Tampilkan postingan dengan label aa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2012

when husband is so annoying.

.. then call your memories to the moments when he did many many great and (maybe) romantic things. Soon, your anger will dissapear :)


Ahay, sudah bukan rahasia umum lagi kalau di dalam pernikahan, seorang suami ataupun istri bisa jadi the greatest enemy for each other. Yah, namanya juga dua kepala kan? Adek kakak yang jelas-jelas satu darah satu rahim aja bisa berantem, apalagi suami istri yang masa-masa perkenalannya ga seintens saudara kandung. Lagipula, lamanya pacaran ga menjamin juga kita kenal dalem-dalemnya pasangan. Ada kok yang pacarannya sampe 9 tahun, tapi begitu nikah setahun langsung cerai. Alasannya? ketidakcocokan. Hellow, 9 tahun ngapain aja jadinya ya?


Saya sendiri pacaran sama husband sekitar 2 tahun, walaupun temenannya sih udah dari 8 tahun yang lalu. Kalo ditotal, dari awal kenal lalu pacaran lalu nikah dan akhirnya sekarang punya anak umur 3 tahun, kira-kira umur perkenalan saya sama husband 12 tahun lah. Hoho, lama banget ya. Tapi ternyata ga menjamin kalau saya dan dia akan rukun damai sentosa setiap hari. Of course ada kalanya hujan datang.


When i feel worse about him, biasanya saya berusaha semampu saya untuk ga tenggelam dalam perasaan kesal yang akhirnya jadi mengungkit semua kekurangan dan kesalahan dia (yang cuma akan membuat masalah yang tadinya remeh jadi gawat darurat). Jujur, ini susah buat saya. Tapi, yah, katanya kalau kita kesal sama seseorang, ingatlah kebaikan-kebaikannya supaya rasa kesalnya berkurang. Jadi, kalau lagi bete tingkat dewa sama husband, saya berusaha mengingat bahwa :


He proposed me, on bended knee..
Kejadiannya sekitar akhir tahun 2007, di tangga pelataran parkir Cibubur junction yang waktu itu background-nya langit bertaburan bintang, dengan sebuah cincin berlian felice yang cantik. Iya, saya mengalami proses lamaran pribadi yang sangat romantis seperti di film-film. Of course saya beruntung ya. 


Talking about on bended knee ini, saya jadi ingat waktu marahan di Eiffel (nanti saya posting kenapa sampe marahan segala), husband merayu saya dan tiba-tiba dia berlutut lagi. Perasaan saya? antara GR dan malu (karena diliatin orang-orang sambil senyum-senyum. Hey, he was not proposing! It's just.. apa yah.. aaarrgghh). Btw, beginikah rasanya jadi Katie holmes waktu dilamar Tom cruise?


He often surprises me!
Bukan husband namanya kalo ga iseng dan penuh kejutan. Yah, meskipun ga semua kejutannya berhasil (karena saya mulai hapal gerak gerik dia yang mencurigakan), tapi tetep aja niat untuk bikin kejutannya itu so sweet. Saya inget waktu pertama kali husband mau dinas luar negeri  lagi setelah Atha lahir, saya kan mellow banget tuh. Pokonya manyun dot kom deh. Sehari sebelum hari H, husband izin pulang agak telat. Makin bete dong. Pas dia pulang, dia akting kayak badut sambil perut dibuncit-buncitin, saya ga ketawa. Sebel malah. Eh tau-tau, dia ngeluarin sesuatu dari balik sweaternya yang bikin dia buncit. Ternyata.. it's a netbook. Katanya, kalo selama dia dinas kita kangen jadi bisa webcam-an. So sweet.. 


Surprise lain yang masih saya inget yaitu waktu tangan saya ga sengaja kejepit pintu mobil sama mamah. Masya Alloh sakitnya. Jari kelingking saya sampe bengkak segede jempol terus biru menghitam, dan kuku hampir lepas. Wooh, pada masa itu setelan saya bener-bener senggol bacok deh. Dan yang pasti jadi sangsak ya husband (waktu itu masih pacar). Meski si tangan nyut-nyutan minta ampun, tapi waktu itu saya masih pendidikan di Kemang. Jadilah saya sebisa mungkin beraktivitas seperti biasa. Dengan tangan bengkak, saya belanja bulanan di Hero Kemang. Nah, pas pulangnya itu husband izin mau keluar sebentar tapi nanti balik lagi. Saya males nanggepinnya. Orang lagi sakit tangannya kok malah ditinggal, bagaimana ini bawa belanjaannya. Huh. Eh ternyata dia beneran cuma sebentar, pas saya ke kasir dia udah sampe lagi aja. Saya tetep manyun, antara gengsi dan masih bete. Tapi dia dengan sabarnya cuma cengar cengir, dan pas saya masuk mobil.. tarraa.. di jok bagian belakang mobil udah penuh sama bunga lily putih. Haaa? Jadi tadi dia izin keluar karena mau mampir ke florist di deket Hero Kemang? so sweet.. 


He loves my family
Nah, ini nih bagian yang paling saya suka dari husband. Siapa juga yang ga mau punya suami yang bisa mingle dan sayang sama keluarga kita seperti dia sayang sama keluarganya. Saya ga tau sih di dalam hati suami saya seperti apa, yang jelas kalo dari sikapnya selama ini sama keluarga saya, semuanya baik. Satu kalipun husband ga pernah keberatan kalo saya mau ngadoin ortu saya sesuatu. Ya kan penghasilan saya itu sepenuhnya hak saya. Husband juga ga pernah nanya-nanya gaji saya berapa and the bla and the blu. Dia taunya setiap bulan semua penghasilannya ditransfer ke saya, terus saya distribusiin sesuai kebutuhan rumahtangga kami. That's simple. Alhasil, sejak nikah sampe sekarang hubungan saya dan keluarga saya ga semakin menjauh, malah semakin deket. Alhamdulillah banget..


Tuh baru ditulis tiga macam kebaikan husband aja jadi berkaca sama diri sendiri. Masih penting ga ya saya marah-marah ga jelas sama dia. Padahal masih banyak good things yang dia udah lakukan untuk saya dan Atha. Mungkin bener ya, kalo kita list hal-hal yang bikin kita kesel, lalu kita list juga hal-hal yang bikin kita bersyukur, pasti hasilnya akan lebih banyak hal-hal yang bikin kita bersyukur..


..and my anger slowly dissapear..

Jumat, 30 Desember 2011

Menuju 2012

Beberapa jam lagi kita kan akan memasuki 2012. Well, seperti halnya orang lain dalam menyambut tahun baru, saya pun mulai mereview apa saja yang sudah saya lewati di tahun 2011. Kenapa perlu direview? supaya ketika membuat resolusi tahun 2012 saya tidak salah langkah.

2011 as a surprising year

Saya memberi tema tahun 2011 secara keseluruhan yaitu 'surprising'. Tahun 2011 memang penuh kejutan bagi saya. Resolusi saya sendiri di tahun 2011 lalu tidak lagi penuh target-target yang sophisticated. Kebanyakan malahan merupakan proyek 'beres-beres' dari apa yang telah tercapai di tahun 2010. Alhamdulillah, the ultimate goal as little family, which is owning a house and car is been accomplished in 2010. Tapi, konsekuensinya pasti masih berlanjut di tahun 2011. Punya rumah berarti juga mulai memikirkan untuk membeli perabotan dan segala printilannya kan? Dan ternyata, perintilannya itu banyak sekali bahkan never ending kalau tidak dibatasi dengan kesadaran akan kondisi keuangan. Tapi saya senang, sekarang rumah saya sekarang sudah mulai menyerupai 'rumah'. Ruang tamu kami tidak lagi beralaskan tikar lampit, tapi sofa sederhana yang nyaman. Ruang makan kami tidak lagi bernuansa lesehan, tapi sudah dilengkapi dengan meja makan. Taman di depan dan samping rumah saya tidak lagi ditumbuhi rumput liar yang tidak beraturan, tapi sudah mulai ditata dan ditanami tanaman hias yang lebih baik. Insya Alloh, kami sekarang sudah bisa menjamu tamu dengan lebih layak. Alhamdulillah. 

Oya, di tahun 2011 STNK mobil pertama atas nama saya keluar. Senang dan terharu. Meskipun ini bukan mobil pertama yang saya beli, tapi melihat nama saya yang tertera di stnk rasanya luar biasa (I used to see my mom and dad's name on it). Beruntungkah? Not really. Saya membeli mobil itu dengan cicilan 3 tahun. so, it's still 2 years to go. Semangaaattt...

Hal yang tidak disangka-sangka terjadi di tahun 2011 adalah 'hadiah' kursus dan liburan ke Eropa di bulan Oktober. Ketika saya bekerja, saya tidak pernah menghitung-hitung reward yang saya peroleh lalu dibanding-bandingkan dengan usaha saya. Bukan sok idealis, tetapi dapat menjadi seorang central banker bagi saya sudah melebihi daripada apa yang saya inginkan. I'm trying to do my best for this. Setelah 4 tahun bekerja, kantor saya menugaskan saya kursus ke eropa, tepat di kota impian saya, Paris.The best thing is,  suami saya bisa ikut menemani, dan akhirnya kami pun keliling eropa. The next best thing is tema kursusnya merupakan major kuliah saya, jadi selama kursus saya tidak merasa terbebani. The second best thing adalah support yang luar biasa dari orangtua dan mertua, fisik dan mental. Alhamdulillah..

Bagi saya, kejutan tadi sudah lebih dari cukup, Tapi Alloh masih punya kejutan lain untuk saya. Hari ini, on the last day on 2011, saya diusulkan untuk memperoleh the highest point on performance appraisal(setidaknya di satuan kerja saya). Terharu? sudah pasti. If you are a working mom, then you will understand what it mean to me. Saya bekerja dengan separuh baterai, karena separuhnya lagi saya optimalkan untuk keluarga saya. Saya tidak pernah berharap muluk karena toh bagi saya keluarga saya adalah stakeholder saya yang utama. Bayangkan tenaga separuh baterai itulah yang akhirnya dihargai dengan the highest point.  I don't mind if I finally got it 2 years later than my peer, it's just Finally! Sekarang grafik performance appraisal saya dan suami bisa linear dan positif. Kebetulan, suami saya tahun ini juga direkomendasikan untuk memperoleh point tertinggi dalam penilaian kinerja di kantornya. Bahagia ya. Mudah-mudahan bisa terus dipertahankan. Amin.

Athazka's milestone
2011 merupakan tahun dimana perkembangan Athazka mengalami peningkatan yang signifikan. It was when he celebrated his 2th Birthday with his family and friends. It's was when he entered his first step to school. It was when he won his first championship. It's definetely his year. Here are the hight light

Dari segi kognitif, Athazka sudah bisa :
-  Menghitung 1 s.d 10
- Mengenal warna : merah, kuning, hijau, biru, putih, hitam, pink, ungu, cokelat. Sudah tau fungsi lampu merah di jalan (merah tandanya berhenti, hijau jalan, kuning hati-hati).
- Mengenal orang-orang di sekelilingnya.
- Mengenal huruf-huruf hijaiyah
- Membaca doa sebelum makan dan sebelum tidur dengan fasih, dan do'a sesudah makan dan bangun tidur dengan terbata-bata.
- Bernyanyi, hampir semua lagu anak-anak. tapi favoritnya adalah lagu thomas and friends.
- Mengenal semua tokoh-tokoh dalam film kartun dan cerita dongeng. Film yang Atha tonton antara lain : Shaun the Sheep, Timmy Time, Dora the Explorer, Pororo, Si Bolang, Baby Einstein, Bobby Bola, Belajar bersama Diva (seri membaca huruf hijaiyah dan  berdo'a), dan tentu saja Thomas and Friends.
- Mengenal konsep apa dan mengapa. Disinilah yang paling menantang karena saya dan suami harus menggunakan standar yang sama dengan standar nilai-nilai yang diterapkan pada Atha karena Atha belum bisa mengenal konsep eksepsi.
- - Mengenal konsep kiri dan kanan

Dari sisi kemampuan adaptasi dan sosialisasi :
- Atha sudah bisa membaur dengan teman-temannya, di rumah, di sekolah, maupun di rumah saudara.
- Alhamdulillah tidak pernah melempar dan memukul temannya, tetapi jika dipukul balik membalas dengan lebih galak.
- Jika disapa 'asslamu'alaikum?' akan menjawab 'wa'alaikum salam' (dengan kemampuan verbal yang belum sempurna).
- Jika hendak menyuruh mengucapkan 'tolong' terlebih dahulu (meskipun sering lupa juga). Jika dimintakan tolong, akan menuruti perintah.
- Jika membuat kesalahan seperti menginjak kaki, menabrak, memecahkan gelas, akan mengucapkan "maaf ya" secara spontan.
- Jika diberi hadiah/oleh-oleh akan mengucapkan 'terima kasih' secara spontan. Jika memberi hadiah lalu diucapkan terima kasih, akan menjawab 'sama-sama' secara spontan.
- Saya baru saja mengganti pengasuhnya, dan tidak ada kesulitan yang berarti dalam adaptasi dengan pengasuh pengganti. He's fine.

Dari sisi perkembangan fisik/motorik :
- Berat badan hampir 16 kg
- Sudah bisa menggunakan sepeda roda dua (dengan bantuan ban kecil-kecil di roda belakang).
- Sudah bisa berjalan dan berlari dengan seimbang
- Sudah bisa makan sendiri
- Sudah bisa menggosok gigi sendiri (meskipun bagian atasnya terlewat)
- Sedang belajar mandi sendiri
- Sedang belajar buang air kecil dan membersihkannya sendiri
- Sudah bisa menempel kertas di buku warna
- Sedang belajar main puzzle dan lego
- dsb


Alhamdulillah, Athazka perkembangannya on track. Tapi bukan berarti sempurna ya. Tentu Athazka pun memiliki kelemahan, tetapi sebagai ibu yang positif, mengapa saya tidak memulai dari apa yang sudah Atha capai daripada yang belum? PR saya sebagai seorang Ibu tentu tidak akan pernah berhenti. And I'm looking forward to see his another milestone, and of course, its challange..

2011 akan segera berakhir. Tiba saatnya saya menapaki lembaran baru. Resolusi baru, tantangan baru, dan harapan baru. Saya tidak akan berhenti bermimpi. Tema besar hidup saya adalah bersyukur dan bersabar. Syukur bukan berarti menerima begitu saja apa yang sudah diberikan Alloh kepada saya, tetapi berusaha memahami tujuan Alloh memberikan karunia-Nya kepada saya. Syukur, adalah mengoptimalkan anugerah Alloh untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Untuk menjadi manusia yang terbaik, sukses saja tidak cukup, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bagaimana caranya? Mari kita konsepkan sebagai proposal resolusi di tahun 2012. Yang jelas saya ingin menggeser  pencapaian-pencapaian pribadi saya menjadi kontribusi yang lebih bernilai.

Sedangkan sabar, bukan berarti mengalah. Sabar adalah tekun, cermat dan berhati-hati dalam menghadapi permasalahan hidup. Saya harus bisa memilah-milah masalah mana yang perlu ditanggapi mana yang cukup mengetahui. Saya harus lebih bijaksana dalam memecahkan persoalan dan menjadi lebih toleran tanpa perlu mengorbankan value yang saya yakini. Bagaimana caranya? mari kita konsepkan lagi di proposal resolusi 2012.

Anyway, di penghujung tulisan ini, saya ingin mengucapkan Alhamdulillah for the surprising 2011, and welcome to 2012. Bismillahirrohmanirrohiim.

Rabu, 28 Desember 2011

My love journey

Hm.. saya tiba-tiba mood untuk nulis dengan tema cinta-cintaan setelah baca tulisannya teman saya, Anggi. Jadi merefleksi sama cerita saya sendiri. Tapi saya setuju, kalau cinta itu penuh drama, meski ga segitunya kayak sinetron itu tuh yang ada mata mendelik-delik segala. Yang jelas, cinta itu.. seperti sebuah petualangan. Seru, dan kalau finally ketemu sama "the one", Insya Alloh happy ending..

Sebelum pacaran sama a yosi, saya pernah pacaran dengan beberapa orang tapi ga pernah secomplicated ini. Dulu tuh, kalo putus gampang banget. Ga ada deh cerita saya nangis bombay gara-gara cowok. Kalau ga cocok, ya udah jalanin masing-masing. Kalau si cowok ga terima, itu urusan dia. Saya bisa dengan mudahnya masuk ke dalam kost trus nonton TV dengan perasaan datar sementara si cowok masih termenung sedih di halaman depan kost *tepok jidat*.

Nah, karma saya akhirnya kejadian juga pas pacaran sama a yosi. Dikit-dikit mellow. Putus-sambung, tapi dramatis banget. Air mata dimana-mana. Hadeuh. Capek banget. Kalau dipikir-pikir, kok mau-maunya ya saya mempertahankan hubungan yang penuh drama ini, padahal a yosi ini bukan superstar atau Pangeran William. He's just an ordinary man. Bahkan kalau mau jujur, masih banyak admirer yang lebih dari dia. Tapi memang ga bisa dipungkiri kalau chemistry antara saya dan a yosi itu 'klik' banget, meski kalau ditanya disebelah mananya? saya ga bisa jawab. We are totally different. Yang satu self centered, yang satu people person. Yang satu logis, yang satunya perasa. Yang satu hobi IT, yang satu gaptek berat. *ga usah dimention ya saya yang mana, udah ketauan sendiri deh pastinya*

Tapi bener deh, rasanya nyaman banget setiap di deket a yosi. I can see future in his eyes.  *yak, ini bagian pas soundtrack lagu the way you look at me Christian Baustista berkumandang* 

Then.. this complicated relation finally turn to marriage.  Kebayang ya, kalau berdua aja siklus up and down-nya sering, ini ditambah variabel lainnya. Horor. Months before marriage is nightmare. Bukan complicated lagi deh namanya, tapi benang kusut. Kita bahkan hanya punya waktu 1-2 bulan untuk mempersiapkan pernikahan gara-gara miskom. Rasanya kayak mission impossible. Orang lain tuh nyiapin pernikahan berbulan-bulan, bahkan years. Tapi saya ga patah semangat. At that time saya berdo'a jika memang a yosi jodoh saya, mohon dimudahkan. And the impossible thing become possible :

1. Keluarga setuju akad nikah dan resepsi dipisah dengan time lag satu bulan.
Akadnya sendiri lokasinya di Garut, which is kalau keukeuh tetap di Bogor sudah jelas kita ga bakal dapet gedung, (yak, jarak lamaran and akad cuma sebulan aja dong). Alhamdulillah di Garut banyak keluarga, jadi urusan administrasi KUA, dekor sama catering ada yang support. Kalau perias, saya satu paketkan dengan perias resepsi di Bogor. Fotografer juga saya paketkan dengan resepsi, impor dari Jakarta.  Cihuy kan.

Sementara keluarga ngurus persiapan, saya tunggang langgang cari seserahan. Seru banget kejar-kejaran sama waktu. Kalo dipikir-pikir kok kayak married by accident yang semuanya serba terburu-buru. Hahaha. Demi Alloh dan Alhamdulillah engga. Ini bener-bener pure 100% miskom. Kalo ga percaya, tanya deh sama perias saya (katanya kalo udah ga suci periasnya suka kesulitan pas dandanin karena ada aja yang salah/kurang pas) atau tamu/undangan yang datang waktu akad (kalo saya masih suci katanya riasan saya akan keliatan soft, shinning (tapi bukan mengilap) trus auranya keluar). Masih ga percaya juga? Hitung aja tanggal nikah saya (28 Juni 2008) sama lahirnya Athazka (24 April 2009). Bedanya berapa bulan tuh. Loh ini kok jadi ngomongin married by accident. Hahahaha..

Anyway, dengan persiapan sebulan itu ternyata hasilnya adalah : 9 dari skala 10!
Bahagia banget semuanya lancar pas saya dan a yosi resmi jadi suami istri.

Cerita di balik layar :
- Keluarga saya dan a yosi masih percaya tanggal-tanggalan. Jadi, tanggal pernikahan kita pun dihitung-hitung berdasarkan latar belakang saya dan a yosi oleh neneknya. Keluarlah dua tanggal. Satu tanggal 28 juni, satunya lagi kapan gitu, tapi yang jelas udah masuk tahun depannya (jauh bedanya). Ya kita milih tanggal 28 Juni lah, lebih cepat lebih baik kan.

- Dua minggu sebelum hari H, bapak saya masuk RS karena sakit, dan saya jadi bolak balik bogor-garut untuk ngecek kesehatan beliau. Tokoh utama gitu loh..

- Baru-baru ini saya baru tau kalau perias saya waktu akad itu bukan perias beneran, not even asisten perias (sebelumnya saya selalu mikir dia asisten perias). Ternyata teh Dessy itu penari, dan saya adalah pengantin pertama yang dia rias alias proyek uji coba. OMG! Untung hasilnya ga mengecewakan (kalau saya bilang bagus nanti saya dikira narsis muji-muji diri sendiri). Everybody loves it, include me. Sampe sekarang mertua saya selalu rekomendasiin sanggar rias saya setiap ada sodara/kerabat/tetangga yang butuh info perias *nah kalo ini saya GR beneran*

- Mempertimbangkan efisiensi waktu, saya memutuskan untuk tidak membuat gaun/kebaya pengantin saya sendiri. Waktu itu saya ga ribet mikir gimana-gimana. Saya ga keberatan sama sekali kalau kebaya akad saya itu sewaan yang udah pernah dipakai banyak orang. Ya kan bukan kebaya yang jadi syarat sahnya nikah. Tapi, ternyata sanggar rias saya baru selesai membuat baju akad baru untuk menambah koleksinya. Model, bahan, dan kombinasi warnanya kok 'saya banget'. Kebaya asimetris warna putih dengan aksen bunga kecil warna soft pink. Pas dicoba.. ukurannya sama persis ukuran saya. Sama sekali ga ada bagian yang dipermak. Si teteh yang bantuin saya pake baju aja sampe bingung, kok bisa pas banget. Seolah-olah itu dibuat untuk saya. Satu kata aja : Alhamdulillah..

2. Keluarga setuju acara resepsi di Gedung Bupati Bogor, Komplek Pemda Cibinong.
Secara keluarga saya terlanjur membangun kerajaan di Depok dan keluarga a yosi bermarkas di Bogor, akhirnya kita pilih jalan tengahnya, yaitu di Cibinong. Yay, jadi deket rumah deh. Hoiya, urusan catering, perias, dekor, souvenir, undangan, and the bla and the blu-nya 100% by me. Serius lo? off course darling. Kan zaman sekarang udah ada banyak web yang isinya rekomendasi serba serbi pernikahan. Repot ga? Bohong banget kalo bilang engga. Pastinya jumpalitan lah. Tapi seneng, pas resepsi semuanya lancar (kecuali tamu yang membludak yang bikin saya ga sempat lap keringat, padahal kayaknya udah turun deras kayak air terjun saking kepanasan). Ratenya : 8 dari 10 lah. Worth enaugh.

Cerita di balik layar :
-   1,5 bulan sebelum resepsi, saya dikabari bahwa gedung untuk resepsi double booked. Pengelola gedung, Si capeng dan ortunya datang ke rumah saya sambil nangis-nangis minta saya mau mundurin tanggal. Bapak sih terserah saya. Ya Alloh betenya ga bisa digambarin lagi deh. Saya kan udah booked perias, catering, dekor, fotografer dan upacara adat untuk tanggal itu. Tapi ngeliat si capeng itu saya lebih kasian. Saya kan cuma resepsi, sedangkan dia akad dan resepsi. Jadi ya udah lah, saya ngalah. Yap ngalah, dengan konsekuensi saya harus kembali menghungungi percetakan untuk hold undangan saya naik cetak hari itu juga dan buru-buru ke tebet untuk merevisi tanggal undangan (ini yang paling deg-degan karena deadline cetak beberapa jam lagi), terus menghubungi semua vendor untuk ganti tanggal. Pasrah deh kalo kena pinalty atau ga dapet vendor seperti yang direncanain semula. Tapi Alloh Maha Baik, pas saya mundurin tanggal, semua vendor saya bisa dan rela ga kenain pinalti! Bahkan perias saya yang super sibuk itu pun ditanggal yang saya mundurin pas banget masih kosong. Kakak saya dulu pesan perias ini 6 bulan sebelum pernikahan and ga dapet dong. Emang ya, rejeki ga kemana..

- Meskipun kondang, perias saya ngaretnya juara. Acara mulai jam 12 siang, jam 11 siang dia baru datang. Padahal yang dirias bukan cuma pengantin, tapi keluarga dan pagar ayu juga. Bete to the max pokonya. Udah gitu tante Rina pas ngerias kayaknya salah melulu, ada aja yang ga pas. Ya eye shadownya lah, ya alisnya lah, dan terakhir bulu mata. Hadeuh Ketauan deh udah ga 100% seperti waktu akad lagi. Yah kan udah sebulan nikah ya. Tapi saya belum honeymoon loh tante, jadi masih kinclong clong deh hasil riasannya.

- Gara-gara tante Rina telat, acara jadi ngaret. Dan tamu-tamu udah membludak banget. Pas jam makan siang pula. Bener-bener terteror deh pas masuk ruangan, sekelilingnya tamu-tamu yang udah pada laper, dan masih ada upaara adat pulak. Ih rasanya pengen saya forward deh rangkaiannya itu. Alhasil, pas udah tiba giliran salaman, pagar ayu dan pagar bagus bubar jalan. Ga bisa lagi nahan lajunya orang-orang.  Kabayang kan bagaimana kabar kami yang dipanggung?

Kalau mau lengkap lihat foto-foto nikahan ada di facebook saya atau husband, atau mampir ke wedding web kami.


Ga terasa, 3,5 tahun sudah semuanya berlalu. How our marriage now? Alhamdulillah happy. Happy disini bukan berarti senang-senang-dan senang. Of course not. To see the rainbow you must enjoy the rain. Iya, pernikahan itu seperti pelangi. Indah dan warna warni. Tapi semuanya ga bisa dinikmati kalau kita ga pernah menitikkan air mata, entah itu air mata sedih, kecewa, bahagia, atau haru. Apalagi kalau udah punya anak. Saya sendiri, semenjak Athazka lahir, rasanya pelangi saya bukan lagi mejikuhibiniu. He's more that that. He makes our life start to makes sense. Semuanya jadi jelas tujuannya.

Looking back to our journey, kesan saya setelah menikah ini cuma satu : tambah dewasa. Kalo keingetan drama-drama waktu pacaran dulu rasanya malu banget. Feel dumb. Kok bisa sih mikirnya begitu. Ternyata orangtua itu bener ya. Oh kalo dinasehatin begini maksudnya itu toh, oh kalo begini nanti begitu ya. Wah, bener-bener deh, semua harus dialamin sendiri. Apalagi pas punya Atha, I know how's my mom and my mom in law feels now.

Demikian secuplik cerita cinta saya. Sekedar sharing aja. Maaf kalo agak dangdut yaa..

PS : husband, I love you more than yesterday, but less than tomorrow.

Jumat, 04 November 2011

A Walk To Remember

I love this story..
I read the book, watched the movie, enjoy the music and song..

But that is not what i'm going to tell about. It's a similar story, starring by this couple..

Let's call them Pasangan Narsis..

This couple, firstly met in 2000, but accidentally in love 6 years after. Finally they married in 2008 and since that moment, the strory of  their "walk to remember" started. The wife is a perfectionist and later found that her husband is best described as her opposites. Marriage is not always work as they wish. Rainy often comes, sometimes with thunder. But no matter how, the rainbow always heal the pain. It is sometimes pain when a great romance turn to become daily activities. It is frustating, yet memorable. They fight each day from the simplest to the bigest, but stick together happily. Maybe that what we believe as faith..

Jumat, 21 Oktober 2011

Dibalik kesusahan..

...akan selalu ada kemudahan..

It's just so true.

Setelah senewen karena visa saya tidak kunjung keluar hingga H-1 keberangkatan, finally they issued it hours before the departure time..

Deg-degan? Pastinya. Saya sudah kadung booked dan paid tiket kereta dan hotel during my stay in europe. Nyesek lah ya kalo tiba-tiba cancel. Agak bingung juga karena ini kan dinas, how come the visa is just being that long to be processed. Err..

Anyway, let's forget the nightmare and focus on what we are about to deal. It's Europe! Nothing to say but Alhamdulillah..Makasih ya Alloh untuk kesempatan ini, also thanks for allowing my husband to stay beside this clumsy woman all the way..

Do'akan ya semoga perjalanan kami lancar.I will for sure share the story of this journey, later..

Pasangan yang tengah berbahagia..


Smiley husband


Lucky wife

Note : Thanks mom for taking care my precious. I will always owe you, countless..

*tulisan di buat di executive lounge, sambil nunggu pesawat boarding*

Senin, 08 Agustus 2011

Mr. and Mrs.Tapjani

Sometimes kalau lagi merenung, saya suka bertanya dalam hati; diantara sekian banyak laki-laki di dunia kenapa saya berjodoh dengan suami saya..

Padahal, we are so different. Ih beneran deh kalau lagi bertengkar rasanya he is my greatest enemy ever! Mentok sementok-mentoknya. Ga ada cara lain selain mengalah. Tapi katanya, man is created with ego that is bigger than his heart. Iya kali yah. Cowok paling sebel sama cewek culangung. Padahal saya kan emang doyan debat. Aaaarrgghh..

Eniwei, meskipun rumahtangga kami diwarnai tidak saja dengan bunga-bunga tetapi juga huru hara,
here we are.. Mr. and Mrs.Tapjani.. and a proud parents of Athazka Ray Tapjani..

We are not perfect, but Insya Allah we are happy..



gaya feodal..

pre wed

waktu masih pacaran

Athazka's proud parents

Selasa, 28 Juni 2011

3 years already

It was June, 28th 2008..


The moment when we were comitted each other..
Happy anniversary, husband..

We start everything from nothing, from zero.
Seeing you now, seeing me now, it's clearly that this marriage grows us.

Love never fails :)

May Alloh always bless us.  Amin YRA..

Selasa, 14 Juni 2011

Silly conversation (3)

Husband : Mama, kamu maunya konsep kitchen set nanti kayak gimana?

Wife : Aku pengennya yang simpel aja. Emm, kalo bisa ada kompor gas yang ada ovennya kayak punya mamah, lengkap sama penghisap asapnya. Yah yah?

Husband : Kompor gas yang itu? kamu serius? untuk apa ma?

Wife : Ya untuk baking dong pa. Kamu kan tau aku suka banget baking. Jangan lupa loh, waktu SMA dulu itu, aku sukses loh jualan kue valentine *sombong*

Husband : Yakin ma? *nada ragu-ragu*

Wife : Yakin lah. Kayaknya memang passion aku adalah baking dan cooking. Udah kebayang nih pa mama nanti masak brownies, tart, cookies, bolu kukus. Ah pokoknya Atha bisa ga jajan deh, mama bekelin terus. Ga rugi pa, hitung-hitung investasi lah..

Husband : Masa barang begitu dibilang investasi?

Wife : Iya dong. Yang namanya perlengkapan dapur itu investasi. Dari sanalah akan tercipta makanan-makanan lezat dan sehat. Tenang aja pa, you have me. Pokonya itu alat ga akan dianggurin deh..

Husband : Aduh, istri sholehah. Papa percaya kok emang deh ga diragukan lagi passion mama memang di dapur. Ngomong-ngomong, waktu mama ulang tahun kemarin papa kasih kado Happy Call double pan kan ya? Gimana perkembangannya ma?

Wife : eh, ehehe, ehee. Happy Call ya,ehehe.. (sambil sibuk mikir dimana ya disimpannya, duh jangan ilang dong)

Husband : Mama udah bisa masak apa pake Happy Call?

Wife : ngg..nggg..emm.. telor ceplok pa..  >.< (rada ngedown)

...hening sebentar...

Husband : oh telor ceplok yang kemarin itu ya? Enak banget loh ma. Beda deh kl mama yang masak, apalagi pake happy call. Wah beneran deh, passion mama emang baking dan cooking. *menghibur wife yang ngedown*

Wife : masa sih pa? kan cuma pake minyak zaitun extra light *GR dan semangat lagi*
(wife janji dalam hati bakal berhenti meng-abuse happy call dan mulai menggunakannya untuk masakan-masakan lain yang lebih serius)


Husband : iya. pokoknya telor ceplok paling enak di dunia! *lebay*

Wife : Tuh kann. Jadi, kompor gas dan oven plus penghisap asapnya di approve dong? *ga tau diri*

Husband : .................................... *serba salah dan langsung pura-pura sibuk nelepon*

#diambil dari kisah nyata dengan beberapa penyesuaian#

Jumat, 10 Juni 2011

Ada yang tambah gemuk :p

.. dan itu bukan saya. Saya masih stabil di 157cm/53kg, langsing cenderung berisi. Thanks God that my student's weight dan shape is back :)

Setelah melewati beberapa tahapan dalam 6 bulan belakangan, my husband also gets his student's weight, tapi pas master yaa.. hahahaha..

Ini dia..


Paling ganteng ga sih? *ya eyalah, secara saingannya cuma sama bapak yang lebih tua itu*


Lebarnya yang paling kiri itu.. mantep deh (makan tempat maksudnya, hehe)

Anyway, selamat ya husband.. for getting that weight. As you always said : six pack is good, but six fat is even better :)

Tapi saya maunya langsing terus dong, biar ga keliatan ibu-ibu banget.. hihihihi..

Kiss..kiss.. 

Rabu, 01 Juni 2011

Yin dan Yang

Saya baru selesai membaca tulisan teman saya, Mita, yang -seperti biasa- inspiratif. (Kapan ya saya bisa punya blog yang isinya ilmiah dan ga narsis? Ayu, ayo kita selesaikan misi kita). Saya jadi merenung sendiri. Allah Maha Besar, diciptakannya manusia dengan tipikalitas yang secara fitrah memang berbeda. Tapi ketika dua manusia menjadi satu, perbedaan ini malah justru saling melengkapi dan menyeimbangkan kehidupan. Seperti yin dan yang.

Filosofi yin dan yang ini juga yang mungkin tepat untuk menjelaskan the perfectly imperfect marriage. Kata siapa menikah itu isinya happy dan happy saja. Kata siapa perjalanannya hanya akan mulus dan mulus. Kata siapa grafiknya hanya up dan up? Ketika dua manusia yang secara fitrah berbeda, ditambah dengan latar belakang keluarga, budaya, atau pendidikan yang juga beda, sudah pasti ketika mereka menjadi satu, tantangan pergolakan akan ada. Naturally.

Saya sendiri sebagai seorang individu, saya merasa diri saya cukup easy going. Saya dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara. Saya tegas, tetapi hanya untuk hal-hal yang menyentuh area privacy saya, selebihnya bisa dikatakan zone of tolerance saya hampir tidak berbatas. Buktinya, saya punya banyak lingkaran pergaulan dan juga terafiliasi dengan beberapa komunitas. But when it comes to marriage...

...Saya menjadi kebanyakan ibu-ibu lainnya. Saya suka ngomel. Dan jiwa perfeksionis saya begitu tersiksa melihat banyak 'kengasalan' kelakuan laki-laki. Mereka ternyata suka sekali menaruh handuk di kasur (yang membuat kasur saya jadi lembab dan kadang berjamur), lupa tanggal-tanggal penting, pacaran sama handphone kalau diajak shopping, sembarangan meletakan benda, suka lupa menutup toilet, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang membuat saya tanpa sadar jadi hobi ngomel-ngomel. Arrgggh it's so not me.  

Tapi setelah membaca tulisan Mita, saya tersadar bahwa I'm just being normal. 20.000 kata sehari loh patokannnya.. :)

Saya terkadang mereview kenapa saya yang cenderung pendiem ini jadi suka ngomel. Mungkin karena saya begitu menyayangi suami saya (husband, note this) sehingga saya ingin suami saya berperilaku tertib. Itu kan untuk kebaikannya sendiri? defense mode :on

Alih-alih merubah kengasalannya, suami saya lebih cenderung menerima dengan pasrah omelan saya. Maybe that's the best he can do. Merubah kengasalan laki-laki mungkin sama halnya dengan merubah jati diri. Akhir percakapan, saya malah suka tertawa sendiri melihat kepasrahan dia. He just can't stop do those -annoying me- things for this reason : I'm just being normal, every man does :)

Oke, sepertinya saya ya yang harus melonggarkan sedikit standar ketertiban saya untuk suami saya. See, pernikahan adalah proses pembelajaran. Atau mungkin itulah mengapa Allah mempertemukan saya yang perfeksionis dengan suami saya yang ngasal? Kami seperti yin dan yang. Komposisi kami naturally akan saling melengkapi. Hmm.. kalau saya pikir-pikir, suami saya ini seperti antitesa saya, tapi setelah menikah dengannya saya justru banyak tertawa..

Mungkin benar, kami seperti yin dan yang..  :)

Yes, there are lots of tears, but the smiles and laughs are even more..

Senin, 09 Mei 2011

Happy Birthday, husband!

Happy Birthday, husband..

Wish you health and happiness.
Thanks for everything.
There are times when I feel worse about you, but now I know why He send me you : to balance my life.

I laugh a lot now..

PS : jangan jahil lagi yaa..

Rabu, 04 Mei 2011

Silly Coversation (2)

Suatu siang di sebuah perkantoran di Jakarta, telp berbunyi..

Wife : Hallo, selamat siang?
Husband : Selamat siang bu. Dengan Ibu Rika Mustika sari bisa?
Wife : Iya saya, ada yang dapat saya bantu pak?
Husband : Saya dari asuransi xxx, ingin menawarkan beberapa program. Siapa tau Ibu berminat?
Wife : (ih bo'ong banget agen asuransi masa tau nomor ekstensi gw di kantor. Biasanya juga hp. Ini pasti laki gw deh *mengendus ketidakberesan*)

Wife : Maaf, Bapak tau nomor ekstensi saya dari mana?
Husband : Dari suami ibu. Ganteng ya bu?
Wife : (*sigh* tuh kan..)

Wife : Maaf ya pak, saya ga berminat. Suami saya ganteng? Bapak salah liat kali. Biasa-biasa aja kok. Malahan kata orang saya itu nginjek kodok dapet dia. (Wakakaka, suer deh narsis banget, siapa suruh kegantengan?). Oya, maaf saya ada meeting. Lain kali hubungi suami saya saja ya pak.
Telpon pun ditutup.

Beberapa saat kemudian. BB berbunyi..
Husband : Ping!
Wife : Yaaaa?
Husband: Emang iya ya kamu dibilang nginjek kodok?
Wife: Hahahaha! Sensi amat. Engga lah. Lagian pengen dibilang ganteng. Maaf ya sayang..
Husband : Tar puljamber?
Wife: Semoga nyandak kereta 17.18, kalo engga ya 17.37. Biasa ya, gerbong nomor 2 dari depan. c u..
Husband : Oke, see u.

Beberapa hari kemudian. Telp di kantor kembali berbunyi :
Husband: Halo, selamat pagi.. eh siang.. eh pagi. Dengan Ibu rika mustika sari bisa?
Wife :(yaah.. baru mulai udah ketauan deh bo'ongnya. Masa keseleo gitu pagi, siang, pagi. Cuek ah, banyak kerjaan nih)
Wife : Pak, sekarang itu sudah sore eh siang eh pagi ya.. eh.. aduh maaf saya harus meeting sekarang. Kalau ada yang penting ke hp saja ya pak, pasti tau dong. Ekstensi nomor saya saja tau, masa hp engga.
Telponpun ditutup..

Beberapa saat kemudian, husband menelepon wife, wife yang sedang menghadap bos tidak sempat mengangkat telp husband. Wife pun menelepon balik husband, namun maibox. Wife menyimpulkan telponnya bertabrakan dengan telp husband. Wife memutuskan untuk berhenti menelepon dan memberi kesempatan supaya telp husband masuk.

Sambil menunggu telp husband, wife mulai berkonsentrasi dengan komputernya (sambil sesekali buka gosip, maklum wife adalah multitasking woman *alesan*). Tidak lama kemudian, hp wife berbunyi. Wife yang percaya diri itu adalah telp husband langsung mengangkat telp tanpa melihat caller Id penelepon.

(dikira) Husband : Halo selamat siang, dengan Ibu Rika Mustika Sari benar?
Wife : (Ya elah, udah lewat hp masih aja maen agen-agenan. jabanin ah, pengen tau sampe mana dia kuat nahan ketawa).
Wife : Iya saya, pak. Ada yang bisa saya bantu?
(dikira) Husband : Saya mau menawarkan salah satu program bank kami, bu?
Wife: Bapak pasti mau nawarin kartu kredit ya.. (nada ceria)
(dikira) Husband : Kok ibu tau?
Wife : (haha, tau dong. I know you so well dear. let's continue). Tau dong pak. Apa sih yang saya ga tau? saya gitu loh..
(dikira) Husband : Oh begitu ya bu? (nadanya ragu, sedikit hening)
Wife : Pastinyaaa. Eh, coba deh dibuka detikhot. Lagi ada gosip saya loh disana. Ssst.. tp jangan sampai penyamaran saya terbongkar yaa..
(dikira) Husband : de..tiik.. hot??? (nada bingung)
Wife : Iya detikhot! Ga usah pura-pura bingung gitu deh. Ada berita tentang Katie Holmes loh. It's me! Ups, jangan kekencengan ah ngomongnya tar ketauan deh penyamaran saya. (wife nyerocos kepedean karena pernah dibilang mirip dengan Katie Holmes)
(dikira) Husband : Katie Holmes? (tambah bingung)
Wife : Iya, masih ga jelas?
(dikira) Husband : Maaf bu, saya syaiful dari Bank Mega..
Hening...
Wife langsung mengecek caller id penelepon dan menemukan nomor baru di layarnya, jelas itu bukan nomor husband..
Wife: ......................................... (Boleh ga terjun dari lantai 5?aaarrrgggghhhhh)

Wife merasa amat sangat malu dan spontan mengakhiri pembicaraan begitu saja. Dan sejak saat itu wife sedikit trauma jika melintasi Bank Mega. Husband yang mengetahui cerita ini merasa menang, dan memutuskan untuk terus mengerjai wife. 

Hingga saat ini husband dan wife masih sering terlibat percakapan ala agen-agenan. Bedanya, wife lebih waspada, salah satunya dengan selalu melihat pada caller Id penelepon. Namun, disisi lain, husband terus mencari akal untuk bisa mengelabui wife..

Yes, we're silly couple..

#diambil dari kisah nyata#

Senin, 18 April 2011

Silly Conversation (1)

Berikut adalah secuplik kisah nyata yang diambil dari sisi lain kehidupan rumahtangga kami..

Percakapan 1 (via bbm)

Husband : Ping!
Wife : Ya pa?
Husband : Mama, tolong kirimin aku pulsa 25 ribu sekarang. Urgent
Wife : (wah kasian suami gw, masa pulsa 25 ribu aja ga punya. turun bentar ah ke ATM beli pulsa)

Husband : tolong ya ma, penting!
Wife : (Aduh, iya..iya .. cepetan ah turun. Wait a minute, kayaknya ada yang aneh deh. Masa suami gw minta pulsa sih?Tumben amat. Wah, jangan-jangan bb-nya ilang nih, diambil orang. Tapi kl diambil, kok dia tau gw istrinya, kan di bb-list dia namanya Icha Tapjani. Namanya dia Yosi doang. Harusnya ga connect nih. Ah gw dikerjain ini mah. Pasti deh akal-akalan laki gw minta perhatian *sigh*)

Wife : Papa, is it really you?
Husband : Iya ini aku
Wife : Papa beneran ga punya pulsa? Aku takut bb kamu ilang
Husband : Hahahahaah! Got u. Eehhehe, aku cuma ngetes aja sih..
Wife : Arrrrggghhh.. tau ga sih aku lagi rempong! aku sih ga percaya kamu ga punya pulsa (ga mau ngaku), tapi aku khawatir bb kamu ilang (ngeles). errrr...

Beberapa jam kemudian..

Husband : Ping!
Wife : Ya sayang?
Husband: Mama dimana?
Wife : Di stasiun tanah abang, kenapa?
Husband : Beliin tiket dong. Aku ga punya duit.
Wife : (hahaha, dipikir gw bego apa. masa iya sih dikerjain dua kali berturut-turut dalam sehari kena terus. cuek aja ah.)

Husband: Mama, udah dibeliin kan tiketnya?
Wife : Engga, aku cuma beli satu, weeek. Masa sih aku ga belajar dari kesalahan yang tadi. dududu
Husband : Tapi aku beneran ga punya duit
Wife : Ga mungkin
Husband : Mamaaa... aku tadi bayar bla..bla..bla.. sekarang uang di dompetku tinggal xxx USD, itu juga sangu ke KL besok.
Wife : Jadi papa beneran ga punya rupiah? (mulai kasihan)
Husband : iya ma. tolong yah.
Wife : ATM pa? (mulai cari solusi)
Husband : Yang rupiah kan kebawa kamu kemarin pulang dari Majestyk kamu yang ambilin ke ATM sebelahnya. Sekarang aku cuma pegang yg rek dollar. Repot ma kl aku tarik tunai disini. Kena dua kali kurs karena beda bank. Udah gitu antri lagi.
Wife : Tapi sekarang aku udah di dalam kereta daaann...ng..ng.. udah jalan pa.. (mulai merasa bersalah)
Husband : Terus gimana dong..
Wife : ........ (speechless)

moral of the story : mungkin sekali-kali perlu belajar ilmu dukun supaya bisa bedain mana yang ngerjain mana yang beneran.. *sigh*

Kamis, 14 April 2011

After wedding session

Gara-gara melihat foto prewedding seorang sahabat, saya jadi bernostalgia dengan foto-foto serupa milik saya dan suami. Bedanya, kami melakukan sesi foto tersebut setelah akad nikah. Lokasinya pun tidak jauh-jauh, yaitu di rumah saya sendiri di Garut. Ide yang sederhana, persiapan yang sederhana, dan hasilnya....

artistik

 


 








Dan yang menjadi favorit saya adalah yang  dibawah ini. Ekspresi kebahagiaan kami as a newly wed is been captured so well..


Oya, foto ini juga belum di edit sama mas fotografernya. Saya lupa karena setelah akad saya sibuk mempersiapkan acara resepsi bulan depannya. Padahal kalau di edit mungkin lebih bagus yaa..


 
#sorry narsis#

Senin, 07 Maret 2011

Atha Berkebun

Athazka sedang lucu-lucunya. Semakin hari semakin pintar dan eksploratif. I always count the day to meet weekend. Play with him is always worth to wait for.

Putera saya yang lucu ini amat menggemari sesuatu yang berhubungan dengan air. Salah satunya menyiram tanaman. He's such an expert. I think he loves to garden. Menurun dari aki sepertinya :)

Menyiapkan selang terlebih dahulu


 Ya, airnya sudah keluar. Mata mulai inspeksi ke sekeliling taman sambil mulai menyiram.

Yes, he looks like an expert :)

Selasa, 01 Maret 2011

Athazka's best daddy (Part II)

Ini dia lanjutan dari postingan kemarin (yang saya posting dengan tergesa-gesa, seperti biasa berkejaran dengan jadwal kereta). Kebetulan saya memiliki banyak koleksi foto keluarga. Dan edisi kali ini temanya adalah ayah. Kenapa? Selain saya sedang berusaha untuk mengurangi kenarsisan dalam blog ini (yang sudah kadung dicurigai oleh sahabat saya, masayu, dalam komentarnya di postingan part I, hehe) saya ingin memberikan apresiasi kepada suami saya dan semoga menginspirasi ayah-ayah lainnya untuk turut berperan aktif dalam pengasuhan anak. Saya meyakini bahwa ayah memiliki peran yang sama besarnya dengan ibu. Go daddy !

Suami saya seorang maskulin, dan ini merupakan tantangan besar bagi saya untuk melibatkannya dalam pengasuhan Athazka. A bit frustating awalnya, tetapi seiring berjalannya waktu, saya melihat perkembangan yang luar biasa. Beruntungnya saya :)


Nonton Upin Ipin sambil nunggu mama pulang dinas


Nunggu mama siap-siap ke pesta, maen komputer dulu sama papa (abis itu gantian papa yang siap-siap)


Papa Atha, Om kesayangan Kayla

Kecapean maen, trus tidur


Kl naik mobil, maunya nyetir sama Papa (kl sama mama, wajahnya tegang, boro-boro mau ikut nimbrung *sigh*)

kompak garuk-garuk

Kecapean maen (lagi), trus tidur..

Belajar naek kereta ^_^

Mimi susu sama Papa..


Papa sama wa yogi kok mirip yah..


Abis cek sikon stasiun, pulangnya naik becak :)


 Sebelum bobo, dibacain buku cerita. Kali ini sama Papa..

Senin, 28 Februari 2011

Athazka's best daddy (Part I)














He may not the best daddy in this world. But I know for sure, that he is the best Daddy for Athazka.

I hope our son will look at your good value, pa. He adores you so much, as you love him.

Really happy to have you both in my life :)

Selasa, 01 Februari 2011

Saatnya meredam ego

Ritualku setiap pagi dalam perjalanan menuju kantor adalah browsing. Berkeliaran di blog-blog milik sahabat serta kerabat, googling issue-issue yang kadang pop-up di kepala begitu saja, otak-atik facebook, chatting via bbm atau ym dan tentu saja mengupdate gosip-gosip di http://detikhot.com/.

Thanks to bb, my best time and pain (karena kadang sikon kereta menyebalkan) killer.

Hasil blogwalking pagi ini mengantarkanku pada artikel ini . Dear all new mom, should read this. It's really good (aku memang menggemari artikel yang bertemakan parenting).

As a human, tentu aku dipenuhi oleh banyak keinginan dan cita-cita. Aku ingin menjadi Ibu yang baik untuk Athazka, aku ingin menjadi istri yang sholehah untuk aa yosi, aku ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan mertua, aku ingin menjadi saudara yang baik, or in short, aku ingin memiliki kesempurnaan dalam kehidupan domestikku. Sisi Passiva.

Tidak cukup sampai disitu, si manusia egois ini masih memiliki setumpuk keinginan-keinginan lainnya. Aku ingin sukses dalam karir, aku ingin mapan secara materi, aku ingin self aktualisasiku terpenuhi. Sisi Aktiva.

Alloh Maha Segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada do'a yang tidak terkabul. Tetapi tentu tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak terjadi tanpa alasan. Bahkan ketika, misalnya, kita memenangkan undian alphard, tentu hal itu pun bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Aku meyakini bahwa selalu ada pesan-Nya dibalik semua hal yang terjadi dalam hidup ini.

Back to the artikel. Pagi ini, rasanya Alloh mengingatkanku mengenai prioritas hidup dan setumpuk keinginan-keinginan kemaruk-ku yang perlu dibenahi.

Di awal tulisan, aku menyebutkan bahwa keinginanku yang pertama kusebutkan adalah menjadi ibu yang baik untuk Athazka. Lalu aku mulai berintrospeksi. Apa sajakah yang telah kulakukan untuknya? untuk orang yang katanya menempati prioritas pertama dalam hidupku.

Tanpa aku sadari, aku terlalu sibuk membagi peranku dan memaksakan porsi idealnya sesuai keinginanku. Aku memang menyusuinya selama 2 tahun, tetapi terkadang saat menyusui aku suka melamun memikirkan banyak hal. Terkadang kala tubuh ini sudah sedemikian letihnya menghabiskan berjam-jam di kantor, aku menyusui sambil tertidur lelap. Rasanya bounding yang aku bentuk dengan Athazka kurang optimal karena aku terlalu sibuk membagi peranku.

Perkembangan Athazka sendiri hingga saat ini dapat dikatakan sangat baik. Secara fisik dan mental, dia tumbuh sesuai usianya. Untuk beberapa tahap bahkan melebihi kapasitas yang seharusnya. As a parents, tentu aku bahagia. Secara teoritis, kebutuhan afeksi Atha telah terpenuhi dengan baik. Tetapi tetap saja rasanya belum puas, karena Atha melewati periode emasnya dengan kondisi ibu yang masih amat egois. Beruntung aku dikelilingi oleh sanak saudara yang secara tidak langsung berkontribusi terhadap kebutuhan afeksi Atha.

Sampai tahap ini, aku mungkin masih bisa bernafas lega, tetapi mengingat di tahap berikutnya tantangan yang akan dihadapi oleh Atha akan semakin kompleks, rasanya satu-persatu keinginanku harus mulai dibenahi untuk dapat fokus mengawal putraku menjadi pribadi yang kokoh sekaligus menyenangkan. Tidak bisa lagi aku memikirkan segala keinginanku beserta tetek bengeknya itu. Apalagi untuk mewujudkan semuanya dalam satu waktu. Menyeimbangkan sisi aktiva dan pasiva sekaligus. Hey, laporan keuangan pun memiliki jeda waktu bagi sisi aktiva dan pasiva untuk seimbang, apalagi ini hidupku.

Lalu aku mulai berpikir tentang multiplier effect yang akan terjadi jika aku berfokus pada perkembangan Atha. He is my bigest invest. Aku harus mengoreksi ulang tentang definisi kesuksesan. Betul aku menginginkan untuk memiliki karir yang cemerlang dan pendapatan yang memungkinkanku berinvestasi dimana-mana, namun takaran kebahagiaan kala mencapai semuanya tentu tetap tidak seimbang jika dibandingkan dengan memiliki anak yang sholeh. Bukankah salah satu amalan yang tidak akan putus di dunia adalah do'a anak sholeh?

Secara kasat mata pun, coba bayangkan, apakah bisa menikmati semua kemewahan dunia dengan hubungan antara ibu dan anak yang berjarak?

Aku tidak ingin mengulangi penyesalan dan sungguh aku ingin belajar untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Tidak lagi egois.

Athazka adalah amanah. Maka, tanggungjawab terbesarku (dan aa yosi) adalah membesarkannya.

Aku memang membutuhkan sarana lain untuk pengembangan aktualisasi diri. Tetapi  itu tidak boleh menghilangkan tanggungjawabku sebagai ibu.  Aku harus dapat mencurahkan seluruh energi dan stamina yang prima saat bersama Atha, seperti halnya saat aku bekerja di kantor. Aku harusfokus pada tahap-tahap perkembangannya seperti halnya saat aku berfokus pada costumerku. Mungkin lebih.

Jadi, bagaimana jika aku mengerucutkan semua keinginan dan prioritasku menjadi:
Athazka, Aa then Career?

Oya, aku juga menata ulang definisi kesuksesan menjadi: Health and Happiness.

Semoga Alloh selalu membimbingku. Amin.

Rabu, 29 Desember 2010

Beautiful Marriage

Marriage, a never ending school..

Pernikahan adalah proses dua menjadi satu. Tetapi bagiku, itu bukan berarti hanya "aku dan kamu". Sedari awal aku sadar bahwa "aku" berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda dengan "kamu". Saat aku memilih suamiku, itu berarti aku telah siap menerima dengan segala konsekuensinya, termasuk menerima keluarganya untuk menjadi keluargaku. Menghargai value keluarganya sebagaimana aku menginginkan value keluargaku dihargai oleh suami. Aku tidak hendak memaksa untuk  membentuknya menjadi seseorang yang aku inginkan, karena aku pun tidak menginginkan hal serupa menimpaku. Bukankah lebih menyenangkan untuk tetap menjadi diri sendiri dan dicintai sepenuh hati?

Saat aku memutuskan untuk menikah, aku tidak hendak memisahkannya dari keluarga besarnya, karena aku pun tidak hendak dianggap sebagai entitas yang terpisah dari keluargaku. Hubungan orangtua-anak, serta kakak-adik tidak boleh terputus hanya karena pernikahan. Dari pemikiran itulah sejak awal hubungan aku selalu mencamkan betapa pentingnya penerimaan yang baik dari kedua belah pihak keluarga besar. Dimana bumi di pijak, disitulah langit dijunjung. Sebelum resmi menjadi anggota keluarga, pantang bagiku untuk menuntut macam-macam dari (calon) suami dan apalagi keluarganya. Pada waktu itu, aku selalu merasa bahwa orang yang paling berhak atas (calon) suamiku adalah keluarganya, terutama ibunya. Aku hanya seorang pacar yang baru mengenalnya selama 8 tahun, tidak ada apa-apanya dibandingkan ibu yang telah melahirkannya, ayah yang telah menyekolahkannya, serta kakak dan adiknya yang telah berbagi kasih sayang dengannya selama 25 tahun.

Aku bersyukur, amat bersyukur karena aku memulai proses pembentukan keluargaku dengan -Alhamdulillah- wajar. Pada saat memutuskan untuk menikah, usiaku dan suami sudah cukup umur, kami telah bekerja, sifat pekerjaanku memungkinkanku untuk berumahtangga (tidak ada ikatan dinas atau larangan untuk hamil dan semacamnya), serta keluarga besar kami merestui. Tidak ada alasan lain selain ibadah. Friksi kecil memang ada. Maklum, di Indonesia, pernikahan juga berarti menyatukan dua keluarga besar. Ada banyak pendapat, pertanyaan, ide, dan demand-demand lain yang membuat darah ini naik ke otak. Alhamdulillah semua hanya masalah kecil, bukan sesuatu yang prinsipal apalagi skandal. Aku meyakini bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan baik-baik akan membuahkan hasil yang baik-baik pula. 

Sekarang usia pernikahanku genap 2,5 tahun. Masih amat baru. Perjalanan masih panjang. Kami masih kerap berbeda pendapat, masih suka bertengkar untuk hal-hal yang sepele, dan masih dalam proses mengendalikan ego. Pernikahanku masih penuh gejolak, tetapi itulah yang membuatnya sempurna.

Aku dan suami sepakat untuk selalu mengedepankan kejujuran karena rumah tangga bukan panggung sandiwara. Aku selalu menceritakan masalahku pada suamiku, dari yang besar hingga yang ecek-ecek, beserta detailnya. Tidak ada satu hal pun yang kulakukan tanpa sepengetahuan suami. Begitupun sebaliknya. Belakangan aku baru menyadari keuntungannya saat beberapa waktu lalu seseorang mengadukanku pada suamiku atas hal yang dirasakannya satu pihak dan mengakitkannya dengan masalah yang tidak ada relevansinya sama sekali. Suamiku sendiri menanggapinya dengan tersenyum dan memintaku untuk banyak beristighfar dan bersabar. Tidak perlu ditanggapi. Secara kasat mata, tidak perlu ilmu khusus untuk menilai kualitas orang yang mengadukan istri pada suaminya sendiri. Lagipula, apapun yang aku rasakan tidak sebanding dengan rasa malu yang dia tanggung.

Anyway, aku bersyukur meski kerap diwarnai dengan perbedaan pendapat, meski masih ada benturan ego, pernikahanku cukup membahagiakan. Saat aku terluka, Alloh selalu menumbuhkan rasa cinta yang lebih besar dari kekecewaanku. Saat aku menangis, Alloh selalu mengganti tiap tetes air mataku dengan gelak tawa dengan jumlah yang berlipat-lipat di hari yang lainnya. Saat aku frustasi, Alloh selalu mengingatkanku bahwa suamiku adalah orang pilihanku sendiri, yang aku terima lamarannya dengan sadar, dan aku ikhlaskan untuk menjadi suamiku. Apalagi kini kami telah memiliki Athazka yang semakin hari semakin lucu. Rasanya aku tidak berhak lagi untuk mengeluh.

Terima kasih ya Alloh. Janji-Mu tidak pernah ingkar. Bahwa hidup bersama laki-laki pilihanku dalam koridor yang telah Kau halalkan adalah nikmat yang tak terkira. Alhamdulillah.