Berbunga-bunga itu adalah..
..ketika pulang dating dengan husband, pegangan tangan di dalam taksi, lalu membicarakan tentang our love journey.
I asked him, how and when he realized that he loves me. He answered : I know from the first time we met that you and me, it's just a matter of time. I love you since we were in the highschool. * he kiss my hand*
I just smile at him that time. Just a simple smile. Tapi dalam hati sebetulnya berbunga-bunga karena ternyata he is the one who crushed on me first. Hihihi. I was wrong this far. I thought I love him first. Ternyata...
Hihihi.
Sesuatu banget deh.
Ok, this is stupid. Just call me lebay. Siapa juga yang bisa memverifikasi gombalan husband. It could be a white lie, but that's okay. He's just trying to make me happy.
And I love being berbunga-bunga anyway :)
PS : Nice answer husband. Kalau ada mata kuliah merayu, husband dapet A+++ deh.
Senin, 16 Juli 2012
Rabu, 11 Juli 2012
Hari Krida
Definisi hari krida yang sebenarnya : Hari untuk berlatih keterampilan, olahraga, kerajinan tangan, kesenian, dsb.
Definisi hari krida saya : Hari yang bisa santai-santai di kantor :)
Misalnya hari ini, hari Pilkada DKI Jakarta dimana hampir semua kantor instansi pemerintahan libur, kantor saya tetap masuk. Ciyeh, nasionalisme banget. Tapi pegawai yang mau menggunakan hak pilihnya tetap diberikan dispensasi absen pagi. Terus yang bukan warga DKI gimana dong? jawabannya : tetap masuk jack! Hiks *tertunduk lesu*
Yah, alhasil jadilah hari ini hari krida. Atasan, peer, sampai staff pada nyoblos, trus saya ngapain dong? Mau ngemall juga kepagian. Ya akhirnya ngeblog aja deh ya. Sekalian updating lately kemarin ngapain aja.
Well, this week is still a busy week. Kerjaan di kantor lagi lumayan banyak. Dan entah kenapa badan saya semingguan kemarin itu rasanya lelah banget. After singapore trip itu saya memang lanjut shopping rally di Jakarta great sale. Kelarin semua urusan persiapan lebaran dari Atha, husband, mama papa, kakak, adik, keponakan, mertua sampai adik ipar semua beres. Si fitri juga. Tinggal keperluan saya aja yang belum. Gampang lah itu mah. Bisa di sela-sela waktu istirahat hari jum'at. Huehehe.
Kenapa dibela-belain belinya sekarang? Bukan apa-apa, selain mumpung banyak sale, kalau pas ramadhan saya nyerah deh belanja belanji. Dimana-mana penuh. Lagian billing kartu kerditnya juga baru muncul belakangan, bisa langsung dilunasin nanti kalo THR turun. Ya kan? Ini masalah strategi aja sih kalau menurut saya.
Tapi jujur, shopping is always reliefing. Capek tapi bahagia.
Nah, setelah kelar urusan shopping, sungkem deh sama orangtua sekalian minta maaf sebelum masuk ramadhan. Secara jarak, yang paling memungkinkan adalah ketemu mertua dulu di bogor minggu awal Juli. Setelah itu, gantian deh sungkem ke orang tua di Garut minggu lalu. Eh ternyata ada acara lamaran adik saya. Sekalian deh. Abis itu, kondangan ke kawinan sahabatnya husband di Bandung. Wow. Acara padat merayap. Cuti deh saya sehari.
Pulang dari Garut-Bandung, ada jadwal parents meeting di Pratiwi Pre-school dan Initial day di Qonita. Hayah, cuti lagi saya senin kemarin. Anter si bocah belajar ngaji di Qonita, abis itu ke Pratiwi urus administrasi, daftar anter jemput, bayar buku, seragam dan snack. Setelah itu lanjut belanja mingguan (sayur, daging, dll) di the foodhall Depok.
I feel like a useful engine judulnya :)
Saya baru masuk kantor hari selasa kemarin. Lalu hari ini hari krida. Jadi setelah hectic day berlalu, mari santai-santai dulu. Jakarta Great Sale masih sampai tanggal 14 Juli. *maksud?*
Selasa, 03 Juli 2012
Kok kerja? (update)
Setelah sekian lama, akhirnya saya pingin nyampah lagi di blog. Tiba-tiba kepikiran pingin nulis tema working mom lagi. Sampai sekarang dan entah sampai kapan issue ini akan jadi hot topics.
Suka heran deh. Kan manusia itu beda-beda. Bisa ga sih saling menghargai aja. Toh diantara semua perbedaan, benang merahnya ada kok : kita semua pingin hidup bahagia, selamat dunia akhirat. Ya kan?
Saya suka dengan timeline teman saya yang kurang lebih bilang bahwa mau bekerja atau di rumah, yang membedakan seorang ibu dengan yang lainnya hanya keberadaan fisik saja. Kalau kadar cinta mah, pasti sama. Langsung saya retweet. Setuju banget. Sungguh jahat orang yang berkomentar ibu bekerja itu ibu yang egois. Oh C'mon. Lo punya alat apa gitu yang bisa ngukur kadar cinta orang lain sama anaknya, dan yakin banget kalo rasa sayang lo udah pasti lebih besar daripada orang lain hanya karena lo di rumah dan dia kerja?
Dasar resek ih. Cih.
Atau, di lain waktu, ada juga yang mengkait-kaitkan dengan kodrat. Ya Alloh, tahun 2012 masih ada aja ya yang belum bisa membedakan apa itu kodrat. Kodrat perempuan itu tuh ya : punya rahim, punya payudara, mengalami menstruasi, dan hal-hal given semacam itu. Masalah kerja atau engga, itu balik lagi ke kondisi rumahtangga dan tentunya orang itu sendiri. Gemes banget kalau masih ada aja yang nyinyir berkodrat-kodrat ria. Hih.
Perempuan kerja lari dari kodrat? sebelah mananya?
Gw kerja tapi gw tetep punya anak, menyusui anak gw juga, mengurus suami gw juga kok. Masalahnya definisi mengurus suami dan anak itu yang ga sama. Suami gw sendiri ga masalah dengan definisi 'mengurus keluarga' ala gw. Toh gw juga ga pernah ngeribetin dia sama urusan cuci baju, masak, nyapu, ngepel dan pekerjaan domestik lainnya, (meskipun kalau dia mau involve sampai kesitu gw akan sangat terharu juga sih). So, gw cukup disupport untuk kerja daripada stay di rumah tapi sibuk sirikin orang dan ngerongrongin suami.
Jadi kalo masih ada yang ngomong gitu sih, saya suka mengibur diri dengan menganggap : Kalo yang ngomong cowok, mungkin dia ini kuper atau ga pede punya istri kerja kali, jadi justifikasinya kesana. Kalo yang komen cewek, pilihannya antara kurang wawasan atau iri. Deep down insidenya pengen juga tuh padahal nyobain gegayaan pake blazer, heels,meeting dengan kece, atau mininal dandannya ga cuman buat foto-foto naris doang lah. hihihi. Ih kok jadi ikutan nyinyir gini sih. Skip.
Eh tapi yah, sesungguhnya, bohong banget kalo saya ga kepikiran untuk stay at home. Itu pencitraan doang. Gini-gini, jiwa saya tetaplah jiwa emak-emak. Pasti pingin lah ngikutin tumbuh kembang anak dengan mata kepala sendiri. Terus kenapa sampe sekarang masih kerja?
Ngg, agak ribet dan panjang penjelasannya. Semua ga semata karena actualizations needs. Dulu sebelum menikah, iya banget saya perlu aktualisasi diri secara temen-temen semua udah duluan kerja di tempat yang bonafid. Gengsi juga kan. Tapi, setelah menikah, orientasi berubah. Aktualisasi diri ga sampe segitunya. Apalagi setelah menikah, selang sebulan, saya langsung hamil. Ostosmastis dong yang ada dipikiran nomor 1 adalah anak.
Sejak itu, saya mulai deh ribet tarik-tarikan antara mau lanjut berkarir atau stop. Kalo kata atasan saya yang sudah puluhan tahun kerja, katanya biasa itu kalo perempuan kerja pengen berhenti. Gubraknya, ucapan itu keluar dari ibu bos dengan pangkat tertinggi di kantor. Beliau berhasil melewati masa-masa itu dengan baik. Tapi dulu, ternyata sama aja ya, perempuan dimana-mana juaranya galau.
Jadi gini, pertimbangan saya sendiri kenapa masih lanjut adalah karena situasi dan kondisi rumah tangga saya masih memungkinkan untuk itu. Selain itu, kalau di lihat dari fasilitas remunerasi kantor, masih sayang untuk dilepas. Apalagi anak dan suami juga ditanggung. Double protection kan jadinya, bisa ke kantor suami atau ke kantor saya. Saya ga tau umur saya, saya juga ga tau apa yang akan terjadi di depan, yang bisa saya lakukan adalah mempersiapkan yang terbaik untuk keluarga saya, terutama anak, jika something happen with me or husband. Bukan ga percaya sama Alloh, tapi masak salah sih kalau kita mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin? Alloh juga ga pingin kan kita cuma ongkang-ongkang terus sim salabim apa yang kita mau tiba-tiba terwujud. Harus ikhtiar dong ya..
I don't say that stay at home itu ongkang-ongkang, No. Saya juga tau gimana capeknya mengurus rumathangga, anak, suami dan hal-hal domestik lainnya. Sama, those activities are also time consuming and exhausting. I really put my appreciation on that. It is also part of ikhtiar. Tapi kembali lagi ke situasi dan kondisi rumah tangga masing-masing. For now, it's just not applicable in mine. Entah nanti.
Balik lagi ke alasan kenapa masih kerja, bagi saya ini juga bisa jadi salah satu wujud syukur saya. Sungguh saya bersyukur diberikan Alloh banyak kemampuan, lalu ketika saya mewujudkan rasa syukur saya dengan berusaha mengotimalkannya dengan berkontribusi untuk negara, apa itu salah? mudah-mudahan engga ya, karena sebelum saya mendedikasikan diri saya untuk skala yang lebih sekunder, saya pastikan dulu skala primer saya, which is anak dan suami, terpenuhi dengan baik. For this, I thank you so much for my family for being around and makes everything possible.
Alasan lain yang juga klise adalah orangtua saya. Saya masih ingat, waktu pertama kali saya diterima di tempat kerja saya sekarang, yang menitikan air mata haru adalah ayah dan ibu saya. They are so proud. Maklum, riwayat keluarga saya PNS. Yah pokonya jadi birokrat buat mereka itu cool banget deh. Padahal at that time saya keterima juga di Conoco Phillips Indonesia. Alhasil begitu pengumuman BI keluar, contract Conoco yang udah tinggal sign langsung di lepas. Kalo dilihat dari sisi carier path maupun salary sih maybe masih bagus Conoco yah, secara multinational oil company gitu. Tapi rasa bangga orangtua saya itu ga sebanding dengan materi. Bok, I'm include the 200 of 30.000 peserta seleksi waktu itu. Merinding deh kalo ingat itu.
Jadi, untuk semua pengorbanan tulus Bapak Mamah, apapun akan saya lakukan. Ini jadi bukan lagi sekedar materi, tapi bagaimana caranya menggantikan rasa bangga dan bahagia orangtua saya?
Mungkin karena ridho orangtua, dan ridho suami juga sampai saat ini saya masih bisa menjalankan dua-duanya. Karir dan keluarga. Alhamdulillah banget. Sungguh saya bersyukur. Meski bukan tanpa kekurangan, rumahtangga maupun kehidupan berkarir saya baik-baik saja.
Meski begitu, jika nanti saya benar-benar dihadapkan dengan situasi deadlock dimana saya harus memilih, karir atau keluarga (misalnya kalo husband masuk deplu dan dapet penempatan luar negeri dan sebagai istri diplomat saya harus ikut), tentu saya pilih keluarga. Setinggi-tingginya cita-cita saya, tetap ujung-ujungnya keluarga.
Sementara ini, karena situasi masih mendukung, saya jalani peran saya sebaik-baiknya. Jadi, sungguh, saya ga perlu lagi di judge atau dinyinyirin macam-macam ya dengan pilihan saya ini. Toh jika memang yang terbaik adalah stay at home, saya juga ga menutup diri kan. Saya percaya semua ada waktunya. Lagian, semakin kita nyinyir sama pilihan orang lain, sesungguhnya semakin kita menampakan betapa rendahnya kelas kita. Kan katanya, when you judge someone, you don't define them, you define your self. Betul banget itu.
Saya juga percaya teori kebalikan. Yaitu ketika kita koar-koar bangga dengan pilihan kita dengan cara menyudutkan orang yang tidak sama dengan kita, itu sebenernya menunjukkan betapa insecure-nya diri kita. Bilang bangga ini itu, bahagia bisa begini begitu, padahal di dalemnya membara dan penuh kegamangan, do you really happy? If you do happy, you don't need people recognizition of your happiness. Penting banget kah pengakuan orang kalo kita bahagia? Happiness is in within, isn't?
Jadi inget film sex and the city (lupa season berapa, pokonya yang episode ke abu dhabi), Carry pernah mengajukan sama suaminya tentang me time. Jadi untuk menghilangkan kebosanan, si carry ini mau tinggal di apartemen lamanya sebulan sekali. Nah ide ini terus di nyinyirin sama temennya yang full house wife. Kok udah nikah masih perlu me time segala. Dia sendiri udah punya dua toddlers dan ngakunya bahagia selalu tanpa me time.Beberapa saat mereka jadi renggang gara-gara beda pendapat. Tapi, at the end of the movie, tau siapa yang ada di apartemen itu untuk me time? yes, itu si ibu yang tadi nganggap ide me time egois. Hahaha, malah dia kemakan omongannya ya.
So, jalani hidup biasa-biasa aja lah. Banyak bersyukur dan stop judging people. Stop being nyiyir juga. I mean it. Hidup itu berputar, kawan. Just be good, karena kita ga tau kapan ada di atas, kapan ada di bawah. Iya ga?
Senin, 02 Juli 2012
Friends, you're mean a lot
Barusan nengokin my wedding blog disini dan baca guest booknya. Alhasil, saya jadi senyum-senyum sendiri. Our friends are just so funny. Thanks guys, your words is so entertaining. Kalau lagi down, baca tulisan-tulisan mereka itu menghibur banget. Sometimes mengembalikan semangat yang mulai kendor.
Saat saya menikah dulu teman-teman mendo'akan saya dan suami bisa membentuk keluarga yang samarra.
Well, we are still working on it :)
Kamis, 28 Juni 2012
4th Anniversary
Ga terasa moment-moment ini..
deg-degan pas ijab kabul
Ijab kabul
.. dan beberapa ritual adat setelahnya ini..
Upacara adat - suapan mama
Upacara adat : suap-suapan
Upacara adat : bakakak hayam
Upacara adat : Makan ayam berdua
Upacara adat : minum silang
Upacara adat : Masukin lidi ke kendi
Upacara adat : Pecah kendi
Upacara adat : Injak telur
Upacara adat : Sawer
sudah terjadi 4 tahun yang lalu..
Happy 4 th anniversary husband. Semoga kita bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain dengan lebih baik ya..
I wish we can stick together just like this
.. and I always care of you from the first moment..
Smile never fail
Rabu, 27 Juni 2012
Ngidam
Saya ga hamil, tapi saya sungguh ngidam tas ini..
Tan Leather Bag
Warna kuningnya
Dari deket
Penampakan kalau dipake
Ini tasnya clarks. Aduh keren banget yaaa. Sungguh ngidam..
Jumat, 22 Juni 2012
My Beauty Kit
Saya bukan tukang dandan. Ga bisa dandan juga, kecuali yang standar-standar. Ehm, tapi bukan aliran naturalis yang kemana-mana ga pake make-up sama sekali. Ada lah saat-saat dimana saya ga mau dandan(misalnya kalo ke giant, pizza hut atau tempat lain yang masih deket rumah), tapi ga melulu begitu. Ada kalanya juga saya sadar diri untuk tampil kece (yang beberapa kali pernah berakhir dengan dimintain foto bareng sama orang yang ga saya kenal. Ini kayak bobodoran, tapi serius kejadian). Kenapa? Karena wajah saya kalau ga dandan samsek itu kayak luna maya ga dandan. No, maksudnya bukan saya mirip luna maya (ge-er amat), tapi cekungan dibawah mata itu agak gimana gitu kalau ga ditutup foundation. Kehitam-hitaman. Ga seger deh pokonya.
Jadi, on ocassions, pasti lah saya bermake-up juga. Waktu kawinan adik ipar saya kemarin aja saya dandan sendiri (kecuali jilbab do). Tapi jangan harap penampakan saya kalau pas bermake-up akan seperti syahrini. Jauh. Saya ga bisa dandan secanggih itu.
Pada dasarnya saya wajah saya termasuk friendly untuk brand apapun. Alhamdulillah ga alergian. So, apa ajakah isi dari beauty kit saya? Ini dia..
Mac studio sculpt NC 37
(karena ini water resistant, jadi dipakenya kalo lagi ga sholat atau pas kondangan)
Mac studio fix foundation
(kalau yang ini untuk sehari-hari karena teksurnya lebih ringan)
Mac Studio Fix Compact Powder NC 35
(coveringnya bagus dan halus banget. )
The Face shop powder pact RB 35
(Baru hari ini saya coba gara-gara bedak mac pecah dan belum gajian. Hehe. Saya pilih face shop berdasarkan saran dari sini )
Bobbi Brown gel eyeliner
(ini juga dipakenya kalo ga sholat/ kondangan aja. water resistant juga)
Mac eye brush
(ini untuk pake eyeliner bobbi brown. waktu itu bobbi habis, ganti mac deh)
Stylo, eyeliner dari Oriflame
(Nah ini favorit eyeliner saya sehari-hari. User friendly banget)
Bobbi brown blush on Nectar 11
(katanya ini best seller mereka. Pas warnanya di kulit saya. Jarang dipake kecuali acara-acara penting. Sayang :p)
Bronzing pearls Oriflame
(Ini andalan saya sejak zaman kuliah. Love it so much)
Body shop brush
(ini brush untuk pake bronze/blush on)
Bodyshop lipstik No.63, 55, 7 dan 14
Lalu, mana eyeshadow? Hehe, ternyata di beauty kit saya memang ga ada eye shadow. Selain ga ahli pake eye shadow, saya juga ga pede juga pake eyeshadow kemana-mana. Jadi untuk eyeshadow saya simpan di rumah dan khusus dipake disaat-saat penting aja. Eyeshadow saya sendiri kebanyakan oriflame, maybelline, dan pac.
Oya, tujuan saya dandan sih pertama untuk kenyamanan diri saya sendiri, yang kedua baru untuk suami. Ngapain juga maksain dandan kalo ga nyaman. Iya ga?
Langganan:
Postingan (Atom)




























