wanita yang ideal seperti itu?

Tidak juga. Rasanya perlu dibedakan antara kodrat dan konstruksi budaya. Bahwa seorang wanita akan menajadi ibu, yes itu kodrat. Tetapi menjadi penyelenggara semua kegiatan domestik, itu kontruksi budaya. Tidak ada dalil agama atau apapun yang melarang seorang wanita, even ketika dia sudah menjadi ibu untuk mengembangkan diri. Namun, konstruksi budaya yang masih terpengaruh nilai-nilai feodalisme seringkali menyematkan stempel egois pada mereka yang memilih jalan itu.

Apabila dikaitkan dengan dua issues parenting tadi, jika benar pola pengasuhan konservatif berkorelasi terhadap hal tersebut, lalu mengapa kasus-kasus anak-anak/remaja yang terjerumus pergaulan bebas/narkoba justru lebih banyak terjadi pada keluarga yang ibunya merupakan ibu rumah tangga? Saya pernah mendengar hal ini waktu talkshow Kick Andy beberapa waktu yang lalu (CMIIW). Saya terkejut dan agak miris juga, tapi begitulah adanya. Seorang narasumber mengatakan fenomena itu sebagai 'orangtua ada tapi tiada'. Secara fisik dia ada di rumah, tetapi secara emosional, pikirannya ada dibanyak tempat.

Saya sendiri  merupakan produk dari pengasuhan seorang wanita karir. Pada masa kecil saya, banyak pertanyaan yang menghinggapi saya mengapa ibu harus bekerja. Tetapi seiring perkembangan saya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu berganti menjadi kebanggaan. Saya senang karena ibu saya memiliki wawasan yang luas. Saya senang karena saya bisa bertanya banyak hal padanya dan dijawab dengan ilmiah dan analitis (yang seringkali membua saya kecil termangap-mangap). Saya senang karena ibu selalu mendukung saya untuk memiliki cita-cita setinggi langit. Saya ingat, waktu kecil saya seringkali menuliskan nama saya lengkap dengan gelar profesor, doktor dan master. Saya menconteknya dari gelar ibu Miranda Goeltom, orang yang dua puluh tahun kemudian sempat menjadi pimpinan puncak dimana saya bekerja (Pertama kali bertemu beliau, saya merasa kembali menjadi kanak-kanak yang penuh euforia). Meski bekerja, saya dapat mengatakan ibu saya sukses karena saya dan saudara-saudara saya tidak tersentuh oleh pergaulan bebas dan narkoba. Saya bertanya pada ibu, apa rahasianya? Ibu saya hanya mengatakan : Banyaklah berdo'a, nak. Mama selalu menitipkan kalian semua kepada Allah, pemilik kalian yang sesungguhnya..

Sesederhana itu, tapi benar adanya. Mungkin kita terlalu banyak berteori.

Jadi, bagi para wanita yang ingin mengaktualisasikan dirinya, go ahead. Menurut saya, hal tersebut tetap perlu, apapun wujudnya. tergantung passion, karena secara teori (again, teori lagi), kebutuhan aktualisasi diri ini akan muncul jika kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) sampai lapis ketiganya (social needs) sudah terpenuhi. Bukannya sombong, tetapi rasanya memang sulit untuk menjelaskan mengenai kebutuhan aktualisasi ini kepada orang-orang yang masih strugling dengan kebutuhan dasar sampai lapis ketiga itu tadi. Kesannya jadi banyak maunya. Padahal itu fitrah. Dan ini sudah divalidasi oleh berbagai penelitian, salah satunya oleh Abraham Maslow.

Tapi itu baru teori ya, prakteknya sendiri saya belum bisa memvalidasi berdasarkan pengalaman saya sendiri. I'm still working on it. Yang jelas, menjalankan peran ganda memang tidak bisa dikatakan ringan. Mengejar impian tanpa mengesampingkan tugas sebagai ibu itu luar biasa sulitnya. Tapi saya ga mau mengunderestimate diri sendiri. Selama agama saya ga melarang, selama suami saya merindhoi, saya ingin terus berkarya semampu saya. Untuk saya, dan untuk Athazka. One day, saya ingin membuat dia bangga akan pilihan saya sebagaimana saya bangga terhadap pilihan ibu saya.

Saya sendiri tidak pernah memandang negatif terhadap wanita-wanita hebat yang tetap melanjutkan cita-cita dan mimpinya, even when she alrady has a child/children. Diantaranya teman baik saya, Sita (yang saat ini berada di London, pursuing her dream with a baby inside her uterus, and a boy awaiting in Indonesia), Mba Meidi (yang secara konsisten masih rajin menulis resensi buku diantara kesibukannya menjadi ibu dari 3 anak yang beranjak dewasa), Mita (yang rajin mempublish tulisan-tulisan ilmiah bertema psikologi, diantara kesibukannya membesarkan anak), Ichan  ( yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan studi doktornya di Jepang dengan ditemani yuuki yang masih bayi), Mbak Laila (yang sedang merampungnya studi doktornya di UGM dengan ditemani si cantik endek, yang masih SD), dan banyak lainnya. Mereka semua mengagumkan.. 

Jadi, marilah kita menjalankan peran kita dengan baik as parents. Tidak ada standar ideal, karena, once again,  ibu yang berhasil, orangtua yang berhasil adalah mereka yang bisa mengawal anak-anaknya dengan baik dan terhindar dari hal-hal negatif. That's it.

Semoga saya bisa, sebagaimana ibu saya bisa.. Amin ya Allah

Rabu, 18 Mei 2011

Against bullying

Sebetulnya saya lelah sekali sore ini, tetapi saya tidak tahan untuk menumpahkan perasaan saya setelah mendengar berita tentang meninggalnya bocah berumur 5 tahun di tegal, Jawa tengah akibat dikeroyok oleh teman sebayanya. Ya Tuhan.. How come bocah berusia 5 tahun sudah memiliki mental untuk menyiksa sesamanya?

Hati saya sungguh miris. Rasanya ingin sekali mengajak semua orang untuk berkampanye menyuarakan anti bullying. Suah saatnya kita lebih memperhatikan lagi masalah-masalah psikologis anak daripada sekedar memenuhi kebutuhan jasmaninya saja.

Dalam kasus pengeroyokan balita oleh balita tadi, menurut saya, tanggungjawab terbesar ada pada orangtua balita-balita itu. Ada something wrong dengan pola pengasuhan orangtuanya, pasti. Entah bagaimana, seorang pelaku bullying biasanya memiliki kebutuhan akan pengakuan yang besar dari lingkungannya. Yang saya tidak sadari adalah perilaku itu bahkan sudah dapat muncul ketika anak berusia 4 tahun. Be careful parents..

Dalam kondisi yang ideal, ketika seorang anak tercukupi kebutuhan afeksinya, tercukupi pula kebutuhan sosialnya dimana dia sudah terbiasa bergaul dengan anak-anak seusianya, maka lama kelamaan dia akan belajar untuk berbagi, belajar untuk menahan ego, belajar untuk memimpin, dsb. Namun, semuanya perlu dalam pengawasan orang yang lebih besar mengingat filter dalam pikiran anak-anak masih belum well established.

Dari sisi internal, ada pendapat bahwa perilaku bullying anak diperoleh dari orangtuanya. Secara sadar maupun tidak sadar, orangtua mungkin suka merendahkan, menghina, mengejek oranglain entah dengan maksud bercanda atau bukan. Anak-anak akan menangkapnya bulat-bulat. Jika orangtua menikmati sensasi dari perasaan 'hebat' yang diperoleh dengan cara menghina orang lain, maka anak-anak pun demikian. Mereka akan menganggap dirinya hebat jika dapat membuat orang lain tampak lemah dan memalukan. Sudah sering kan mendengar anak yang usianya belia namun perkataannya tajam?

Jika hanya sebatas pada perkataan, agak mendingan dibandingkan dengan penggunaan kekerasan seperti kasus pengeroyokan balita di atas. Untuk kasus ini, bibit bully yang sudah ada pada anak, menurut saya, diperparah dengan tayangan kekerasan yang sering muncul di tv. Tidak mungkin kan anak sekecil itu memiliki ide untuk melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat? Saya rasa media berperan besar dalam hal ini. Lagi-lagi, kurangnya pengawasan orang yang lebih besar menjadi faktor yang memperparah.

Parents, please take a look deeper to our kids..

Tolong ajarkan anak-anak kita untuk rendah hati..
Tolong ajarkan anak-anak kita untuk menghargai..
Tolong ajarkan anak-anak kita untuk percaya diri tanpa perlu menjadi superior..
Tolong ajarkan anak-anak kita untuk dapat menerima kekurangan tanpa perlu merasa rendah diri..

Dan yang terpenting, berilah contoh dan teladan yang baik sebagaimana ajaran agama yang kita yakini..

Saya belum dapat melakukan sesuatu yang besar dalam memerangi bullying. Tapi saya akan memulainya dari diri saya sendiri, sekarang.. 

Kamis, 28 April 2011

Seminar Smart Parenting

Saya baru mengikuti Seminar Smart Parenting di kantor saya siang ini. Narasumbernya Ayah Edi, readers sudah familiar dong ya. Seminarnya bagus, meski agak bertele-tele, tapi cukup menambah wawasan saya sebagai orangtua. Maklum, saya baru 2 tahun memasuki dunia parenting. Rasanya masih banyak yang perlu saya upgrade tentang dunia yang menurut saya paling menantang ini. 

Untungnya saya bergabung di institusi yang cukup concern terhadap dunia parenting, bahkan sering memfasilitasi pegawainya dengan penyelenggaraan berbagai seminar. Thanks office!

Back to the seminar, dari semua pemaparan yang dijelaskan oleh Ayah Edi, intinya, dalam mendidik anak, kenali dulu tipe anak kita karena tidak semua anak dapat digeneralisir. Saat anak menunjukkan perilaku yang sulit, maka introspeksilah dulu kita sebagai orang tua. Karena mostly anak adalah miniatur dari perilaku orang tuanya.

Yang agak sulit mungkin bagian menahan emosi. Yap, parents pasti tahu bagaimana gemasnya kita jika anak tidak mau menuruti perintah kita. Sabar adalah jalan terbaik. Bagaimanapun juga, eksplorasi anak jangan dianggap sebagai kenakalan.

Oya, dari tipe-tipe anak yang dipaparkan, saya baru mengetahui jika Athazka termasuk tipe melankolis. Lembut hati. Mudah tersentuh. Dan pada usia sekarang akan cenderung cengeng. Semua ciri-ciri melankolis ada pada Atha, termasuk bentuk matanya. Untuk menghadapi si melankolis, saya tidak boleh menerapkan sistem reward dan punishment, saya justru harus lebih menekankan pada rasa empati. Menempatkan diri saya, logika saya pada posisi Atha yang baru berusia 2 tahun. Sudah dapat ditebak, pasti bukan hal yang mudah ya. Saya harus bisa memposisikan diri saya sejajar dengan Atha. Wah ilmu saya bertambah nih.

Oya, jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang tipe-tipe anak serta pendekatan terbaik menghadapinya, readers dapat membaca buku Ayah Edi. Ada beberapa judul. Cari di toko buku terdekat ya. Jika saya berhasil mendapat softcopy dari seminar tadi, nanti saya akan sharing selengkapnya.

Let's practicing!

Senin, 25 April 2011

Ayoo.. sekolah!

Minggu lalu suami saya mendapatkan undangan acara penglepasan wisudawan pascasarjana di Hotel Four season, Jakarta. Tertera di amplop undangan itu, yth. Sdr. Yosi Tapjani, S.E, M.M. Huaa..akhirnya dia menyandang gelar itu juga. Bagaimana dengan saya?

Ketika melamar saya dulu, suami saya pernah mengungkapkan cita-citanya bahwa baik dia maupun saya harus memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan. Hanya, waktunya yang nanti disesuaikan. Pada saat itu, suami saya sedang dalam proses merampungkan studi masternya.  Idealnya, begitu suami saya selesai dengan studinya, giliran saya yang maju ke jenjang master.

Setahun berlalu pasca kelulusan suami saya. Where I am now? Ternyata saya masih terlalu menikmati peran saya sebagai ibu. Memiliki seorang putra lucu seperti Athazka membuat orientasi saya berubah haluan. Saya tidak lagi menggebu-gebu, santai, dan mungkin pernah juga berpikir untuk tidak usah melanjutkan sekolah. Saya rasa, apa yang saya miliki sekarang telah melebihi apa yang pernah saya impikan. It's my comfort zone.

Sampai suatu hari, teman seperjuangan saya di kantor, mba santi, berhasil diterima di dua universitas bergengsi di USA : Chicago University dan New York Univesity. It's a wow! Chicago and NYU!
Harus saya akui bahwa semangat mba Santi membangunkan cita-cita lama saya yang mulai buram sebelumnya. Yap, saya mulai kembali berpikir untuk sekolah.

Tidak disangka, pada waktu yang hampir bersamaan, suami saya mempertanyakan kesepakatan kami perihal sekolah. Saya surprise karena saya pikir suami saya termasuk tipe konservatif yang menganggap bahwa aktualisasi seorang istri tidak harus di luar rumah. Ditengah kegamangan saya dalam memutuskan, suami saya justru lebih bersemangat dibandingkan saya. Berulang kali dia menegaskan bahwa tidak ada hal lain yang lebih dia inginkan saat ini selain melihat saya kembali ke habitat saya, kampus. Oya, salah satu 'pecutan' yang kerap dilayangkan oleh suami saya adalah Athazka. Bayangkan Athazka memiliki figur terdekat yang dapat dia contoh dan banggakan. Oh yeah, It's so Inspiring.

Baiklah, semua tidak harus dilakukan dengan tergesa-gesa bukan? Saya belum membuat keputusan final tentang ini, tetapi sebagai persiapan, saya sudah mulai bergeriyla mencari tempat kursus TOEFL dan GMAT. Saya masih melihat berbagai kemungkinan serta mempertimbangkan dengan matang berbagai plan jika saya mantap melanjutkan sekolah. Mimpi saya adalah tetap bersama-sama dengan keluarga kecil saya dimanapun dan kapanpun. Jika diizinkan oleh Alloh SWT, salah satu skenario yang saya inginkan adalah: saya mengambil master degree, suami bekerja di salah satu lembaga internasional yang ada negara itu dan Athazka will have his preschool/kindergarden abroad (hopefully it's UK). 

Amin Ya Alloh ya Robbal Alamin..

PS :
Athazka sabar ya sayang. Mom is really trying the best to accomplish our goals. Once you through it, you will learn about peace, patience, and happiness. Just don't search it boy, it's in within.  It's in your heart. It's you who decide. Don't let your feeling control everything..

I tell you something. It is true that I'm not always around you, but when you're sleeping, I am filling your heart with love. It's growing in my heart I can do nothing but sharing with you. I know you can feel it.. *smooch*

Kamis, 21 April 2011

Kesetaraan gender dan feodalisme

Kartini, pejuang kesetaraan hak-hak wanita pada masanya. Hingga kini, semangat kesetaraan tersebut diperingati setiap tanggal 21 April. Beberapa satker di kantor saya menyarankan pegawai wanita mengenakan kostum kebaya. Lucu sih, kreatif. Tapi untuk seorang commuter seperti saya tentu artinya juga adalah repot. Hehe. Piss ahh..

Anyway, talking about kesetaraan gender, saya senang dan bersyukur hidup di masa sekarang dimana feodalisme sudah dianggap so yesterday. Bisa dibilang, saat ini wanita memiliki hak-hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam segala hal: pendidikan, pekerjaan, eksplorasi diri, kreativitas, etc.. (you name it).

Tapi kadang kesetaraan gender ini dipahami secara kebablasan oleh kaum pria. Mau contoh? Lihat saja di kereta jabodetabek ekspress. Para laki-laki sudah tidak malu-malu lagi mengokupasi kursi ibu hamil. Duh..

Bukan saya bersikap ambigu, apalagi oportunis, akan kesetaraan gender ini, tetapi dalam pandangan saya, ada beberapa hal kodrati yang secara fitrah memang memerlukan pengecualian. Misalnya, dalam kasus ibu hamil. Jika seandainya laki-laki bisa hamil, saya tentu akan dengan senang hati menghapus pengecualian tadi.

Satu lagi, bagi saya, sehebat-hebatnya wanita dalam eksplorasi dirinya sebagai individu, ketika memasuki kehidupan rumah tangga, maka ia tetaplah wanita sebagaimana halnya kartini pada masanya, Bukan berarti melulu mengurus dan bertanggungjawab penuh atas kehidupan domestik (pada hal-hal teknis kini hal tersebut dapat dibagi dua dengan suami dengan konsep teamwork), tetapi yang saya maksudkan disini adalah wanita sebagai makmum yang tetap perlu untuk menghargai suaminya sebagai pemimpin. Untuk hal ini saya tidak memandangnya sebagai bentuk lain dari feodalisme, melainkan kodrat.

"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik" (Rohana Kudus).

Selamat hari Kartini!

NB: Happy Birthday to my lovely Lakeisha Kayla Athasari (teteh kekey), semoga menjadi anak yang sholehah dan membanggakan ya sayang. Amiin..

Rabu, 13 April 2011

Mom's don't give up!

Tulisan ini terinsipirasi dari banyaknya pro dan kontra yang dihadapi oleh mommies zaman sekarang dalam setiap perjuangannya memberikan yang terbaik selama masa tumbuh kembang anak.

Saya pribadi kadang merasa miris dengan beberapa kampanye yang justru bukannya encouraging, malah irritating.

Jujur, ketika saya menjadi seorang ibu, itu adalah moment dimana saya sadar bahwa saya memikul tanggungjawab yang luar biasa besarnya. Dalam definisi saya, orangtua yang baik adalah orangtua yang mampu mengawal anak menjadi yang terbaik sesuai passsionnya, sehingga kelak dia akan menjadi orang yang dapat berkontribusi bagi lingkungannya. Untuk itu, selain kesehatan fisik, parents juga perlu mulai memfokuskan pada kesehatan psikologis dan mentalnya. Rasanya, itu pula yang menjadi main issue mommies zaman sekarang. Sungguh merupakan tantangan yang besar untuk dapat menciptakan atmosfer yang penuh cinta ditengah-tengah waktu dan kesibukan mommies.

Saya masih ingat nasihat orangtua saya, bahwa cara terbaik mendidik anak adalah dengan memberikan teladan yang baik. Apabila dikaitkan dengan tantangan dalam menciptakan lingkungan yang penuh cinta, menurut saya, step pertama yang perlu dilakukan mommies adalah menerima kondisi kita sebagai mommy yang memiliki banyak sekali kekurangan. Jangan mem-push diri untuk menjadi sempurna karena nantinya hanya akan membuat anak tampak sebagai 'beban'. Enjoy your motherhood yaaa..

Ketika kita menikmati peran kita sebagai mommy, anak akan merasa 'diterima' sebagai karunia yang tidak ternilai. Dengan begitu, hubungan batin antara mommy dan anak akan terjalin dengan sendirinya. Tulus. Tidak direkayasa.

Sikap penerimaan terhadap diri sendiri ini pula yang nantinya akan menjadi benteng pertahanan mommies dalam menjawab issue-issue parenting yang sedikit atau banyak akan menimbulkan friksi di hati mommies. Manusia kan heterogen. Pasti ada lah satu-dua atau beberapa certain people yang terus membombardir kita dengan perbandingan-perbadingan you vs the ideal's. Oh yes. It's happen.

Jadi, bersihkanlah hati terlebih dahulu. Saya sendiri ingin memberikan contoh kepada anak saya bagaimana caranya bertahan untuk tidak berlarut-larut dalam penyesalan dan caranya agar tidak berbesar kepala ketika menghadapi keberhasilan.

Contohnya:

Saya tidak mau berlarut-larut dalam penyesalan dan komentar orang-orang yang bertanya kenapa saya melahirkan dengan cara Sectio Caesar. Mereka semua tidak berada dalam posisi saya saat itu. Belum menjadi wanita sejati jika belum melahirkan normal? Tutup kuping. Selesai urusan. Saya masih punya segudang tantangan ke depan. Apabila ditanyakan kepada hati nurani, tentu saya sedih. Meskipun saya tampak tegar, jika ada perbincangan mommies bertemakan ini, pasti hati saya tergores, meskipun sedikit.

Di sisi lain, saya pun tidak hendak berbangga hati karena saya berhasil memberikan ASI kepada anak saya selama 2 tahun (kurang 3 bulan). Saya termasuk mommy yang blessed karena produksi ASI saya masih lancar tanpa harus bersusah payah mengusahakan ini dan itu. Saya bahkan menyapih anak saya di saat ASI saya masih berproduksi (keputusan berat itu diambil dengan pertimbangan yang matang, namun saya tidak hendak membaginya karena yang berkepentingan terhadap keputusan saya bukanlah oranglain yang tidak berada dalam posisi saya saat itu.)

Meskipun tergolong sukses menyusui Atha, saya tidak hendak menggunakan istilah Sarjana ASIX, S2, S3 atau apa lah. Mohon maaf, bagi saya menyusui bukanlah sesuatu yang pantas untuk menjadikan saya atau anak saya merasa ekslusif. Biasa saja. Selain itu, saya juga kurang setuju dengan istilah itu karena seolah menjadikan anak saya superior dan istimewa dibandingkan anak-anak lainnya. Ya mungkin saya terlalu perasa, tetapi adalah mimpi buruk bagi saya jika secara tidak sadar saya membentuk anak saya menjadi pribadi yang sombong.

Oya, saya juga amat mengecam penggunaan istilah 'bayi sapi' atau 'ASI Nazi'. Dua-duanya kasar, namun herannya justru ramai dan sering berseliweran di forum ASI vs Sufor. Saya heran, bagaimana bisa mommies menciptakan lingkungan yang penuh cinta kepada anak dengan mental seperti itu? Urusan menyusui bukanlah perkara menang atau kalah karena kondisi momies kan berbeda-beda. Jangan terpancing ya mom. You are the best for your baby!

Nah, itu baru dua issue. Masih banyak issue-issue lain yang akan mommies hadapi selama masa tumbuh kembang anak. Saya sendiri saat ini sedang sibuk menenggelamkan diri di literatur dan diskusi kesehatan. Tujuannya sih ikut aliran RUM (Rational Use of Medicine). Tapi once again, saya mempelajarinya dengan santai, tidak ngotot atau sebagainya (selain, ilmu saya masih belum ada apa-apanya). Mudah-mudahan bisa konsisten menerapkannya ya.

Gosh, tulisan saya jadi panjang dan tidak fokus. Tapi intinya satu. In any condition, mom's don't give up! Just don't let the negative words  make u down. We know what the best for our child. To raise our child with love is much more important than listening to people's opinion.

Senin, 28 Februari 2011

Diary of a working moms (Part II)

Selepas shalat Ashar, seorang teman mengirimkan pesan perpisahannya melalui email. Ya, dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Kaget? tidak juga, saya tidak pernah merasa ada yang salah dengan pilihan hidup seorang wanita yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Bahkan, jika dijalani dengan penuh dedikasi, karir tertinggi untuk seorang wanita -menurut saya- adalah di rumah, yaitu ketika seseorang bekerja dengan bayaran yang tidak dapat dinilai dari uang : cinta dari yang tercinta.

Berikut adalah sepenggal kata-kata perpisahannya

Lalu mengapa saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang –a-million-people-would-kill-for?

Terlalu panjang jika dijelaskan detail mengenai keputusan pengunduran diri saya. Singkatnya keputusan besar ini diambil murni karena alasan pribadi. Saat ini keluarga saya lebih membutuhkan kehadiran saya di rumah. Klise tapi benar adanya, setiap orang memiliki kondisi, preferensi, kebutuhan, pertimbangan dan tujuan hidup yang berbeda…sehingga keputusan saya ini bukan lagi masalah apa yang salah atau apa yang benar, namun apa yang saat ini saya pertimbangkan paling sesuai untuk saya dan keluarga.

Betul bahwa semua orang memiliki kondisi, preferensi, kebutuhan, pertimbangan dan tujuan hidup yang berbeda. Saya sendiri saat ini masih memutuskan untuk bekerja karena semua hal-hal tadi masih mendukung saya untuk berkiprah di instansi yang katanya a-million-people-would-kill-for. Jika suatu hari nanti saya dihadapkan dengan sikon yang sama seperti teman saya, mungkin saya pun akan mengambil keputusan yang sama. Dan saya tidak dalam kondisi yang harap-harap cemas sikon semacam itu tidak akan menghampiri saya selama-lamanya. Biasa saja. Saya masih melihat bahwa banyak hal yang masih bisa saya lakukan meskipun saya di rumah. Mungkin menulis jurnal, memperdalam kursus mc, kembali kuliah dan jika memungkinkan mengajar (yang waktunya lebih fleksibel).

As a working moms, saya memahami betul perasaan teman saya. Tidak mudah, bahkan dapat dikatakan tidak mungkin untuk membagi waktu dan konsentrasi dalam dua hal, pada waktu yang sama, dengan kualitas yang sama baiknya. At some point, semua memang terasa seperti pilihan. Saya sendiri hingga saat ini masih memendam cita-cita untuk dapat melanjutkan kuliah di INSEAD (ya, INSEAD! just call me crazy). Tetapi saya sadar bahwa saya sekarang tidaklah sama seperti saya 5 tahun lalu yang amat ambisius dan menggebu-gebu. Saya sekarang adalah seorang istri dan ibu dari seorang putra berusia 2 tahun. Manajemen ego saya sekarang sudah mengalami akslerasi. Dan saya tidak keberatan untuk menunggu waktu yang tepat hingga tiba saatnya saya kembali ke "arena pertempuran". Saya memprioritaskan rumahtangga saya. Kebahagiaan suami dan anak adalah tujuan hidup saya.

Apalagi dengan perkembangan zaman yang semakin abu-abu, praktis pilar pertama dalam pembentukan kepribadian yang kokoh adalah keluarga. Keluarga yang utuh dan bahagia akan menghasilkan generasi yang sehat secara mental. Dan untuk seorang wanita, itulah kesuksesan yang utama.

Meskipun begitu, bukan berarti menjadi working moms begitu nista dan egois. Saya sendiri sudah lelah sekali dengan tema working moms vs housewife. Semua dikembalikan lagi kepada sikon masing-masing. Tidak semua anak yang bermasalah memiliki ibu yang bekerja, dan tidak semua ibu rumah tangga memiliki anak yang tidak bermasalah. Ada kelebihan dan kekurangan. Yang saya ingin tekankan disini adalah, mari kita memberikan yang terbaik bagi keluarga kita, dalam peran apapun, untuk menciptakan generasi yang lebih baik.

Senin, 06 Desember 2010

3 Things

Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali :
1. Waktu
2. Kata-kata
3. Kesempatan
So, manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, berhati-hatilah dengan kata-kata yang diucapkan dan bersiaplah menyambut kesempatan. Semoga kita semua dijauhkan dengan hal-hal yang akan mendatangkan penyesalan.

3 hal yang dapat menghancurkan hidup seseorang:
1. Kemarahan
2. Keangkuhan
3. Dendam
Mengakui kesalahan, menerima kekurangan dan berintrospeksi adalah lebih baik daripada melampiaskan kekesalan dengan berbalik menyerang, mencari-cari kesalahan orang lain dan menyimpan bara dendam (ciri-ciri manusia angkuh)

Ada 3 hal yang tidak boleh hilang :
1. Harapan
2. Keikhlasan
3. Kejujuran
Andrea Hirata dalam buku Laskar Pelangi pernah menulis.. "bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". That is so right. Bermimpilah selagi mimpi itu gratis. Jangan putus berharap.  Itulah yang akan memacu semangat kita untuk mewujudkannya. Dan percayalah, di dunia yang semakin menyerupai panggung sandiwara ini, akan selalu ada tempat yang istimewa untuk keikhlasan dan kejujuran, value utama yang harus dimiliki setiap insan.  Konsistensi dalam berbuat ikhlas dan jujur niscaya membuahkan hasil yang indah : hidup yang nyaman dan bebas dari rasa takut.

3 Hal yang paling berharga :
1. Kasih sayang
2. Keluarga dan sahabat
3. Kebaikan
Tidak perlu diuraikan lagi. It's clear bahwa atas apapun yang kita usahakan, semuanya akan tertuju kepada keluarga serta sahabat tercinta, tempat dimana kasih sayang paling tulus di dunia dapat dirasakan.  

3 Hal yang membentuk karakter seseorang:
1. Komitmen
2. Ketulusam
3. Kerja Keras
Pernah mendengar istilah "no pain, no gain"? It's so true karena manusia yang sukses adalah yang selalu bekerja keras dengan tulus dan penuh komitmen.  

3 Hal yang membuat kita sukses :
1.Impian
2.Kemauan
3.Fokus
If there is a will then there is a way. Asalkan ada kemauan, maka ada seribu jalan menuju roma. Fokuslah pada tujuan, singkirkan rasa takut dan pesimis, bersiaplah menuju sukses!

*forwarding from my blackberry broadcasted message*

Happy Monday All. Cheers ^_^

Selasa, 23 November 2010

Attitude

Benar kata pepatah bahwa pelajaran bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja. Seperti halnya hari ini. Hatiku begitu tersentuh oleh status Fb seorang teman yang berbunyi :

If you don't like something, change it. If you can't, change your attitude..

Ya mungkin aku telah sampai pada titik dimana idealismeku tidak lagi dapat kupaksakan harmonisasinya dalam dunia yang semakin berubah. Pada hal-hal tertentu, di saat seluruh dunia memandangnya sebagai sesuatu yang biasa, aku masih stuck dengan nilai-nilai jadul yang ditanamkan orangtuaku. Saat aku memperjuangkannya, aku nampak konyol dan begitu menentang arus atau lebih parah lagi, yaitu ditempatkan dalam posisi yang salah. 

Ada sebuah hadist yang kurang lebih mengatakan seperti ini :
Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikan itu adalah selemah-lemahnya iman (Hadits riwayat Imam Muslim). 

Aku tidak bisa merubah dunia, aku hanya mampu merubah diriku. Merubah sikapku, merubah cara pandangku. Anggaplah ini sebagai wujud kompromiku akan semakin majunya peradaban. Walau begitu, aku tetap menolak untuk menjadi liberal. 

Aku ingin menjadi manusia pertengahan saja.

So, from now on, it's just me and my happy life..

Kamis, 14 Oktober 2010

My Own Weather

It's my blog name. Sebetulnya kalimat ini aku peroleh saat aku mengikuti In House Training (IHT) di Cirebon beberapa waktu yang lalu. Tema yang diangkat yaitu mengenai 8th Habits of Highly Effective People yang -tentu anda pasti sudah tau- diciptakan oleh Steven R. Covey. Tema ini dibawakan dengan baik oleh tim pengajar dari Dunamis.

Sewatu masih mengikuti pendidikan di Kemang, materi ini juga pernah diberikan oleh tim dari dunamis, namun tidak terlalu mendalam. Aku bahkan pernah dihadiahi sebuah buku 7th habits (waktu itu Covey belum menambahkan habits yang kedelapan). Buku yang amat bagus menurutku. Membuat kita bersemangat untuk maju tanpa lupa untuk bersyukur. Lengkapnya mengenai 8th habits ini dapat dibaca disini  atau disini.

Anyway, kalimat my own weather memang tidak termasuk dalam satu dari habit-habit tersebut, namun apabila anda mengikuti pelatihan ataupun membaca bukunya, you will understand what i mean. It's a beautiful way to live this life..

Semua orang pasti memiliki cita-cita, mimpi dan tujuan hidup. Idealnya, tujuan tadi harus dibarengi oleh usaha yang maksimal untuk mencapainya. Sayangnya, ketika things are not going as expected, mulailah kita mencari-cari kambing hitam sebagai justifikasi atas kegagalan tersebut. Dan yang paling disalahkan adalah takdir, nasib, dsb. Tapi apakah benar begitu?

Menurutku pribadi, tidak ada satu pun keberhasilan yang dicapai tanpa usaha yang keras. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11). Dari kalimat tersebut, dapat ditarik sisi positifnya bahwa sesungguhnya God already gives us privilleges to create our own weather. Mau cerah atau mendung, itu semua tergantung kita. Faktor utama keberhasilan atau kegagalan adalah diri kita sendiri. Dan orang yang paling bertanggungjawab atas apapun yang terjadi di kehidupan kita serta pada setiap keputusan-keputusan yang dibuat(even the smallest one) adalah diri kita sendiri.  

It's me who in charge of every single decision in my life..

Jadi, hentikanlah untuk selalu menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan ketika menghadapi sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan kita. Ibarat kata, buruk wajah cermin di belah.

Namun demikian, bersikap konsisten dan konsekuen memang ternyata tidak sesimple itu. Tidak lantas menjamin bahwa hidup kita akan berjalan mulus-mulus saja. Komentar miring bahkan fitnah seringkali muncul menyertai perjalanan hidup ini. Bagaimanapun juga preferensi orang lain terhadap kita, like and dislike, adalah hal yang lumrah. Dan cara pengeskpresian like and dislike tadi juga amat beragam. Beruntung jika yang menghampiri kita adalah yang lembut, sehingga mungkin dapat dengan mudah diabaikan. Namun, apabila yang terjadi adalah sebaliknya, once again, ingatlah bahwa apapun yang dikatakan orang lain terhadap kita, sekasar apapun, itu tidak akan mengubah kehidupan kita, pencapaian kita bahkan kebahagian kita,  satu senti pun!

It's me who in charge of every single decision in my life, not you, not her or him. It's me..

Jadi, please create your own weather as I do. Tidak usah lagi menyalahkan keadaan, tidak juga perlu lagi menanggapi komentar negatif orang lain because to live a life is not about waiting until the storm is gone, but it's about how to dance through the rain..

I decide to live my life to the fullest..

Ayo semangat yaa..

Kamis, 30 September 2010

Credit Card : The Do's and The Don'ts

Saat ini kartu kredit telah menjelma menjadi bagian dari lifestyle kaum urban. Kita tidak harus kaya atau berkelas untuk dapat mengajukan aplikasi kartu kredit, walaupun tentu tetap perlu memperhitungkan daya beli real kita saat ini. Berbagai pusat perbelanjaan berskala besar juga kerap menggandeng bank tertentu untuk memanjakan credit card holder-nya dengan berbagai penawaran menarik, entah itu berupa diskon atau cicilan 0%, misalnya Plaza Indonesia dengan BNI, Grand Indonesia dengan BCA, dsb. Sebagai ratu diskon, tentunya aku memiliki minat yang cukup besar terhadap hal-hal tersebut. Beruntung aku bekerja di lingkungan yang cukup membuka wawasanku tentang hal ini, sehingga meskipun aku memiliki 3 kartu kredit, sejauh ini belum ada masalah yang berarti.

Dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, saat ini pengajuan aplikasi kartu kredit dapat dikatakan lebih mudah, murah dan cepat. Beberapa bank bahkan berani untuk mempromosikan kartu kredit yang free annual fee seumur hidup. Wah..wah.. ada apakah gerangan? Anda yang awam dengan dunia perbankan mungkin tidak percaya, mana mungkin bank tidak memperoleh keuntungan?

Tentu ada, tetapi keuntungan tersebut mungkin saja tidak dibebankan langsung kepada konsumen. Perlu diketahui, pada bulan September 2010 ini, BI mengambil kebijakan untuk menaikkan Giro Wajib Minimum primer dari 5% menjadi 8% DPK (Dana Pihak Ketiga) dikarenakan ekses likuiditas perbankan yang masih dianggap cukup besar. Idealnya, ekses likuiditas tadi disalurkan kepada sektor riil, namun pada kenyataannya, kredit-kredit konsumtif (misalnya kartu kredit dan KPR) yang relatif low risk juga diminati bank untuk menyalurkan kelebihan likuiditasnya. Dengan terserapnya ekses likuiditas tadi kepada, misalnya, kartu kredit, maka bank tentu dapat memitigasi resiko denda yang dapat dikenakan BI kepada bank tersebut apabila dianggap melanggar ketentuan GWM. It's a benefit kan?

Selain itu, bank tentu juga memperoleh keuntungan dari berbagai merchant yang menjadi mitra kerjasamanya. Melalui newsletter bulanan yang dikirimkan bersamaan dengan billing statement, bank juga dapat melakukan promosi produk-produknya dengan biaya yang minim. Sungguh strategi pemasaran yang apik. It's also a bank benefit, right?

Keuntungan lain yang mungkin dapat diperoleh bank adalah dari tunggakan bunga nasabah yang telat membayar, membayar tidak penuh, atau menunggak. Perlu disadari bahwa bunga kartu kredit amatlah tinggi. Salah satu kartu kreditku misalnya, memasang bunga retail sebesar 2,95% sebulan atau setara 35,4% pertahun dan bunga tarik tunai sebesar 3,75% perbulan atau setara 45% setahun.  Jahatnya, bunga dalam kartu kredit itu akan berbunga kembali di bulan berikutnya jika kita kembali melakukan kelalaian yang sama: telat membayar, membayar tidak penuh, atau menunggak. Inilah yang sering membuat seseorang terlilit hutang kartu kredit sedemikian rupa.

So, jangan bersikap skeptis terhadap penawaran kartu kredit, meskipun jangan pula menyambutnya dengan berlebihan. Kartu kredit akan memberikan manfaat yang optimal jika kita menggunakannya secara bijak, dan sebaliknya, kartu kredit akan menjadi malapetaka apabila selalu mengikuti nafsu konsumtif.

Nah, kl dari sisi manfaat untuk konsumen, berdasarkan pengalamanku sebagai penggunanya, manfaat kartu kredit antara lain:

1. Memudahkan kita melakukan berbagai pembayaran dalam jumlah besar. Jadi tidak perlu repot membawa uang tunai dalam jumlah besar. Manfaat ini sama halnya dengan kartu debit.

2. Membantu miss match keuangan. Pada beberapa kasus, seringkali program cicilan 0% amat membantuku untuk membeli barang yang harganya cukup mahal tapi amat diperlukan. Mendisiplinkan diri juga supaya lebih comitted dengan keputusan. Artinya jika sudah memutuskan untuk membeli barang A dengan smart spending, it means aku harus mau menyisihkan uang setiap bulan untuk melunasi cicilan itu tanpa perlu mengganggu cashflow rutin.

3. Akumulasi poin kartu kredit dapat ditukar dengan berbagai hadiah menarik. Favoritku sendiri adalah voucher Pizza hut dan J.Co. Selain itu, pada jenis kartu kredit tertentu yang menjalin kerjasama dengan supermarket besar seperti Giant, hypermart dan Carrefour, akumulasi point tadi dapat berbentuk cash back yang dapat kembali digunakan untuk berbelanja. I really really love it!

4. Diskon di berbagai merchant pilihan. Terkadang diskonnya amat menggiurkan. *taring keluar*

5. Akses ke Executive lounge di hampir semua bandara di Indonesia. Pesawat delayed, datang terlalu pagi ke bandara? Don't worry be happy..

6. Hadiah langsung saat pengajuan aplikasi kartu kredit disetujui. Aku pernah memperoleh handphone, I-Pod, dan berbagai benda menarik lainnya.

Berikut ini adalah sedikit saran mengenai kartu kredit, the Do's and the Don'ts :

1. Sebelum mengajukan aplikasi, pahami betul kondisi keuangan kita. Jangan jadikan kartu kredit sebagai alat untuk meningkatkan standar hidup karena kartu kredit sebenarnya adalah "hutang", bukan sesuatu yang "cuma-cuma".
2. Pilihlah kartu kredit yang menawarkan banyak program dan fasilitas dan bebas biaya bulanan. Dapat juga mengajukan kartu kredit pada bank dimana kita telah terdaftar sebagai nasabahnya. Selain lebih cepat prosesnya, lebih mudah juga pembayaran tagihannya kelak.

3. Gunakan kartu kredit apabila betul-betul merasa perlu. Jangan sedikit-sedikit gesek. Nanti lama-lama kita akan tertimbun dalam tagihan kartu kredit yang printilan, namun banyak. Buatlah komitmen pada diri sendiri pada batas plafon tertentu untuk mensahkan penggunaan kartu kredit.

4. Apabila mengikuti program cicilan 0%, pilih jangka waktu yang membuat konsisi finansial kita nyaman. Jika mampu menyelesaikannya dalam waktu 6 bulan, untuk apa memperpanjang hingga 1 tahun,. Bagaimanapun, hidup tanpa hutang akan lebih nyaman bukan? - quotes from my husband-

5. Pastikan tanggal cetak tagihan dan tanggal jatuh tempo kartu kredit anda. Bila perlu, beri tanda di kalender sebagai pengingat. Jangan sampai telat membayar yang berakibat pada munculnya bunga.

6. Jangan pernah melakukan pembayaran yang tidak penuh Kekurangan satu sen saja akan berakibat pada munculnya bunga yang dikalikan seluruh total tagihan. Misalnya tagihan sebesar Rp1.543.250 dibayarkan sebesar Rp1.543.000. Bunga yang muncul akan dikalikan Rp.1.543.250, bukan Rp 250 seperti jumlah kekurangannya. Jadi, pastikan jumlah pembayaran anda sesuai jumlah tagihan.

7. Jangan pernah menunggak.

8. Jika melakukan pembayaran kartu kredit melalui ATM bersama, perhitungkan batas waktu kliring bank pada jadwal jatuh tempo kartu kredit anda. Jangan terlalu mepet waktunya. Salah perhitungan akan menyebabkan pembayaran menjadi lambat dan bunga akan segera berjalan.

9. Perhatikan batas plafon kartu kredit, transaksi yang overdraft akan dikenakan biaya. Perlu diketahui bahwa transaksi yang dilakukan dengan program cicilan 0% akan langsung mengurangi plafon kartu kredit sebesar transaksi yang bersangkutan. Istilahnya, akan ada sejumlah dana yang dibekukan dari plafon kartu kredit kita. Misalnya, transaksi cicilan 0% selama 6 bulan untuk barang senilai 6 juta, plafon 10 juta, maka dana yang tersisa yang masih dapat digunakan dari kartu kredit adalah 4 juta. Plafon tersebut akan bertambah secara bertahap sesuai jumlah angsuran. Jadi bila angsurannya 1 juta sebulan, maka pada bulan kedua plafon menjadi 5 juta, bulan ketiga menjadi 6 juta, dan selanjutnya hingga kembali menjadi 10 juta saat angsuran lunas.

10. Simpan semua bukti transaksi lalu cocokan dengan lembar tagihan. Yeah well, menurutku ini yang paling sulit. Tapi idealnya memang begitu.

Rasanya untuk seorang amatir, 10 saran sudah lebih dari cukup yah. Mudah-mudahan bermanfaat. Oya, satu hal lagi yang cukup penting, jika mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dari penggunaan kartu kredit, segera hubungi customer care dari bank yang bersangkutan. Jangan lupa untuk tuliskan nama petugasnya, tanggal dan jam saat kita melakukan komplain. Apabila tidak memperoleh jawaban yang memuaskan, minta disambungkan dengan supervisornya. Terkadang, customer care tersebut seperti robot yang sulit sekali diajak berempati. Aku sendiri termasuk konsumen yang galak. Aku tidak suka diposisikan inferior. Maka ketika aku merasa hak-hakku sebagai konsumen tidak dipenuhi oleh bank, aku tidak ragu untuk membatalkan transaksiku, bahkan melakukan pengaduan ke media massa dengan berbekal nama petugas, jam dan tanggal yang aku catat tadi sebagai bukti.

Demikian sekilas pengalamanku tentang kartu kredit. Semoga bermanfaat..

Rabu, 08 September 2010

Tulisan di penghujung Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi usai. Sebagai refleksi dari usaha mengkoreksi diri sendiri, kali ini aku ingin mengenai tema yang agak serius. Tentang aplikasi ibadah dalam kehidupan nyata.

Sewaktu mengikuti kursus islamic banking, aku pernah memperoleh beberapa materi mengenai prinsip-prinsip dasar dalam agama islam. Bahwa sejatinya islam terdiri dari akidah, syariah, dan akhlak. Islam mengatur kehidupan manusia secara vertikal dan horizontal. Dan perlu diingat, bahwa kedua hal tadi harus terintegrasi. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya manifestasi islam yang nyata adalah akhlak.

Aku ingat pendapat dosenku, Bpk.T.Hani Handoko, saat memberikan kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia di Magister Sains UGM, bahwa ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya tidak dapat dijadikan parameter atau tolak ukur keimanan seseorang. Masyarakat Indonesia jika dilihat dari skala ibadah, nilainya amat tinggi.Dapat dikatakan sebagai bangsa yang religius. Tetapi kenapa korupsi masih merajalela? Itu salah satu contohnya..

Merefleksikan hal tersebut kepada skala yang lebih kecil, yaitu diri kita (seperti Aa Gym bilang, mulailah dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan dari sekarang), mari kita berintrospeksi, apakah ibadah-ibadah kita dalam kerangka hubungan vertikal kita dengan Allah SWT telah betul-betul berhasil? Apakah kita termasuk  orang yang beribadah amat taat dan patuh namun hatinya penuh dengki? Apakah kita termasuk orang yang setiap harinya diisi dengan shalat dan mengaji, namun di lain sisi amat fasih dalam  menghina dan menjatuhkan orang lain? Shalat adalah obat penenang jiwa, Al-Qur'an adalah penenang hati. Jika setelah shalat dan mengaji, emosi masih mendominasi, apakah shalat itu dapat dikatakan berhasil? 

Aku tidak hendak menempatkan diriku sebagai orang yang sok tahu, apalagi sok suci. Sungguh. Sebetulnya malu hati menulis tema ini karena aku sadar betul bahwa tidak semua shalat dan tadarusku juga berhasil. Aku masih suka marah, aku terkadang bersikap frontal memperjuangkan sesuatu yang menurutku benar, aku mudah tersinggung oleh hal-hal yang sepele, dan yang paling buruk adalah aku tidak mudah melupakan perbuatan buruk orang lain yang pernah dilakukan kepadaku atau keluargaku.

Hingga saat ini aku masih belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Lebih sabar, lebih pemaaf, lebih konsisten dan konsekuen antara sikap dan perbuatan, serta lebih dewasa lagi dalam menyikapi segala hal.

Besok Ramadhan telah mencapai penghujung. Menggenapi serangkaian ibadah yang telah kujalankan selama Ramadhan, mohon keikhasannya untuk memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah kulakukan yah. Mari mensucikan diri, mensucikan hati menyambut datangnya hari kemenangan. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selasa, 31 Agustus 2010

Ramadhan Terbaikku..

Alhamdulillah Ramadhan tahun ini begitu banyak berkah. Alloh mengingatkanku dengan berbagai cara.

Harus aku akui bahwa proyek penambahan bangunan yang -akhirnya- kami putuskan untuk langsung dilaksanakan setelah serah terima kunci rumah bulan lalu itu, amat menggerus cadangan devisa kami. Apa boleh buat, it's all about priority. Dan mulailah aku dan suamiku berkoordinasi menertibkan pos-pos pengeluaran kami. Disanalah banyak pelajaran yang kami dapatkan..

First, tentang kebahagiaan yang ternyata tidak selalu berkaitan dengan limpahan materi yang berlebihan. Dengan pola hidup yang lebih sederhana, aku dan suami malah jadi lebih kompak dan damai. Tidak lagi impulsif dalam berbelanja. Dan prestasiku - tentu saja- berhasil mengenyahkan minat-minat diskonku. Alhamdulillah. Rasanya begitu terbebaskan.

Kedua, tentang berbagi. One day aku pernah membaca status fb temanku -yg akhirnya aku copas menjadi status bbku- begini : Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Alloh daripada Ahli Ibadah yang pelit. Subhanallah. Begitu pentingnya empati dalam kerangka hubungan horizontal sesama manusia hingga Alloh pun memuliakan orang yang rajin bersedekah. Dengan segala keterbatasan kondisi keuangan kami, Alhamdulillah, Terima kasih ya Alloh, Kau telah memberiku imam yang tidak membuatku gentar untuk semakin memantapkan hati dan langkahku dalam hal ini. Aku tidak hendak membahas hal ini lebih jauh karena berpotensi Riya.

Ketiga, aku menjadi lebih dekat dengan keluargaku dan keluarga suamiku. Entah bagaimana, akhir-akhir ini aku menjadi sering sekali sharing dengan orangtuaku, kakakku, kakak iparku, dan mertuaku.  Sungguh rasanya begitu bahagia mendengar mba ayang baru membeli mobil mewah. Rasanya begitu senang saat mengetahui Kayla, sudah pandai menghitung dan bernyanyi. Oya, aku juga sedikit terheran-heran karena baru menyadari betapa miripnya Athazka dengan Arju. Hal-hal kecil itu kini begitu membahagiakanku.

Mungkin inilah yang terjadi saat kita tidak hanya memikirkan diri sendiri..

Ramadhan terbaikku.. :)