Rabu, 09 November 2011

Europe Trip : Paris (Part II)

Lanjut postingan tentang paris yaa..

Day 3 (25 Oktober 2011)
Akhirnya sampai juga deh di hari dimana saya dan suami punya jadwal yang terpisah. Saya sudah mulai kursus nih. Tapi saya tetap seneng karena bisa dapet kesempatan untuk kenalan sama temen-temen dari negara lain. Kursus saya sendiri diadakan oleh Euromoney Financial Training, venue-nya di Hotel Millenium Opera, Paris. Tetanggaan hotel dengan penginapan saya. Alhamdulillah walking distance paling cuma 2 menitan. Oya, Millenium terletak di Bulevard Haussmann, salah satu jalan utama tertua di Paris. Konon, Haussmann adalah nama arsitek kota Paris yang pertama kali membuat subway. Angkat topi deh untuk beliau. Pemikirannya bener-bener forward looking. Oya, subway di Perancis pertama kali dibuka tahun 1900. Ga heran ya sekarang tata kotanya udah mantap banget dengan 14 line subway yang bisa menghubungkan seluruh kota Paris. Mantaap..

Hari pertama kursus saya berembug dengan peserta lain tentang pengaturan jadwal dan akhirnya sepakatlah bahwa kursus di mulai jam 09.00 s.d 17.00. Huff, sisa waktu saya untuk jalan-jalan jadi sedikit nih. Akhirnya setelah berdiskusi dengan husband, diputuskan bahwa hari ini kita hanya akan ke Gallery Lafayette dan sekitaran Opera/Haussmann (rute ringan di sekitaran hotel aja karena kemarin kami baru bercapek-capek ria di Eiffel), besok ke museum Louvre (karena hari rabu Louvre buka sampai jam 21.00), kamis keliling Paris dengan Seine Cruise, Jum'at siap-siap ke Roma. Ah semangaaatt..

I have to told you that, even hari pertama saya 'cuma' jalan-jalan di area sekitaran hotel, wow, setiap sudut di kota ini bener-bener punya pesona yang selaluu aja membuat saya kagum. Mereka bisa ya merawat gedung yang usianya ratusan tahun (even ada yang ribuan) dengan kondisi yang ga jauh berubah (atau bahkan ga berubah sama sekali) dengan bangunan asalnya. They really put high attention on history..


Gedung Opera Garnier yang megah


Sisi lain gedung Opera

Tempat pertunjukkan balet


Yosi for Apple (I-Phone) 4S

Gallery Lafayette

Ada yang menarik waktu shopping di Gallery lafayette. Katanya, Gallery Lafayette kan salah satu leading store di Paris yah, wujudnya pun amat sangat keren bak shopping di dalam istana, brand yang dijual pun keren semua (Channel, Dior, LV, you named it), tapiii.. mereka tutup jam 8 malem aja sodara-sodara! Huaa. Sebagai shopping girl metropolitan, saya shock. Padahal maghrib aja jam 1/2 7 (berarti jam segitu baru gelap kan). Acara belanja jadi ga seru ah. Saya lagi enak-enak pilih parfum, udah ada pengumuman toko mau ditutup. Buru-buru deh kita ke bagian tax refund. Untung aja masih sempet kebeli tas longchamp (yang pas mau masuk tokonya aja antri mengular), sama beberapa titipan mertua dan atasan. Keluar dari Gallery Lafayette saya berharap toko-toko di sekitaran Haussmann masih buka. Ternyata engga. Hiks. Buyar acara belanja..

Day 4 (26 Oktober 2011)

Yes, kursus selesai ontime. Saya pun bergegas ke hotel untuk sholat, nyemil-nyemil dikit, naruh diktat, and ganti sepatu crocs andalan (biarin deh dibilang kurang gaya karena pake teplek juga, so what?). Saya semangat banget karena sebagai pembaca buku Da Vinci Code, pastinya penasaran dong gimana dalemnya museum terbaik di dunia itu. Sempet keingetan mba Meidi deh, ini habitatnya banget nih..

Dari hotel kita naik Metro (masih trauma jalan kaki di Belgia). Rada manja sih karena ga terlalu jauh sebenernya. Husband  sudah survey tadi siang sekalian beli tiket dan mumpung ikutan fee walking tour juga. Bener aja, ga sampe 5 menit kita udah nyampe di stasiun metro terdekat dari Louvre (lupa namanya, Concorde kalo ga salah). Ternyata, stasiun itu ada di sekitaran Place de la concorde. Salah satu situs wisata juga. Konon, Raja Louis XVI dan Istrinya Maria Antoinette di eksekusi dengan Guillotine di area ini. Oya, di ujung Place de la Concorde inilah terletak Champs Elysees yang juga sekaligus menghubungkan area Concorde dengan Arc de Triomphe yang terkenal itu.. (maaf tidak sempat mengambil foto Champ Elysees dan Arc de Triomphe karena sibuk celingak celinguk)
Place De La Concorde (keliatan eiffelnya dari sini)


Di tengah place de la concorde, ada obelisk hadiah dari pemerintah Mesir ratusan tahun yang lalu

Museum Louvre sendiri letaknya ga terlalu jauh dari Place De La Concorde. Walking distance hanya 5 menit, dan sepanjang jalan menuju Louvre itu adalah taman yang indaaahh banget. Nuansa Eropa yang romantis dapet banget di taman ini. Senengnya jalan berduaan husband disini, pas senja lagi.. uhuy..


Nuansa Eropa banget ya..


Indahnya..


Couple yang lagi pacaran di taman (abis itu gantian saya dan husband, wkwkwk)


Ini landmark tamannya Louvre. Unik yaa..

Berfoto dengan background Louvre..

Hokeh, sekarang cerita tentang Louvre ya. Hmm.. ternyata mau masuk muesum ini antrinya ga kalah sama Eiffel. Tapi karena husband tersayang tadi siang udah beliin tiket (kiss kiss husband), jadi saya ga pake antri langsung masuk lewat jalur VIP. Yay!

Pintu masuknya Louvre seperti yang saya banyangkan waktu baca Da Vinci Code. Keren bangeeetttt...


Ini dia Piramid Louvre (pintu masuk)

Di dalam Piramid..

Kesan saya di Louvre : It's just too good to be true. Koleksinya, bangunannya, city view dari jendelanya.. hmm.. saya seperti diajak ke negeri dongeng dimana saya berperan jadi putri raja. Bangunan Louvre sempat dijadikan tempat tinggal keluarga kerajaan saat istana Basteille di bangun. Makanya desain interiornya pun bener-bener seperti istana. Dan luasnya.. wow.. saking luasnya saya nyerah untuk menjelajahi semua. Ga kuat. Menurut literatur, diperlukan 7 hari 7 malam tanpa makan dan buang air untuk bisa menikmati seluruh koleksi Louvre (itu pun dengan perhitungan setiap lukisan 30 detik). Tapi, saya tentu sempatkan melihat lukisan Leonardo Da Vinci yang terkenal itu dong : Mona Lisa (hehe, sebenernya agak kecewa karena ternyata Mona Lisa itu ga se-grand yang saya pikir. Ga terlalu besar ya ternyata).


Di Louvre juga banyak karya seni seperti ini..


Mona Lisa yang asli..


Atap Louvre yang mewah..

Atap di sisi lain Louvre, tetap mewah bak istana..

Koleksi Louvre berpadu dengan dinding yang klasik dan glamor

Salah satu ruang pameran Louvre. Saya menebak dulunya ini mungkin ruang makan kerajaan ya..

Pulang dari Louvre hari udah gelap. Kali ini saya diajak jalan kaki sama husband lewat jalur yang tadi dia lalui waktu walking tour. Ada beberapa kawasan yang ingin husband tunjukkan, diantaranya sebuah distrik ekskusif termahal di Paris. Disana hanya ada 3 penghuni, diantaranya Coco Channel, Sultan Hasanal Bolkiah dan satu lagi saya lupa. Oya disanalah juga terletak hotel mewah Ritz Carlton Paris. beberapa blok dari sana, terletak toko-toko dari High-end brand (kalo ngaku/merasa tajir, hayo coba belanja disini).  Kata guide, kalau berkeliaran di daerah ini (apalagi kalau masuk ke hotel/toko), harus well dressed. Standar Paris, well dressed itu yang keformal-formalan gitu. Hmm, pantes ya dari tadi saya ga lihat orang yang pakaiannya aneh-aneh atau mencolok. Yang cowok : sewater/coat+polo shirt/kemeja+ jeans, yang cewek : dress+ longcoat+ boots tinggi+ syal. Musim dingin juga kali yah..

Sepanjang jalan dari Louvre menuju Haussmann, saya melewati beberapa pub dan pertokoan. Sayang sungguh sayang, mereka semua tutup (yap, berarti memang shopping time selesai jam 8 malam). Tapi sempet nengok satu toko kosmetik Sephora yang ada diujung Haussmann..


Sephora di ujung Haussmann
Wah, sepertinya postingan saya tentang paris masih harus bersambung nih. Saya masih punya cerita tentang Seine Cruise dan Eiffel at night. Next Post yaa..

Selasa, 08 November 2011

Europe Trip : Paris (Part I)

PARIS (23- 28 Oktober 2011)


The Eiffel Tower

Paris.. !!!! Woohoo.. 

Kata orang, 'gong'-nya eropa itu Paris. Alhamdulillah, kesampaian juga saya ke Paris. Rasanya kayak mimpi, soalnya Paris indah banget. Alhamdulillahnya lagi, saya stay cukup lama di Paris, jadi cukup puas menjelajahi kota ini (meski kayaknya ga akan pernah ada kata puas untuk menjelajah Paris).  Karena banyaknya tempat yang saya kunjungi, maka khusus untuk postingan Paris saya buat dalam 2 bagian yang disusun berdasarkan aktivitas saya per harinya di Paris.

Day 1 (23 Oktober 2011)
Saya akhirnya sampai juga di terminal bus Eurolines Paris jam 10 malam. Delay sejam karena macet pas mau keluar Belgia karena ada kecelakaan. Ngantuk, letih plus roaming bahasa membuat bawaan saya pengen cepet-cepet naik taksi ke hotel. Tapi bukan penggemar Tintin namanya kalau ga suka berpetualang. Yap, husband tetep keukeuh nyoba naik subway meski kita ga tau lagi ada dimana and harus naik apa. Sebagai istri sholehah (padahal lagi males berdebat aja), akhirnya saya pasrah nungguin husband buka peta, cari telpon umum untuk nelp hotel, coba-coba mesin tiket subway (yang setelannya of course bahasa Perancis dong), dan berusaha membaca petunjuk arah dengan naluri commuter kita. Tentu semua aktivitas mondar mandir itu sambil geret-geret koper gede yang berat. Naik turun tangga subway pula. Seru deh.


Di stasiun subway (metro)

Metronya dataaanng..

Dari terminal Eurolines itu ternyata kita harus ganti 2 line Metro. Pertama turun di Republique, trus sambung line ke menuju Richilieu Drout (jangan tanya betapa ribetnya mengkonfirmasi pelafalan nama jalan ini sama orang hotel, yang ditulis apa dibaca apa. hahaha). Ternyata naik subway itu efisien banget. 20 menitan kemudian sampe juga ke Hotel Le Pelletier Haussman Opera, Paris.

Hotel tempat kami menginap

Alhamdulillah, once again dapet hotel yang lokasinya juara banget. Bener-bener di tengah kota lagi. Kemana-mana tinggal jalan. Kalaupun males, bisa naik metro dan rata-rata ke tujuan wisata (kayak Eiffel dan Louvre) ga sampe 10 menit  Ah beruntungnya. Hotel saya sendiri hanya hotel bintang 2 (beberapa review bilangnya bintang 3) tapi cukup nyaman dan "Paris banget". Pokoknya pas paginya bangun tidur terus nengok ke balkon mungil, saya merinding sendiri karena.. this is Paris and it looks like what it should. Very beautiful..
 
Day 2 (24 Oktober 2011)
Alhamdulillah, hari ketiga di eropa saya udah ga jetlag lagi. Bangun sudah normal jam 5 pagi. Masih gelap banget. Subuh di Paris baru mulai jam 1/2 7. Jam 1/2 9 saya mulai keliling cari sarapan. Niat makan yang banyak karena hari ini jadwalnya adalah... Tour the Eiffel!

Sebagaimana turis lain, pastinya kalau ke Paris tapi ga main ke Eiffel rasanya ga lengkap. Maka, berhubung kursus saya dimulai tanggal 25 s.d 28 oktober, dan saya belum tau jadwalnya start dan end time-nya, ketika punya sehari lebih yang bisa dimanfaatkan, Eiffel jadi tujuan saya. Takutnya besok-besok ga nyandak.. 


Di depan Eiffel..

Saya putuskan untuk menggunakan Metro untuk ke Eiffel. Kaki saya masih pegal luar biasa gara-gara overdosis jalan waktu di Belgia. Saya berhenti di stasiun Trocadero, and you know what, ternyata Trocadero itu adalah the best place to view the Eiffel. Alhamdulillah banget, padahal ga sengaja.

At the first time saya melihat Eiffel, subhanallah.. it's Grand and very beautiful. Ga bisa dilukiskan deh. Kebetulan juga cuacanya cerah. Jadi perpaduan warna langit, hijaunya taman, birunya sungai Seine, dan megahnya Eiffel itu terekspose dengan optimal.

Saya dan suami mulai mengantri untuk naik ke puncak Eiffel. Ya Allah, antrinya sampe mengular. Huaa. Sekitar 1,5 s.d 2 jam lah waktu untuk mengantri sampai bisa naik ke Eiffel. But it's all worth..


Pemandangan dari atas Eiffel
(ini bukan fotoshop ngambil dari web mana gitu loh. Swear it looks this beautiful)


Masih dari sisi lain di Eiffel


Seine dari atas Eiffel


Trocadero..


Windy banget di atas..

The sky is just so perfect, isn't?

Oya, saya sebetulnya naik sampai puncak Eiffel cuma tidak sempat berfoto karena tempatnya kecil. Di puncak Eiffel terdapat berbagai gambar bendera negara-negara di dunia dan nama ibukotanya beserta keterangan jaraknya dari Eiffel. Ada Jakarta juga loh. Jadi keingetan Athazka waktu itu. Kalau ingat jarak antara saya dan putera saya bikin mellow..

Turun dari Eiffel (sampai tahap 1, saya lanjut pakai tangga karena lift antri), saya sempatkan berfoto di taman yang cantik banget. Mungkin itulah taman terindah yang pernah saya lihat seumur hidup saya..


Tamannya indah banget kan?

Jadi tambah indah karena ada husband (haiyah, mulai dangdut)

Sore hari kami kembali ke Hotel dan mulai hunting makanan idaman orang indonesia : Nasi! Sejak di Belanda saya belum makan nasi, hiks rasanya sengsara banget. Yah, maklum yah namanya juga Neng Iteung saban Paris.. huakakaka..

Alhamdulillah ketemu juga tempat makan yang jual nasi. since that moment on, saya jadi pelanggan tetap mereka. Thanks Sushi Folies!

Resto Andalan : Sushi Folies!


Nasi Andalan..



Senin, 07 November 2011

Europe trip : Brussels


BRUSSELS (23 Oktober 2011)

 Manneken Piss, Icon Belgia..

Finally.. It's Brussels.. our dream city to live..

Hari kedua di Eropa jetlag saya belum hilang. Semalam saya tidur jam 8, bangun jam 3 pagi dan stay on sampai di Belgia. Saya naik kereta Thalys jam 08.00 dari Amsterdam Centraal yang tujuannya sampai Paris Nord, tetapi saya turun di Bruxels Midi. Perjalanan sekitar 1,5 jam. Saya dan suami ga mau melewatkan negara impian kami ini.


Oya, suami juga penggemar Tintin, rasanya ga mungkin escape dari Brussels yaa, kota Tintin. Meski begitu, saya ga menjadwalkan banyak waktu disini karena saya concern juga dengan jadwal kursus di Paris. Saya ga bisa terlalu lelah juga kan. Jadi cukup 6 jam aja and then go to Paris. Beruntungnya selama di Brussels, ada teman yang mau jadi tour guide (Thanks ya Mutia and Fajar), jadi ga pake acara nyasar. Maklum, di Brussels ini cuma ada 2 bahasa : Belanda dan Perancis which is saya atau suami ga menguasai dua-duanya (janji deh nanti kalau kesampaian tinggal di Brussels bakal kursus bahasa perancis dan belanda).

 Ini dia oleh-oleh foto dari Brussels


Pasangan narsis di dalam kereta Thalys dari Amsterdam ke Brussels. Keretanya oke banget.


Di stasiun Bruxels Midi. Poster Tintin dimana-mana. My husband looks so happy, doesn't he?


Sampe Brussels, ada orang Indonesia lagi yang mau motoin kita..


Di depan gedung stock exchange. Keren deh..

Salah satu bangunan megah di Grand Place, salah satu alun-alun termegah di Eropa..


Di depan Brussels Town Hall. Subhanallah cantiknyaa..


Tintin everywhere. Bener-bener kebanggaannya orang Belgia..


Di depan Mannekin Piss


Di depan Toko Gobelin Art. Saya belanja lukisan bordir khas Belgia (Thanks to Mutia untuk rekomendasinya)


Jalan-jalan di shopping hall. Dulunya punya kerajaan Belgia. Keren banget. Atapnya tertutup loh.


Dream come true : ke museum Tintin!


Bersama lukisan foto pengarang cerita Tintin..


Di depan museum komik..


Berfoto di taman gereja tua menuju stasiun. Indah banget..

Oya, saya dan suami juga sempet nyicipin wafel khas Belgia di salah satu toko tertua. Rasanya? selangiiit enaknya. Renyah, lembut dan paduan manis gurihnya pas. Juara deh. Waktu di Amsterdam juga makan wafel tapi ga yang seenak Brussels punya. Yah, namanya juga otentik Brussels yah. Resep asli pasti mak nyuss yaa..

Di area shopping hall ini, saya juga sempatkan belanja oleh-oleh cokelat untuk kolega di kantor dan keluarga. Kayaknya salah satu otentik belgia juga ya cokelat ini. Yang jual banyaak banget. Untungnya ada tour guide ya, jadi dipilihin yang enak deh. Siip..

Satu lagi yang ga terlupakan dari Belgia : Jalan kakinya, ya Alloh.. kalau bisa dititip, rasanya pengen nitip kaki bentaar aja. Dasar manusia kurang olahraga, jalan kaki jauh gini udah gempor. Eh tapi, Alhamdulillah ga ada acara sesak nafas. Cuma cenut-cenut aja di betis sampe telapak kaki. Iri berat liat Mutia yang masih santai aja tuh dengan heels 5-7 cmnya itu. Katanya, kl tinggal di Brussels (and mostly european cities) ya memang harus kuat jalan kaki. Hokeeh, mari kita latihan jalan di Indonesia, biar kalo kesampean tinggal disini bisa tetep gaya kayak Mutia..

Beres acara shopping and jalan-jalan, saya bergegas ke stasiun Brussels Midi. Harusnya Bus Eurolines tujuan Paris saya tersedia disitu, cuma karena hari itu ada Market Day, area busnya dipindah ke Stasiun Brussels Nord. Hadeu, abis ambil luggage di loker stasiun Brussels Midi, kita naik subway ke Brussels Nord. Rasanya pertolongan Mutia and Fajar tu really-really like angel. Ga kebayang ya mondar mandir kayak gitu kalau kita ga ngerti bahasanya. Alhamdulilah nyandak naik bus jam 17.00 waktu setempat menuju Paris.. my romantic city..

Kesimpulan tentang Brussels : Tertib, formal, lega (jalanan di Brussels jauh lebih lega dibanding amsterdam), romantis, warm. Hmm.. selama ga ada kendala bahasa, kayaknya untuk orang yang ga terlalu suka kota yang hiruk pikuk seperti saya, Brussels cocok banget untuk dijadiin tempat tinggal, atau tempat untuk menghabiskan sisa pensiun... *colek-colek husband*