Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

Hela Nafas

Sore ini saya menghela nafas panjang. Dalam sekali. Seolah ada beban emosi yang ingin saya lepaskan. Iya, tentu saja ada. Sejak kapan manusia hidup tanpa masalah? Saya rasa, mereka yang kelihatan tidak bermasalah itu dua kemungkinannya. Satu, dia pandai menyembunyikan masalah. Dua, dia pandai lari dari masalah. Saya ada dimana? Bukan dua-duanya. Saya tidak suka dramatisasi. Saya juga tidak pandai bersembunyi. Masalah bagi saya adalah sesuatu yang harus dihadapi sewajarnya.

One day, somebody told me that my life is too good to be true? Oh kidding. But thank you for seeing me that way. It means I'm good in hiding my flaws. Just like others, I do have flaws. Tapi apakah harus dibicarakan dan diumbar di social media? Tentu tidak. Menurut saya, kita tidak perlu bertelanjang di dunia maya. Apa urusan orang lain untuk tahu luar dalam diri kita.

Ketika suatu masalah terblow-up di social media, dalam penalaran saya, orang-orang yang tidak mengenal kita hanya akan menghakimi, mem-bully, atau menyudutkan kita di posisi yang tidak kita inginkan. Salah? Belum tentu. Menurut saya itu sah-sah saja. Toh setiap orang bebas berpendapat dan memproses informasi sebatas input yang mereka terima. Apalagi di Indonesia ini variabel tambahannya banyak : perbedaan value, pandangan agama, pandangan politik, de-es-be. Lalu kita harus marah kan menyikapinya? Tergantung, sejauh mana penyimpangan informasi yang salah proses tadi beredar. Kalau kelewatan sih, itu bukan salah proses lagi, tapi fitnah. Misalnya yang dilihat A, yang disimpulkan bukan A++, tapi malah jadi B, C. Bahkan F. Kalau sudah begitu, ya wajar lah marah. Kita juga manusia kan. Tapi kalau orang lain sekedar mengartikan informasi berdasarkan apa yang dilihat dan didengar langsung, ya jangan langsung marah. Manusia kan bukan Tuhan yang Maha Tau segalanya. Maklumin ajalah kalau kejadiannya A, diartiinnya A++. si ++ itu anggap aja variabel tambahan yang bikin versinya aslinya jadi beda. Bisa lebih drama, bisa juga sebaliknya. 

Misalnya gini, ada orang pakai baju seksi banget. Nah, persepsi orang yang melihat kan lain-lain. Ada yang biasa aja, ada yang malu melihat aurat diumbar, ada yang menganggap keren dan sebagainya. Si mbak yang pakai baju seksi tadi ga berhak membatasi pikiran orang lain saat mereka melihat dia. Ya memang sih pakai baju seksi kek, pakai gamis kek, itu urusan yang memakai. Tapi urusan orang yang melihat juga dong punya pendapat tentang apa yang dilihatnya. Dalam benak si Mbak, mungkin kejadiannya A. Tapi untuk orang bisa jadi A++, atau A--. Ya biarin ajalah. Konsekuensi adanya perbedaan.

Jadi, jangan gampang marah atau gampang merasa dihakimi. Ga usah juga sedikit-sedikit defense dengan  kalimat, "itu urusan saya", atau " itu urusan saya, pacar saya, dan Tuhan". Oh right, jadi urusan kita yang melihat bagaimana? Harus seiya sekata meskipun ga sesuai nurani, gitu? Bukankah kita punya hak yang sama dalam berpendapat. Dan bukankah kita punya hak yang sama untuk berbeda? Jalan tengahnya, tau sama tau ajalah.

Saya tidak menghakimi anda, saya hanya berpendapat. Maaf jika saya tahu rahasia terdalam hidup anda. Jika anda bertanya, bagaimana bisa? tanyalah pada Tuhan. Sayapun tidak tau jawabannya karena saya tidak pernah merencanakannya. Hidup saya cukup damai, dan jika bisa memilih, tentu lebih baik saya tidak tau. Jika anda merasa dihakimi, berarti suara nurani andalah yang sedang menyapa :)

Rabu, 12 September 2012

Thirty, Officially!

Today, I'm officially being thirty. 30 tahun bok! Alhamdulillah. Bukan ABG lagi nih, dan harapan untuk dipanggil "mbak" atau "kak" atau "Teh" di public place sepertinya semakin menipis.But that's okay. Thirty is just numbers, but indeed I feel forever twenty with a better control of emotion. #okesip

Jadi, how it feels of being thirty?

Satu, bersyukur teramat sangat. Alloh telah memberikan 30 tahun kehidupan yang luar biasa kepada saya. Jika saya hitung nikmatNya, maka tidak akan ada kertas dan tinta yang cukup untuk menuliskannya. Hidup saya tidak sempurna, tetapi itulah yang memberikan warna. Alhamdulillah, sujudku kepadaMu ya Alloh..

Dua, refleksi diri. Selama 30 tahun, apa saja yang sudah saya lakukan, sudah sampai dimana perjalanan menuju mimpi saya? Untuk hal ini, sungguh saya malu. Pencapaian tentu ada, tapi masih jauh menuju cita-cita. Saya masih terlena untuk menikmati hidup dengan berlindung dibalik semboyan kan masih muda. Saya mudah puas, itu kesalahan terbesar saya. Ke depan, saya berharap bisa membenahi ini, lebih fokus dan lebih kerja keras lagi.

Semoga Alloh meridhoi langkah saya dan memberikan keberkahan dalam hidup saya..

Lets step and hits the world! Bismillahirrohmanirrohiim.

Note : Thanks to family and friends for the greetings. You all are my precious!

Jumat, 30 Maret 2012

Thankful

Saya sekarang lagi di Karawaci. Meeting konsiyering sama BPK. Kebetulan ada beberapa yang perlu dikonfirmasi terkait penyusunan LKTBI (audited). Sebenernya, saya ga terlalu suka kalau meeting disini. Jauh engga, deket juga engga. Akibatnya, pas bahasan selesai jam 11, kita ga bisa balik ke kantor karena mepet waktu sholat jum'at. Trus ngapain dong nih, sementara bapak-bapak jum'atan saya ngapain?

Hmm..bosen..

Akhirnya buka blog dan lihat-lihat foto di Album foto saya. Suddenly I feel so..so much thankful. My life is so colourful. Dinamis. Look at the smile, it's just so natural. Sometimes, it's not even a pose..

I'm happy indeed.. :)

Selasa, 27 Maret 2012

when husband is so annoying.

.. then call your memories to the moments when he did many many great and (maybe) romantic things. Soon, your anger will dissapear :)


Ahay, sudah bukan rahasia umum lagi kalau di dalam pernikahan, seorang suami ataupun istri bisa jadi the greatest enemy for each other. Yah, namanya juga dua kepala kan? Adek kakak yang jelas-jelas satu darah satu rahim aja bisa berantem, apalagi suami istri yang masa-masa perkenalannya ga seintens saudara kandung. Lagipula, lamanya pacaran ga menjamin juga kita kenal dalem-dalemnya pasangan. Ada kok yang pacarannya sampe 9 tahun, tapi begitu nikah setahun langsung cerai. Alasannya? ketidakcocokan. Hellow, 9 tahun ngapain aja jadinya ya?


Saya sendiri pacaran sama husband sekitar 2 tahun, walaupun temenannya sih udah dari 8 tahun yang lalu. Kalo ditotal, dari awal kenal lalu pacaran lalu nikah dan akhirnya sekarang punya anak umur 3 tahun, kira-kira umur perkenalan saya sama husband 12 tahun lah. Hoho, lama banget ya. Tapi ternyata ga menjamin kalau saya dan dia akan rukun damai sentosa setiap hari. Of course ada kalanya hujan datang.


When i feel worse about him, biasanya saya berusaha semampu saya untuk ga tenggelam dalam perasaan kesal yang akhirnya jadi mengungkit semua kekurangan dan kesalahan dia (yang cuma akan membuat masalah yang tadinya remeh jadi gawat darurat). Jujur, ini susah buat saya. Tapi, yah, katanya kalau kita kesal sama seseorang, ingatlah kebaikan-kebaikannya supaya rasa kesalnya berkurang. Jadi, kalau lagi bete tingkat dewa sama husband, saya berusaha mengingat bahwa :


He proposed me, on bended knee..
Kejadiannya sekitar akhir tahun 2007, di tangga pelataran parkir Cibubur junction yang waktu itu background-nya langit bertaburan bintang, dengan sebuah cincin berlian felice yang cantik. Iya, saya mengalami proses lamaran pribadi yang sangat romantis seperti di film-film. Of course saya beruntung ya. 


Talking about on bended knee ini, saya jadi ingat waktu marahan di Eiffel (nanti saya posting kenapa sampe marahan segala), husband merayu saya dan tiba-tiba dia berlutut lagi. Perasaan saya? antara GR dan malu (karena diliatin orang-orang sambil senyum-senyum. Hey, he was not proposing! It's just.. apa yah.. aaarrgghh). Btw, beginikah rasanya jadi Katie holmes waktu dilamar Tom cruise?


He often surprises me!
Bukan husband namanya kalo ga iseng dan penuh kejutan. Yah, meskipun ga semua kejutannya berhasil (karena saya mulai hapal gerak gerik dia yang mencurigakan), tapi tetep aja niat untuk bikin kejutannya itu so sweet. Saya inget waktu pertama kali husband mau dinas luar negeri  lagi setelah Atha lahir, saya kan mellow banget tuh. Pokonya manyun dot kom deh. Sehari sebelum hari H, husband izin pulang agak telat. Makin bete dong. Pas dia pulang, dia akting kayak badut sambil perut dibuncit-buncitin, saya ga ketawa. Sebel malah. Eh tau-tau, dia ngeluarin sesuatu dari balik sweaternya yang bikin dia buncit. Ternyata.. it's a netbook. Katanya, kalo selama dia dinas kita kangen jadi bisa webcam-an. So sweet.. 


Surprise lain yang masih saya inget yaitu waktu tangan saya ga sengaja kejepit pintu mobil sama mamah. Masya Alloh sakitnya. Jari kelingking saya sampe bengkak segede jempol terus biru menghitam, dan kuku hampir lepas. Wooh, pada masa itu setelan saya bener-bener senggol bacok deh. Dan yang pasti jadi sangsak ya husband (waktu itu masih pacar). Meski si tangan nyut-nyutan minta ampun, tapi waktu itu saya masih pendidikan di Kemang. Jadilah saya sebisa mungkin beraktivitas seperti biasa. Dengan tangan bengkak, saya belanja bulanan di Hero Kemang. Nah, pas pulangnya itu husband izin mau keluar sebentar tapi nanti balik lagi. Saya males nanggepinnya. Orang lagi sakit tangannya kok malah ditinggal, bagaimana ini bawa belanjaannya. Huh. Eh ternyata dia beneran cuma sebentar, pas saya ke kasir dia udah sampe lagi aja. Saya tetep manyun, antara gengsi dan masih bete. Tapi dia dengan sabarnya cuma cengar cengir, dan pas saya masuk mobil.. tarraa.. di jok bagian belakang mobil udah penuh sama bunga lily putih. Haaa? Jadi tadi dia izin keluar karena mau mampir ke florist di deket Hero Kemang? so sweet.. 


He loves my family
Nah, ini nih bagian yang paling saya suka dari husband. Siapa juga yang ga mau punya suami yang bisa mingle dan sayang sama keluarga kita seperti dia sayang sama keluarganya. Saya ga tau sih di dalam hati suami saya seperti apa, yang jelas kalo dari sikapnya selama ini sama keluarga saya, semuanya baik. Satu kalipun husband ga pernah keberatan kalo saya mau ngadoin ortu saya sesuatu. Ya kan penghasilan saya itu sepenuhnya hak saya. Husband juga ga pernah nanya-nanya gaji saya berapa and the bla and the blu. Dia taunya setiap bulan semua penghasilannya ditransfer ke saya, terus saya distribusiin sesuai kebutuhan rumahtangga kami. That's simple. Alhasil, sejak nikah sampe sekarang hubungan saya dan keluarga saya ga semakin menjauh, malah semakin deket. Alhamdulillah banget..


Tuh baru ditulis tiga macam kebaikan husband aja jadi berkaca sama diri sendiri. Masih penting ga ya saya marah-marah ga jelas sama dia. Padahal masih banyak good things yang dia udah lakukan untuk saya dan Atha. Mungkin bener ya, kalo kita list hal-hal yang bikin kita kesel, lalu kita list juga hal-hal yang bikin kita bersyukur, pasti hasilnya akan lebih banyak hal-hal yang bikin kita bersyukur..


..and my anger slowly dissapear..

Senin, 19 Maret 2012

Belum bisa

Mimpi buruk itu datang sekitar akhir tahun 2010, lalu getting worse di tahun 2011. Again dan again saya ambil posisi ngalah. Entah dimana benang kusutnya, semakin coba diurai, semakin njelimet. Semua orang merasa benar.

Saya sebetulnya lelah lahir batin, apalagi saya juga punya masalah intern yang tidak kalah peliknya. Lagi-lagi, dengan tema yang sama. Ada plus minus, karena satu sisi satu masalah bisa menjadi acuan masalah lainnya. Tapi di sisi lain, reaksi orang untuk satu masalah yang sama sungguh tidak bisa diperhitungkan secara matematis. Beda-beda.

Pada suatu titik, jalan keluar yang paling mudah dan "aman" adalah dengan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Iya, berpura-pura. Sayangnya, saya bukan aktris yang baik. Reaksi kimia tubuh saya akan seirama dengan suasana hati saya. Ini pula yang sering dikomentari oleh bapak saya, kenapa sih ga bisa basa basi sedikit aja?

Oh andai saya punya hati seluas Bapak. Saat ini saya belum bisa..

Semuanya masih terlalu menyakitkan. Rasa-rasanya, jika saya berkorban lebih jauh lagi, saya akan kehilangan diri saya sendiri. If I loose my self, I risk my any kind of relationship.

Membahagiakan orang lain bukan berarti dengan mengorbankan diri sendiri dan rela menjadi sangsak tinju dari pukulan yang salah sasaran kan?

Saya tahu, orangtua saya akan sangat kecewa dengan keputusan saya, this is not the way they expect me to be, tapi untuk sekali ini saja, boleh ya saya mendahulukan diri sendiri sebelum orang lain?

Rabu, 14 Maret 2012

When Lie lies

When lie lies, don't mass your self. Just be patience.
and watch..
Remember, what doesn't kill you just makes you stronger.
Time will tell, dear
It is clear that everybody will get in return of what is been done by him/her.
And the rules is timeless..

So, just cheer up!

Selasa, 28 Februari 2012

Donkey? Not

If I once made a mistake, I would try my best not to make it twice.

Why?

Because only donkey who would do that!

Go catch your dream and live happily to the fullest :)

Jumat, 24 Februari 2012

Baik, tapi palsu

Maksudnya apa ya, baik tapi palsu? Hmm.. saya sering siwer antara oportunis atau baik tapi palsu. Yang jelas, dua-duanya sama-sama penyakit hati..

"Kalau kepada yang dianggap menguntungkan bersikap baik, tetapi untuk yang tidak menguntungkan bersikap tidak peduli, ini baik yang palsu"  - Aa gym

Yah, semoga kita ga termasuk orang-orang itu ya?

Happy weekend!

Jumat, 10 Februari 2012

Home

Home is not just a place to stay.

It's a place where we can be ourself, and be loved for being ourself.
It's a place to grow. To keep the selfish away.

Home, is a place that we always miss even when we are in the comfortest place in the world.
No matter how terrible it is, it's still a place that we always want to be at.

Home is us. Yes, us. It's no more me and no more you. it's the better me and the better you collides.

I want to go home :)

Happy friday everyone. Enjor your weekend!

Senin, 06 Februari 2012

Luka Batin

Luka batin bagi saya itu adalah....

..ketika saya melihat ibu saya menangis dan saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan air matanya. Rasanya dunia berhenti berputar. I feel useless.


...ketika anak saya sakit dan saya tidak bisa menemaninya. Ketidakmampuan melawan kondisi membuat dada saya sesak. Saat-saat semacam ini adalah saat dimana  jalan pintas dan pemikiran yang impulsif menghinggapi saya: berhenti bekerja.

... ketika melihat bayi dan anak-anak dikomersilkan seperti diajak untuk mengemis di perempatan lampu merah  atau bawah tangga stasiun yang kotor penuh polusi, dibawa mengamen di dalam bus kota (dengan posisi si bayi menyusu ibunya), dsb. Hati ini begitu miris. Saya marah sekali, terutama kepada diri saya sendiri karena saya hanya bisa melihat dan tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan itu semua. Saya tahu, mereka sengaja dikondisikan seperti itu oleh sistem. Sistem yang jahat. Those babies are just victims. But I can do nothing. Really hate this..

Rabu, 28 Desember 2011

My love journey

Hm.. saya tiba-tiba mood untuk nulis dengan tema cinta-cintaan setelah baca tulisannya teman saya, Anggi. Jadi merefleksi sama cerita saya sendiri. Tapi saya setuju, kalau cinta itu penuh drama, meski ga segitunya kayak sinetron itu tuh yang ada mata mendelik-delik segala. Yang jelas, cinta itu.. seperti sebuah petualangan. Seru, dan kalau finally ketemu sama "the one", Insya Alloh happy ending..

Sebelum pacaran sama a yosi, saya pernah pacaran dengan beberapa orang tapi ga pernah secomplicated ini. Dulu tuh, kalo putus gampang banget. Ga ada deh cerita saya nangis bombay gara-gara cowok. Kalau ga cocok, ya udah jalanin masing-masing. Kalau si cowok ga terima, itu urusan dia. Saya bisa dengan mudahnya masuk ke dalam kost trus nonton TV dengan perasaan datar sementara si cowok masih termenung sedih di halaman depan kost *tepok jidat*.

Nah, karma saya akhirnya kejadian juga pas pacaran sama a yosi. Dikit-dikit mellow. Putus-sambung, tapi dramatis banget. Air mata dimana-mana. Hadeuh. Capek banget. Kalau dipikir-pikir, kok mau-maunya ya saya mempertahankan hubungan yang penuh drama ini, padahal a yosi ini bukan superstar atau Pangeran William. He's just an ordinary man. Bahkan kalau mau jujur, masih banyak admirer yang lebih dari dia. Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau chemistry antara saya dan a yosi itu 'klik' banget, meski kalau ditanya disebelah mananya? saya ga bisa jawab. We are totally different. Yang satu self centered, yang satu people person. Yang satu logis, yang satunya perasa. Yang satu hobi IT, yang satu gaptek berat. *ga usah dimention ya saya yang mana, udah ketauan sendiri deh pastinya*

Tapi bener deh, rasanya nyaman banget setiap di deket a yosi. I can see future in his eyes.  *yak, ini bagian pas soundtrack lagu the way you look at me Christian Baustista berkumandang* 

Then.. this complicated relation finally turn to marriage.  Kebayang ya, kalau berdua aja siklus up and down-nya sering, ini ditambah variabel lainnya. Horor. Months before marriage is nightmare. Bukan complicated lagi deh namanya, tapi benang kusut. Kita bahkan hanya punya waktu 1-2 bulan untuk mempersiapkan pernikahan gara-gara miskom. Rasanya kayak mission impossible. Orang lain tuh nyiapin pernikahan berbulan-bulan, bahkan years. Tapi saya ga patah semangat. At that time saya berdo'a jika memang a yosi jodoh saya, mohon dimudahkan. And the impossible thing become possible :

1. Keluarga setuju akad nikah dan resepsi dipisah dengan time lag satu bulan.
Akadnya sendiri lokasinya di Garut, which is kalau keukeuh tetap di Bogor sudah jelas kita ga bakal dapet gedung, (yak, jarak lamaran and akad cuma sebulan aja dong). Alhamdulillah di Garut banyak keluarga, jadi urusan administrasi KUA, dekor sama catering ada yang support. Kalau perias, saya satu paketkan dengan perias resepsi di Bogor. Fotografer juga saya paketkan dengan resepsi, impor dari Jakarta.  Cihuy kan.

Sementara keluarga ngurus persiapan, saya tunggang langgang cari seserahan. Seru banget kejar-kejaran sama waktu. Kalo dipikir-pikir kok kayak married by accident yang semuanya serba terburu-buru. Hahaha. Demi Alloh dan Alhamdulillah engga. Ini bener-bener pure 100% miskom. Kalo ga percaya, tanya deh sama perias saya (katanya kalo udah ga suci periasnya suka kesulitan pas dandanin karena ada aja yang salah/kurang pas) atau tamu/undangan yang datang waktu akad (kalo saya masih suci katanya riasan saya akan keliatan soft, shinning (tapi bukan mengilap) trus auranya keluar). Masih ga percaya juga? Hitung aja tanggal nikah saya (28 Juni 2008) sama lahirnya Athazka (24 April 2009). Bedanya berapa bulan tuh. Loh ini kok jadi ngomongin married by accident. Hahahaha..

Anyway, dengan persiapan sebulan itu ternyata hasilnya adalah : 9 dari skala 10!
Bahagia banget semuanya lancar pas saya dan a yosi resmi jadi suami istri.

Cerita di balik layar :
- Keluarga saya dan a yosi masih percaya tanggal-tanggalan. Jadi, tanggal pernikahan kita pun dihitung-hitung berdasarkan latar belakang saya dan a yosi oleh neneknya. Keluarlah dua tanggal. Satu tanggal 28 juni, satunya lagi kapan gitu, tapi yang jelas udah masuk tahun depannya (jauh bedanya). Ya kita milih tanggal 28 Juni lah, lebih cepat lebih baik kan.

- Dua minggu sebelum hari H, bapak saya masuk RS karena sakit, dan saya jadi bolak balik bogor-garut untuk ngecek kesehatan beliau. Tokoh utama gitu loh..

- Baru-baru ini saya baru tau kalau perias saya waktu akad itu bukan perias beneran, not even asisten perias (sebelumnya saya selalu mikir dia asisten perias). Ternyata teh Dessy itu penari, dan saya adalah pengantin pertama yang dia rias alias proyek uji coba. OMG! Untung hasilnya ga mengecewakan (kalau saya bilang bagus nanti saya dikira narsis muji-muji diri sendiri). Everybody loves it, include me. Sampe sekarang mertua saya selalu rekomendasiin sanggar rias saya setiap ada sodara/kerabat/tetangga yang butuh info perias *nah kalo ini saya GR beneran*

- Mempertimbangkan efisiensi waktu, saya memutuskan untuk tidak membuat gaun/kebaya pengantin saya sendiri. Waktu itu saya ga ribet mikir gimana-gimana. Saya ga keberatan sama sekali kalau kebaya akad saya itu sewaan yang udah pernah dipakai banyak orang. Ya kan bukan kebaya yang jadi syarat sahnya nikah. Tapi, ternyata sanggar rias saya baru selesai membuat baju akad baru untuk menambah koleksinya. Model, bahan, dan kombinasi warnanya kok 'saya banget'. Kebaya asimetris warna putih dengan aksen bunga kecil warna soft pink. Pas dicoba.. ukurannya sama persis ukuran saya. Sama sekali ga ada bagian yang dipermak. Si teteh yang bantuin saya pake baju aja sampe bingung, kok bisa pas banget. Seolah-olah itu dibuat untuk saya. Satu kata aja : Alhamdulillah..

2. Keluarga setuju acara resepsi di Gedung Bupati Bogor, Komplek Pemda Cibinong.
Secara keluarga saya terlanjur membangun kerajaan di Depok dan keluarga a yosi bermarkas di Bogor, akhirnya kita pilih jalan tengahnya, yaitu di Cibinong. Yay, jadi deket rumah deh. Hoiya, urusan catering, perias, dekor, souvenir, undangan, and the bla and the blu-nya 100% by me. Serius lo? off course darling. Kan zaman sekarang udah ada banyak web yang isinya rekomendasi serba serbi pernikahan. Repot ga? Bohong banget kalo bilang engga. Pastinya jumpalitan lah. Tapi seneng, pas resepsi semuanya lancar (kecuali tamu yang membludak yang bikin saya ga sempat lap keringat, padahal kayaknya udah turun deras kayak air terjun saking kepanasan). Ratenya : 8 dari 10 lah. Worth enaugh.

Cerita di balik layar :
-   1,5 bulan sebelum resepsi, saya dikabari bahwa gedung untuk resepsi double booked. Pengelola gedung, Si capeng dan ortunya datang ke rumah saya sambil nangis-nangis minta saya mau mundurin tanggal. Bapak sih terserah saya. Ya Alloh betenya ga bisa digambarin lagi deh. Saya kan udah booked perias, catering, dekor, fotografer dan upacara adat untuk tanggal itu. Tapi ngeliat si capeng itu saya lebih kasian. Saya kan cuma resepsi, sedangkan dia akad dan resepsi. Jadi ya udah lah, saya ngalah. Yap ngalah, dengan konsekuensi saya harus kembali menghungungi percetakan untuk hold undangan saya naik cetak hari itu juga dan buru-buru ke tebet untuk merevisi tanggal undangan (ini yang paling deg-degan karena deadline cetak beberapa jam lagi), terus menghubungi semua vendor untuk ganti tanggal. Pasrah deh kalo kena pinalty atau ga dapet vendor seperti yang direncanain semula. Tapi Alloh Maha Baik, pas saya mundurin tanggal, semua vendor saya bisa dan rela ga kenain pinalti! Bahkan perias saya yang super sibuk itu pun ditanggal yang saya mundurin pas banget masih kosong. Kakak saya dulu pesan perias ini 6 bulan sebelum pernikahan and ga dapet dong. Emang ya, rejeki ga kemana..

- Meskipun kondang, perias saya ngaretnya juara. Acara mulai jam 12 siang, jam 11 siang dia baru datang. Padahal yang dirias bukan cuma pengantin, tapi keluarga dan pagar ayu juga. Bete to the max pokonya. Udah gitu tante Rina pas ngerias kayaknya salah melulu, ada aja yang ga pas. Ya eye shadownya lah, ya alisnya lah, dan terakhir bulu mata. Hadeuh Ketauan deh udah ga 100% seperti waktu akad lagi. Yah kan udah sebulan nikah ya. Tapi saya belum honeymoon loh tante, jadi masih kinclong clong deh hasil riasannya.

- Gara-gara tante Rina telat, acara jadi ngaret. Dan tamu-tamu udah membludak banget. Pas jam makan siang pula. Bener-bener terteror deh pas masuk ruangan, sekelilingnya tamu-tamu yang udah pada laper, dan masih ada upaara adat pulak. Ih rasanya pengen saya forward deh rangkaiannya itu. Alhasil, pas udah tiba giliran salaman, pagar ayu dan pagar bagus bubar jalan. Ga bisa lagi nahan lajunya orang-orang.  Kabayang kan bagaimana kabar kami yang dipanggung?

Kalau mau lengkap lihat foto-foto nikahan ada di facebook saya atau husband, atau mampir ke wedding web kami.


Ga terasa, 3,5 tahun sudah semuanya berlalu. How our marriage now? Alhamdulillah happy. Happy disini bukan berarti senang-senang-dan senang. Of course not. To see the rainbow you must enjoy the rain. Iya, pernikahan itu seperti pelangi. Indah dan warna warni. Tapi semuanya ga bisa dinikmati kalau kita ga pernah menitikkan air mata, entah itu air mata sedih, kecewa, bahagia, atau haru. Apalagi kalau udah punya anak. Saya sendiri, semenjak Athazka lahir, rasanya pelangi saya bukan lagi mejikuhibiniu. He's more that that. He makes our life start to makes sense. Semuanya jadi jelas tujuannya.

Looking back to our journey, kesan saya setelah menikah ini cuma satu : tambah dewasa. Kalo keingetan drama-drama waktu pacaran dulu rasanya malu banget. Feel dumb. Kok bisa sih mikirnya begitu. Ternyata orangtua itu bener ya. Oh kalo dinasehatin begini maksudnya itu toh, oh kalo begini nanti begitu ya. Wah, bener-bener deh, semua harus dialamin sendiri. Apalagi pas punya Atha, I know how's my mom and my mom in law feels now.

Demikian secuplik cerita cinta saya. Sekedar sharing aja. Maaf kalo agak dangdut yaa..

PS : husband, I love you more than yesterday, but less than tomorrow.

Rabu, 07 Desember 2011

Sedih


Boleh kan ya merasa sedih atau kecewa? I'm trying hard not to feel it, to ignore it, but the more i try, the more i get hurt..

I am fine, really. I'm just not happy..

Hope this will ends soon. There are so many dreams are waiting to be pursued. I'll be ok. I just need time.. 

#ini ga ada kaitannya sama kerjaan atau my marriage life#

Rabu, 14 September 2011

Dengki dan Dendam

Wahai diriku..

Rosulmu pernah berkata:
"Bahwasanya dendam dan dengki itu bisa menghanguskan amal ibadahmu"

Berarti sayang sekali rukukmu, sujudmu, dzikirmu, sedekahmu dan semua ibadah-ibadahmu yang selama ini engkau lakukan jika dibarengi dengan dendam dan dengki yang sengaja engkau pelihara selama ini..

Masih lebih baik jika engkau memelihatra binatang buas daripada memelihara dendam dan dengki dalam dirimu..

Wahai diriku..

Hanya sebentar saja dirimu tinggal di dunia ini. Dunia hanyalah sebuah alam perlintasan ruh saja. Sungguh takkan ada ketentraman dalam pedihnya sakaratul maut bagi dirimu yang masih menyimpan dendam dan dengki..

"Tidak ada masa depan bagi para pendendam dan pendengki.."

Ampuni hamba ya Rabb atas tidakmampuan mendidik diri.. Amin ya Robbal alamiin..

*taken from my bb messenger broadcasted by Mr.Juliadi Vidyatama (again). Semoga mencerahkan kita semua*

Senin, 12 September 2011

My Birthday Wish

I'm officially turn to 29th today..

Alhamdulillah, Alloh masih memberi saya kesempatan untuk bertambah usia.  Terima kasih ya Alloh untuk karuniaMu yang hingga detik ini hamba tidak bisa menghitungnya. Terima kasih telah melindungi semua orang yang hamba sayangi. Terima kasih untuk selalu memeluk mimpi-mimpi hamba. Terima kasih telah menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin serta yang sulit menjadi mudah. Sesungguhnya tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolonganMu ya Alloh.. Terima kasih..

Di usia yang ke-29 ini,  harapan saya semoga bisa menjadi orang yang lebih baik, lebih ikhlas, lebih sabar, dan tentunya bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sebagai khalifah di bumi..

Tidak ada gading yang tidak retak. Saya jauh dari sempurna. Mudah-mudahan Alloh menuntun saya untuk bisa memperbaiki kesalahan saya sedikit demi sedikit, menjauhkan saya dari sifat sombong dan arogan, serta membersihkan hati saya dari prasangka.

Alloh, jadikan hamba sebagai makhlukMu yang Engkau berkenan terhadapnya. Peliharalah hati, perkataan, sikap, pandangan serta perilaku ini supaya sejalan dengan apa yang telah Engkau perintahkan. Berikan kelapangan hati serta rasa malu ya Alloh, supaya hamba tidak pernah merasa cukup dan terus termotivasi untuk berintrospeksi.

Kuatkan hati ini dalam menghadapi cobaanMu ya Alloh. Bantu hamba untuk dapat tegar berdiri diantara terpaan angin dan deburan ombak yang terus menerpa. Sungguh hamba yakin, bahwa tidak ada kebenaran yang hakiki selain kebenaranMu, serta tidak ada hal yang terjadi tanpa ridhoMu. Hamba Ikhlas ya Alloh.. hamba ikhlas jika cobaan ini adalah wujud kasih sayangMu..

Ya Alloh,
Bimbing hamba untuk menjadi seorang istri yang baik, supporter yang setia, serta pendamping yang nyaman bagi suami hamba.
Bimbing hamba untuk bisa menjadi ibu serta teladan yang baik bagi keturunan hamba.. 
Bimbing hamba untuk bisa berbakti sepenuh hati, sepanjang hayat kepada kedua orangtua serta ibu dan bapak mertua hamba yang begitu hamba cintai. Ridho mereka adalah RidhoMu ya Alloh..

Amin Ya Alloh..

Jumat, 19 Agustus 2011

Ketika Rumput Tetangga Terlihat Lebih Hijau..

.. Then be thankful and positive!

Manusia itu lucu. Suka sekali membandingkan kehidupannya sendiri dengan orang lain. Pada tahap tertentu pengen jadi orang lain yang kita pikir lebih sukses dan happy. Padahal, it's on your mind aja. Beneran. Kita ga pernah tau loh apa yang sebenarnya dialami oleh orang lain. Bisa aja diluar keliatan happy, di dalamnya siapa yang tau?

Jadi inget iklan A-Mild yang slogannya 'rumput gue lebih asik dari rumput tetangga'. Menurut saya, itu iklan 'kena' banget. Pas menggambarkan peribahasan yang sedang saya bahas ini. Segerombolan kambing yang asik memamah rumput tergiur untuk pindah ke rumput tetangga yang kelihatannya hijau ranum, namun ketika mereka sudah melompat, barulah ketahuan bahwa rumput ranum itu cuma plastik belaka. Ada singanya lagi. Hahahaha..

So, mari kita bersyukur deh, apapun kondisinya, bagaimanapun tantangannya, jalanin aja dengan ikhlas. Yang namanya hidup pasti ada lah cobaan. Jujur sama diri sendiri, ga usah kebanyakan teori untuk menunjukkan sama dunia kalo saya ini begini dan begitu. Bukan apa-apa sih, takut kemakan omongan aja. People do change. Bisa aja hari ini kita begini, besok malah ada di posisi opposite. Malu dong udah koar-koar kesana kesini, gaya sok iye, sok asik, teori sana sini, eh prakteknya malah terjun bebas.

Love your self and let it flows..

Dan pastinya.. rumput gue lebih asik dari rumput tetangga! Ya kan?

Rabu, 18 Mei 2011

Against bullying

Sebetulnya saya lelah sekali sore ini, tetapi saya tidak tahan untuk menumpahkan perasaan saya setelah mendengar berita tentang meninggalnya bocah berumur 5 tahun di tegal, Jawa tengah akibat dikeroyok oleh teman sebayanya. Ya Tuhan.. How come bocah berusia 5 tahun sudah memiliki mental untuk menyiksa sesamanya?

Hati saya sungguh miris. Rasanya ingin sekali mengajak semua orang untuk berkampanye menyuarakan anti bullying. Suah saatnya kita lebih memperhatikan lagi masalah-masalah psikologis anak daripada sekedar memenuhi kebutuhan jasmaninya saja.

Dalam kasus pengeroyokan balita oleh balita tadi, menurut saya, tanggungjawab terbesar ada pada orangtua balita-balita itu. Ada something wrong dengan pola pengasuhan orangtuanya, pasti. Entah bagaimana, seorang pelaku bullying biasanya memiliki kebutuhan akan pengakuan yang besar dari lingkungannya. Yang saya tidak sadari adalah perilaku itu bahkan sudah dapat muncul ketika anak berusia 4 tahun. Be careful parents..

Dalam kondisi yang ideal, ketika seorang anak tercukupi kebutuhan afeksinya, tercukupi pula kebutuhan sosialnya dimana dia sudah terbiasa bergaul dengan anak-anak seusianya, maka lama kelamaan dia akan belajar untuk berbagi, belajar untuk menahan ego, belajar untuk memimpin, dsb. Namun, semuanya perlu dalam pengawasan orang yang lebih besar mengingat filter dalam pikiran anak-anak masih belum well established.

Dari sisi internal, ada pendapat bahwa perilaku bullying anak diperoleh dari orangtuanya. Secara sadar maupun tidak sadar, orangtua mungkin suka merendahkan, menghina, mengejek oranglain entah dengan maksud bercanda atau bukan. Anak-anak akan menangkapnya bulat-bulat. Jika orangtua menikmati sensasi dari perasaan 'hebat' yang diperoleh dengan cara menghina orang lain, maka anak-anak pun demikian. Mereka akan menganggap dirinya hebat jika dapat membuat orang lain tampak lemah dan memalukan. Sudah sering kan mendengar anak yang usianya belia namun perkataannya tajam?

Jika hanya sebatas pada perkataan, agak mendingan dibandingkan dengan penggunaan kekerasan seperti kasus pengeroyokan balita di atas. Untuk kasus ini, bibit bully yang sudah ada pada anak, menurut saya, diperparah dengan tayangan kekerasan yang sering muncul di tv. Tidak mungkin kan anak sekecil itu memiliki ide untuk melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat? Saya rasa media berperan besar dalam hal ini. Lagi-lagi, kurangnya pengawasan orang yang lebih besar menjadi faktor yang memperparah.

Parents, please take a look deeper to our kids..

Tolong ajarkan anak-anak kita untuk rendah hati..
Tolong ajarkan anak-anak kita untuk menghargai..
Tolong ajarkan anak-anak kita untuk percaya diri tanpa perlu menjadi superior..
Tolong ajarkan anak-anak kita untuk dapat menerima kekurangan tanpa perlu merasa rendah diri..

Dan yang terpenting, berilah contoh dan teladan yang baik sebagaimana ajaran agama yang kita yakini..

Saya belum dapat melakukan sesuatu yang besar dalam memerangi bullying. Tapi saya akan memulainya dari diri saya sendiri, sekarang.. 

Jumat, 25 Maret 2011

Perfectly Imperfect

I am a human. That's why God creates me perfectly imperfect. I don't have to feel ashame with my weaknessess. I have it a lot. I don't even wish to be seen as a perfect lady in a perfect life. No. I am just an ordinary, just like others. Sometimes I am so much happy but in other time, yes, i feel sad. From all the thing that i faced, i am trying to be honest, at least to my self.

Be my self as my trully self inside is a gift.
To be loved as my self is happiness.

And to live a life without fear is countless..

Be happy of what you are. Happy weekend

Kamis, 24 Februari 2011

are we smart?

Cerdas seringkali diidentikan dengan kemampuan intelenjsia. Akademik. Namun, pemahaman saya -yang awam-, cerdas tidak selalu terkorelasi dengan pencapaian akademik. Orang-orang yang sukses dalam akademis, dalam pengamatan saya, terbagi menjadi tiga tipe, yaitu Pintar, Rajin, dan Cerdas.

Orang yang pintar belum tentu cerdas. Bisa saja seseorang berhasil dari sisi akademik, begitu brilian dan bersinar di bidangnya, namun memiliki masalah dalam kematangan emosi. Biasanya orang yang seperti ini sulit sekali untuk menerima masukan orang lain dan cenderung defensif, karena merasa diri hebat. Pada tahap yang lebih parah, akan muncul sikap merendahkan orang lain. Contoh nyata, lihatlah ke gedung bundar Senayan. Tidak heran jika alm Gus Dur menyebut mereka sebagai sekelompok anak TK

Well, back to cerdas, pagi ini aku memperoleh definisi yang luar biasa mengenai hal itu dari status seorang sahabat di Fb (sepertinya kutipan). Definisi baru ini melengkapi teori yang selama ini aku yakini.

Kecerdasan adalah ketika anda tetap bahagia walaupun kondisi anda dalam keadaan sulit. Anda bahagia bukan sekedar karena meyakini bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan, tetapi ketika meyakini bahwa kesulitan itulah kemudahan yang sejati. Sebab, kesulitan itulah yang membersihkan jiwa.

So, are we smart?

Selasa, 01 Februari 2011

Saatnya meredam ego

Ritualku setiap pagi dalam perjalanan menuju kantor adalah browsing. Berkeliaran di blog-blog milik sahabat serta kerabat, googling issue-issue yang kadang pop-up di kepala begitu saja, otak-atik facebook, chatting via bbm atau ym dan tentu saja mengupdate gosip-gosip di http://detikhot.com/.

Thanks to bb, my best time and pain (karena kadang sikon kereta menyebalkan) killer.

Hasil blogwalking pagi ini mengantarkanku pada artikel ini . Dear all new mom, should read this. It's really good (aku memang menggemari artikel yang bertemakan parenting).

As a human, tentu aku dipenuhi oleh banyak keinginan dan cita-cita. Aku ingin menjadi Ibu yang baik untuk Athazka, aku ingin menjadi istri yang sholehah untuk aa yosi, aku ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan mertua, aku ingin menjadi saudara yang baik, or in short, aku ingin memiliki kesempurnaan dalam kehidupan domestikku. Sisi Passiva.

Tidak cukup sampai disitu, si manusia egois ini masih memiliki setumpuk keinginan-keinginan lainnya. Aku ingin sukses dalam karir, aku ingin mapan secara materi, aku ingin self aktualisasiku terpenuhi. Sisi Aktiva.

Alloh Maha Segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada do'a yang tidak terkabul. Tetapi tentu tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak terjadi tanpa alasan. Bahkan ketika, misalnya, kita memenangkan undian alphard, tentu hal itu pun bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Aku meyakini bahwa selalu ada pesan-Nya dibalik semua hal yang terjadi dalam hidup ini.

Back to the artikel. Pagi ini, rasanya Alloh mengingatkanku mengenai prioritas hidup dan setumpuk keinginan-keinginan kemaruk-ku yang perlu dibenahi.

Di awal tulisan, aku menyebutkan bahwa keinginanku yang pertama kusebutkan adalah menjadi ibu yang baik untuk Athazka. Lalu aku mulai berintrospeksi. Apa sajakah yang telah kulakukan untuknya? untuk orang yang katanya menempati prioritas pertama dalam hidupku.

Tanpa aku sadari, aku terlalu sibuk membagi peranku dan memaksakan porsi idealnya sesuai keinginanku. Aku memang menyusuinya selama 2 tahun, tetapi terkadang saat menyusui aku suka melamun memikirkan banyak hal. Terkadang kala tubuh ini sudah sedemikian letihnya menghabiskan berjam-jam di kantor, aku menyusui sambil tertidur lelap. Rasanya bounding yang aku bentuk dengan Athazka kurang optimal karena aku terlalu sibuk membagi peranku.

Perkembangan Athazka sendiri hingga saat ini dapat dikatakan sangat baik. Secara fisik dan mental, dia tumbuh sesuai usianya. Untuk beberapa tahap bahkan melebihi kapasitas yang seharusnya. As a parents, tentu aku bahagia. Secara teoritis, kebutuhan afeksi Atha telah terpenuhi dengan baik. Tetapi tetap saja rasanya belum puas, karena Atha melewati periode emasnya dengan kondisi ibu yang masih amat egois. Beruntung aku dikelilingi oleh sanak saudara yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kebutuhan afeksi Atha.

Sampai tahap ini, aku mungkin masih bisa bernafas lega, tetapi mengingat di tahap berikutnya tantangan yang akan dihadapi oleh Atha akan semakin kompleks, rasanya satu-persatu keinginanku harus mulai dibenahi untuk dapat fokus mengawal putraku menjadi pribadi yang kokoh sekaligus menyenangkan. Tidak bisa lagi aku memikirkan segala keinginanku beserta tetek bengeknya itu. Apalagi untuk mewujudkan semuanya dalam satu waktu. Menyeimbangkan sisi aktiva dan pasiva sekaligus. Hey, laporan keuangan pun memiliki jeda waktu bagi sisi aktiva dan pasiva untuk seimbang, apalagi ini hidupku.

Lalu aku mulai berpikir tentang multiplier effect yang akan terjadi jika aku berfokus pada perkembangan Atha. He is my bigest invest. Aku harus mengoreksi ulang tentang definisi kesuksesan. Betul aku menginginkan untuk memiliki karir yang cemerlang dan pendapatan yang memungkinkanku berinvestasi dimana-mana, namun takaran kebahagiaan kala mencapai semuanya tentu tetap tidak seimbang jika dibandingkan dengan memiliki anak yang sholeh. Bukankah salah satu amalan yang tidak akan putus di dunia adalah do'a anak sholeh?

Secara kasat mata pun, coba bayangkan, apakah bisa menikmati semua kemewahan dunia dengan hubungan antara ibu dan anak yang berjarak?

Aku tidak ingin mengulangi penyesalan dan sungguh aku ingin belajar untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Tidak lagi egois.

Athazka adalah amanah. Maka, tanggungjawab terbesarku (dan aa yosi) adalah membesarkannya.

Aku memang membutuhkan sarana lain untuk pengembangan aktualisasi diri. Tetapi  itu tidak boleh menghilangkan tanggungjawabku sebagai ibu.  Aku harus dapat mencurahkan seluruh energi dan stamina yang prima saat bersama Atha, seperti halnya saat aku bekerja di kantor. Aku harusfokus pada tahap-tahap perkembangannya seperti halnya saat aku berfokus pada costumerku. Mungkin lebih.

Jadi, bagaimana jika aku mengerucutkan semua keinginan dan prioritasku menjadi:
Athazka, Aa then Career?

Oya, aku juga menata ulang definisi kesuksesan menjadi: Health and Happiness.

Semoga Alloh selalu membimbingku. Amin.

Senin, 24 Januari 2011

Nice words

Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang kekasih. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan. Sekarang, aku memilih amal sholeh sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Aku pernah berfikir, setiap manusia pastilah punya goresan masalah dengan manusia lain, sehingga wajar jika manusia memiliki musuh masing-masing. Kini aku memilih menjadikan setan sebagai musuh utamaku, sehingga aku lebih memilih melepaskan kebencian, dendam, rasa sakit hati, dan permusuhanku dengan manusia lain.

Aku pernah selalu kagum pada manusia yang cerdas, dan manusia yang berhasil dalam karir, atau kehidupan duniawinya. Sekarang aku mengganti kriteria kekagumanku ketika aku menyadari bahwa manusia hebat dimata Allah, adalah hanya manusia yg bertaqwa. Manusia yg sanggup taat kpd aturan main Allah dlm menjalankan hidup n kehidupannya.

Dulu aku akan marah dan merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zhalim padaku, menggunjingkan aku, menyakiti aku dengan kalimat kalimat sindiran yg disengaja untuk menyakitiku. Sekarang aku memilih utk bersyukur dan berterima kasih, ketika meyakini bahwa akan ada transfer pahala dr mereka untukku jika aku mampu bersabar... Dan aku memilih tidak lagi harus khawatir, karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh dimataNya, ketika dia rela menggadaikan dirinya untuk mengikuti hasutan setan.

Dulu aku yakin, dgn hanya khatam Al Qur'an berkali kali maka jiwaku akan tercerahkan. Kini aku memilih untuk mengerti dan memaknai artinya dengan menggunakan akalku, dengan mengaktifkan qolbuku dan mengamalkannya dalam keseharianku, maka pencerahan itu baru bisa aku dapatkan.

Ketika aku harus memilih...bantu aku Yaa Rabb, utk selalu memilih yg benar dimata Mu...

(taken from my bb message, thanks to Mr.Juliadi Vidyatama for sharing)